Keadaan darurat yang mengancam nyawa bisa terjadi sewaktu-waktu dan di mana pun. Kondisi ini memerlukan bantuan hidup dasar. Bantuan hidup dasar adalah usaha untuk mempertahankan kehidupan saat penderita mengalami keadaan yang mengancam nyawa.
Melakukan bantuan ini kita tidak mempergunakan cairan, obat ataupun terapi kejut listrik. Bantuan Hidup Dasar atau yang disingkat BHD ini harus dapat dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat dan tidak terbatas kepada petugas paramedik atau tim medis.
Ketika melaksanakan BHD ini kita berpacu dengan waktu, sebab korban yang akan kita tolong dalam keadaan terancam nyawanya. Oleh karena itu, pertolongan pertama yang dilakukan oleh penolong yang pertama kali melihat korban sangat dibutuhkan sebelum paramedis atau tim medis tiba di lapangan. Jadi, jangan lagi beranggapan bahwa dalam melakukan pertolongan kita berprinsip bagaimana caranya membawa korban segera ke RS, tetapi bagaimana caranya kita mempertahankan jiwa korban tersebut sampai bantuan lebih lanjut datang.
1. Tujuan dari BHD ini adalah untuk:
2. Menyelamatkan jiwa penderita.
3. Mencegah cacat.
4. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan.
Waktu sangat penting dalam melakukan bantuan hidup dasar. Otak dan jantung bila tidak mendapat oksigen lebih dari 8 – 10 menit akan mengalami kematian, sehingga korban tersebut dapat mati. Dalam istilah kedokteran dikenal dua istilah untuk mati, mati klinis dan mati biologis.
Mati klinis memiliki pengertian bahwa pada saat melakukan pemeriksaan penderita, penolong tidak menemukan adanya pernapasan dan denyut nadi yang berarti sistem pernapasan dan sistem peredaran darah berhenti. Pada beberapa keadaan, penanganan yang baik masih memberikan kesempatan kedua sistem tersebut berfungsi kembali.
Penderita mengalami henti napas dan henti jantung mempunyai harapan hidup lebih baik jika semua langkah dalam rantai penyelamatan dilakukan bersamaan. Rantai ini diperkenalkan oleh American Heart Association (AHA) yang mempunyai empat rantai sebagai berikut:
1. Kecepatan dalam permintaan bantuan.
2. Resusitasi Jantung Paru.
3. Defibrilasi (dilakukan oleh tenaga medis terlatih dengan peralatan khusus).
4. Pertolongan hidup lanjut (di RS, seperti Advance Cardiac Life Support).
Bantuan Hidup Dasar merupakan beberapa cara sederhana yang dapat mempertahankan hidup seseorang untuk sementara. Intinya adalah bagaimana menguasai dan membebaskan jalan napas, bagaimana membantu mengalirkan darah ke tempat yang penting dalam tubuh, sehingga pasokan oksigen ke otak terjaga untuk mencegah terjadinya kematian sel otak.
Untuk memudahkan mengingat, maka saya berikan suatu akronim K – R – A – B – C:
K: Keamanan
R: Respons
A: Airway (saluran napas)
B: Breathing (pernapasan)
C: Circulation
Sistem sirkulasi adalah sistem yang bertugas mendistribusikan oksigen dan bahan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh. Komponen yang berhubungan dengan sistem sirkulasi adalah jantung, pembuluh darah, darah dan bagian-bagiannya. Jantung berfungsi memompa darah dan kerjanya sangat berhubungan erat dengan sistem respirasi. Jantung dapat berhenti bekerja karena :
a. Penyakit jantung
b. Gangguan pernafasan
c. Syok
d. Komplikasi penyakit lain
1. Penguasaan jalan nafas (Airway control)
a. Pemeriksaan Jalan Nafas
Periksalah jalan nafas penderita, jalan nafas yang terbuka dengan baik dan bersih sangat diperlukan untuk pernafasan. Apabila dalam jalan nafas terdapat kotoran atau benda asing yang mengganggu jalan pernafasan dapat dilakukan sapuan jari caranya :
a. Balikkan penderita pada samping
b. Buka mulut penderita dan lihat kedalam
c. Masukkan jari telunjuk kedalam mulut penderita melalui pipi bagian dalam sampai bagian geraham yang paling belakang. Bentuk jari seperti kait lalu upayakan pengambilan benda yang menyumbat atau yang mengganggu jalan pernafasan. Pada anak dan bayi digunakan kelingking dan dilakukan hanya bila bendanya terlihat.
b.Sumbatan
Secara umum sumbatan jalan nafas dapat terjadi baik pada jalan nafas bagian atas yang meliputi mulut, hidung sampai ke bagian larings maupun jalan nafas bagian bawah yang terdiri dari bronkus sampai saluran paru-paru. Sumbatan pada jalan nafas bagian bawah terjadi melalui terhirup. Sumbatan jalan nafas pada orang sadar umumnya karena makanan, sedangkan pada orang yang tidak ada respon adalah lidah yang jatuh ke belakang.
Sumbatan yang terjadi dapat bersifat total atau sebagian. Pada sumbatan total, penderita akan sulit bernafas dan akhirnya kehilangan kesadaran. Dalam keadaan sehari-hari sering dijumpai adalah tersedak yang memiliki ciri khas yang terkesan mencekik leher sendiri dengan kedua tangannya. Sedangkan sumbatan parsial ditandai dengan upaya untuk bernafas dan mungkin disertai bunyi nafas tambahan misalnya mengi, ngorok dll. Pada sumbatan parsial mungkin tidak diperlukan tindakan khusus, walaupun penderita harus cepat dibawa ke RS karena jika kesulitan ini berkepanjangan dapat menimbulkan kegagalan pernafasan. Oleh sebab itu jangan meninggalkan penderita yang mengalami sumbatan benda asing sebagian.
Tindakan khusus untuk sumbatan total dikenal dengan perasat Heimlich (Heimlich Maneuver). Perasat ini pada dasarnya adalah hentakan perut, namun dalam pelaksanaannya dapat dilakukan beberapa variasi :
* Hentakan-perut pada penderita yang ada responnya
• Penolong berdiri di belakang pasien, posisikan tangan penolong memeluk di atas perut melalui ketiak penderita
• Sisi genggaman tangan penolong diletakkan di atas perut penderita tepat pada pertengahan antar pusar dan batas pertemuan iga kiri dan kanan.
• Letakkan tangan lain penolong diatas genggaman pertama lalu hentakkan penolong kearah belakang dan atas, posisi kedua siku penolong ke arah luar, lakukan hentakan sambil meminta pasien membantu memuntahkannya.
• Lakukan berulang-ulang sampai berhasil atau korban menjadi tidak respon
* Hentakan perut- pada penderita tidak ada respon,
• Baringkan penderita dalam posisi terlentang
• Upayakan memberikan pernafasan buatan bila gagal upayakan perbaikan posisi dan coba ulangi pemberian nafas bantuan. Bila gagal
• Berjongkoklah di atas paha penderita dan tempatkan tumit tangan sedikit di atas pusat tepat pada garis tengah antara pusat dan pertemuan rusuk kiri dan kanan.
• Lakukan hentakan perut kearah atas
• Periksa mulut penderita dan lakukan sapuan jari.
• Bila belum berhasil ulangi berulang-ulang sampai jalan nafas terbuka
* Hentakan dada pada penderita yang kegemukan atau wanita hamil yang ada respon
• Berdirilah dibelakang penderita, lengan memeluk penderita melalui bawah ketiak di bagian dada.
• Posisikan tangan membentuk kepalan seperti pada hentakan perut tepat di atas pertengahan tulang dada.
• Lakukan hentakan dada
• Lanjutkan sampai jalan nafas terbuka atau penderita menjadi tidak sadar.
* Hentakan dada pada penderita yang kegemukan atau wanita hamil yang tidak respon
• Baringkan penderita dalam posisi terlentang
• Upayakan memberikan pernafasan buatan bila gagal upayakan perbaikan posisi dan coba ulangi pemberian nafas bantuan. Bila gagal
• Posisi penolong dari samping penderita dan letak tumit tangan pada pertengahan tulang dada
• Lakukan hentakan perut kearah atas
• Periksa mulut penderita dan lakukan sapuan jari.
• Bila belum berhasil ulangi berulang-ulang sampai jalan nafas terbuka
Beberapa cara untuk membebaskan jalan nafas pada bayi :
a. Ada respon :
• Pastikan penderita mengalami sumbatan jalan nafas total.
• Posisikan penderita pada satu lengan penolong, wajah mengarah ke bawah, kepala lebih rendah dari tubuh. Topanglah bagian kepala dengan jari penderita pada daerah rahang.
• Lakukan 5 kali pukulan punggung, gunakan tumit tangan diantara kedua tulang belikat. Bila belum keluar balikkan penderita, kepala tetap lebih rendah.
• Lakukan 5 kali hentakan dada, gunakan jari tengah dan jari manis pada perrtengahan garis tengah tulang dada tepat di bawah garis khayal penghubung puting susu kiri dan kanan.
• Lakukan berulang-ulang tindakan di atas sampai korban tidak respon atau sumbatan teratasi.
b. Tidak ada respon :
• Pastikan penderita tidak respon.
• Buka jalan nafas dan berikan pernafasan buatan, bila belum masuk coba perbaiki posisi kepala.
• Lakukan 5 kali pukulan punggung dan 5 kali hentakan dada.
• Buka mulut penderita dan lihat apakah ada benda asing jika memungkingkan tarik keluar dengan perasat pengangkatan rahang dan lidah.
• Ulangi langkah tersebut sampai jalan nafas terbuka.
Tanda-tanda dari penderita yang tidak bernafas antara lain :
* Tidak ada gerakan dada atau perut.
* Tidak terdengar aliran udara melalui mulut atau hidung
* Tidak terasa hembusan nafas dari mulut atau hidung
2. Teknik pemberian pernafasan buatan :
* Nilai respon korban, jika perlu mintalah pertolongan.
* Buka jalan nafas, gunakan teknik tekan dahi angkat dagu atau perasat pendorongan rahang bawah.
* Lakukan pemeriksaan nafas ; lihat, dengar dan rasakan selama 3-5 detik
* Jika penderita tidak bernafas, posisikan mulut penolong sedemikian rupa sehingga seluruh mulut atau hidung tertutup rapat, tidak ada udara yang bocor. Jepitlah dengan baik kedua cuping hidung penderita agar udara tidak bocor, jangan menariknya.
* Berikan 2 kali pernafasan buatan awal (1,5-2 detik untuk dewasa dan 1-1,5 untuk bayi dan anak ) Tiupan harus merata dan jumlahnya cukup
* Lakukan pemerikasaan nadi leher selama 5-10 detik.
* Jika nadi karotis berdenyut, maka teruskan pemberian nafas buatan sesuai dengan kelompok usia penderita.
* Nilai pernafasan yang kita berikan apakah sudah cukup baik yang ditandai dengan gerakan naik turunnya dada dengan baik.
* Bila upaya memberikan nafas buatan gagal maka upayakan memposisikan kembali kepala penderita. Nilai juga kemungkinan adanya sumbatan.
Frekuensi pemberian nafas buatan :
* Dewasa : 10-12 kali pernafasan/menit masing-masing 1,5-2 detik.
* Anak (1-8 tahun) : 20 kali pernafasan/menit masing-masing 1-1,5 detik
* Bayi (0-1 tahun) : lebih dari 20 kali pernafasan / menit masing-masing 1-1,5 detik.
* Bayi baru lahir : 40 kali pernafasan/menit masing-masing 1-1,5 detik.
Kemungkinan Bahaya bagi penolong yang melakukan pernafasan buatan dari mulut-ke mulut :
* Penyebaran penyakit
* Kontaminasi bahan kimia
* Muntahan penderita
Kekuatan tiupan bervariasi sesuai dengan ukuran tubuh penderita. Pada penderita dewasa umumnya dilakukan tiupan kuat. Pada anak diberikan tiupan sedang (hembusan ) dan pada bayi hanya diberikan hasil penggebungan pipi penolong. Sebagai patokan jumlah udara yang ditiupkan kepada penderita adalah gerakan naiknya dada. Yang perlu diingat adalah jangan memberikan tiupan yang terlalu perlahan, walau terjadi gerakan naiknya dada namun udara yang masuk kurang.
3. Tindakan Pertolongan Pada Korban yang mengalami Henti Jantung
Tindakan paling penting dalam bantuan sirkulasi adalah pijatan jantung luar, yang dapat dilakukan mengingat sebagian besar jantung terletak di antara tulang dada dan tulang punggung, sehingga penekanan dari luar dapat menyebabkan terjadinya efek pompa pada jantung yang dinilai cukup untuk mengatur peredaran darah pada keadaan mati klinis. Dalam istilah kedokteran dikenal dua istilah untuk mati, mati klinis yang memiliki pengertian tidak ditemukan adanya pernafasan dan denyut nadi. Mati klinis dapat pulih kembali. Korban mempunyai kesempatan selama 4-6 menit untuk dilakukan resusitasi tanpa kerusakan otak. Mati Biologis yang mempunyai pengertian kematian sel dimulai sel otak dan bersifat irreversibel (tidak pulih kembali), biasanya terjadi dalam waktu 8-10 menit dari henti jantung. (Kecuali berada di suhu yang ekstrim dingin pernah dilaporkan melakukan resusitasi selama satu jam lebih dan berhasil).
Tanda-tanda yang pasti dari mati
* Lebam mayat, setelah kematian darah akan berkumpul pada bagian tubuh yang paling rendah akibat gaya tarik bumi. Terlihat sebagai warna ungu kebiruan pada kulit.
* Kaku mayat, kekakuan pada tubuh dan anggota gerak setelah meninggal, biasanya terjadi antara 4-10 jam kemudian.
* Pembusukan, proses ini biasanya terjadi beberapa hari setelah seseorang meninggal, yang ditandai dengan bau tidak enak dan jenazah biasanya sudah membengkak. Proses ini sangat dipengaruhi keadaan cuaca.
* Cedera yang mematikan, cedera yang dimaksud adalah cedera yang bentuknya sedemikian parah sehingga penderita tersebut tidak mungkin bertahan hidup.
* Apabila ditemukan tanda-tanda diatas maka tidak perlu dilakukan RJP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silakan masukan komentar anda. . Jk blum trdaftar akun google gunakan anonim. . Thx