Apa yang dimaksud dengan Hukum Perikemanusiaan Internasional?
Hukum Perikemanusiaan Internasional adalah seperangkat aturan yang karena alasan kemanusiaan dibuat untuk membatasi akibat-akibat dari pertikaian bersenjata. Hukum ini melindungi mereka yang tidak atau tidak lagi terlibat dalam pertikaian dan membatasi cara-cara dan metode peperangan. Hukum Perikemanusiaan Internasional adalah istilah yang digunakan oleh Palang Merah Indonesia untuk Hukum Humaniter Internasional (International Humanitarian Law). Istilah lain dari Hukum Humaniter Internasional ini adalah “Hukum Perang” (Law of War) dan “Hukum Konflik Bersenjata” (Law of Armed Conflict).
Dari mana asalnya Hukum Perikemanusiaan Internasional?
Hukum Perikemanusiaan Internasional adalah bagian dari hukum internasional. Hukum internasional adalah hukum yang mengatur hubungan antara negara. Hukum internasional dapat ditemui dalam perjanjian-perjanjian yang disepakati antara negara-negara sering disebut traktat atau konvensi dan secara prinsip dan praktis negara menerimanya sebagai kewajiban hukum.
Dalam sejarahnya hukum perikemanusiaan internasional dapat ditemukan dalam aturan-aturan keagamaan dan kebudayaan di seluruh dunia. Perkembangan modern dari hukum tersebut dimulai pada abad ke-19. Sejak itu, negara-negara telah setuju untuk menyusun aturan-aturan praktis, berdasarkan pengalaman pahit atas peperangan modern. Hukum itu mewakili suatu keseimbangan antara tuntutan kemanusiaan dan kebutuhan militer dari negara-negara. Seiring dengan berkembangannya komunitas internasional sejumlah negara di seluruh dunia telah memberikan sumbangan atas perkembangan hukum perikemanusiaan internasional. Dewasa ini hukum perikemanusiaan internasional diakui sebagai suatu sistem hukum yang benar-benar universal.
Dimana Hukum Perikemanusiaan Internasional dapat ditemukan?
Sebagian besar dari hukum perikemanusiaan internasional ditemukan dalam empat Konvensi Jenewa tahun 1949. Hampir setiap negara di dunia telah sepakat untuk mengikatkan diri pada Konvensi itu. Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 telah dikembangkan dan dilengkapi dengan dua perjanjian lanjutan yaitu Protokol-protokol Tambahan tahun 1977.
Ada juga beberapa perjanjian internasional yang melarang penggunaan senjata-senjata tertentu dan taktik militer. Perjanjian ini termasuk Konvensi Den Haag tahun 1907, Konvensi Senjata Biologi tahun 1972, Konvensi Senjata Konvensional tahun 1980 dan Konvensi Senjata Kimia tahun 1993. Konvensi Den Haag tahun 1954 mengatur perlindungan bangunan dan benda sejarah selama pertikaian bersenjata.
Banyak aturan hukum perikemanusiaan internasional yang sekarang diterima sebagai hukum kebiasaan internasional yang berarti telah menjadi aturan umum yang diterapkan di semua negara.
Apa cakupan Hukum Perikemanusiaan Internasional?
Ada dua bahasan yang menjadi cakupan hukum perikemanusiaan internasional, yaitu:
Perlindungan atas mereka yang tidak dan tidak lagi mengambil bagian dan suatu pertikaian.
Batasan-batasan atas sarana peperangan, khususnya persenjataan dan metode atau cara-cara peperangan seperti taktik-taktik militer.
Apa yang dimaksud dengan Perlindungan?
Hukum perikemanusiaan internasional melindungi mereka yang tidak ambil bagian atau tidak terlibat dalam pertikaian yaitu seperti warga sipil serta petugas medis dan rohani. Hukum perikemanusiaan juga melindungi mereka yang tidak lagi ambil bagian dalam pertikaian seperti mereka yang telah terluka atau korban kapal karam, mereka yang sakit atau yang telah dijadikan tawanan.
Orang yang dilindungi tidak boleh diserang. Mereka harus bebas dari penyiksaan fisik dan perlakuan yang merendahkan martabat. Korban yang luka dan sakit harus dikumpulkan dan dirawat. Aturan-aturan yang terinci, termasuk penyediaan makanan serta tempat berteduh yang layak dan jaminan hukum, berlaku bagi mereka yang telah dijadikan tawanan atau mengalami penahanan.
Tempat-tempat dan objek-objek tertentu seperti rumah sakit dan ambulans, juga dilindungi dan tidak boleh menjadi sasaran penyerangan. HPI menetapkan sejumlah lambang-lambang yang dapat dikenali dengan jelas dan sinyal-sinyal yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi orang-orang dan tempat-tempat yang dilindungi. Lambang-lambang ini termasuk palang merah dan bulan sabit merah.
Persenjataan dan taktik-taktik apa saja yang dibatasi?
Hukum perikemanusiaan internasional melarang segala sarana dan cara-cara peperangan yang:
gagal membedakan antara mereka yang terlibat dalam pertikaian dan mereka seperti warga sipil, yang tidak terlibat dalam pertikaian;
menyebabkan luka-luka yang berlebihan atau penderitaan yang tidak semestinya;
menyebabkan kerusakan lingkungan yang berkepanjangan atau sangat parah.
Hukum perikemanusiaan internasional juga telah melarang penggunaan berbagai jenis persenjataan tertentu termasuk peluru ledak, senjata kimia dan biologi serta senjata “laser-blinding weapon.”
Kapan Hukum Perikemanusiaan Internasional Berlaku?
Hukum perikemanusiaan internasional hanya berlaku pada saat terjadi pertikaian bersenjata. Hukum tersebut tidak dapat diterapkan pada kekacauan dalam negeri seperti tindakan-tindakan kekerasan yang terisolasi. Hukum perikemanusiaan internasional juga tidak mengatur apakah suatu negara dapat menggunakan kekuatan (militernya) karena hal ini diatur oleh aturan berbeda (namun sama pentingnya) yaitu hukum internasional yang terdapat dalam Piagam PBB. Hukum perikemanusiaan internasional hanya berlaku pada saat suatu konflik dimulai dan berlaku sama kepada semua pihak tanpa memandang siapa yang memulai pertikaian.
Hukum perikemanusiaan internasional membedakan antara pertikaian bersenjata internasional dan pertikaian bersenjata internal (dalam negeri). Pertikaian bersenjata internasional adalah pertikaian yang sedikitnya melibatkan dua negara. Pertikaian seperti itu tunduk pada aturan yang lebih luas termasuk diatur dalam empat Konvensi Jenewa dan Protokol Tambahan pertama. Aturan yang lebih terbatas berlaku bagi pertikaian bersenjata internal-khususnya yang ditetapkan dalam Pasal 3 dari setiap ke-empat Konvensi Jenewa dan Prokokol Tambahan kedua. Namun di dalam pertikaian bersenjata internal, seperti halnya dalam pertikaian bersenjata internasional, semua pihak harus mematuhi hukum perikemanusiaan internasional.
Adalah penting untuk membedakan antara hukum perikemanusiaan internasional dengan hukum hak asasi manusia. Meski beberapa aturan dari keduanya ada yang sama, kedua hukum ini telah berkembang secara terpisah dan terdapat dalam perjanjian yang berbeda. Secara khusus hukum hak asasi manusia, tidak seperti hukum perikemanusiaan internasional, berlaku pada masa damai dan banyak aturannya mungkin ditangguhkan selama suatu pertikaian bersenjata berlangsung.
Apakah Hukum Perikemanusiaan Internasional benar-benar berjalan?
Tragisnya contoh-contoh pelanggaran hukum perikemanusiaan internasional tak terhitung telah terjadi dalam pertikaian bersenjata di seluruh dunia. Bahkan korban yang meningkat dalam peperangan adalah warga sipil. Namun, terdapat hal-hal penting dimana hukum perikemanusiaan internasional telah membuat suatu perbedaan dalam melindungi warga sipil, tawanan, korban luka dan sakit serta dalam membatasi penggunaan senjata yang semena-mena. Bahwa hukum itu berlaku selama masa-masa traumatik, penerapan hukum perikemanusiaan internasional akan selalu menghadapi kesulitan-kesulitan berat, penerapan efektif dari hukum itu selamanya akan tetap mendesak.
Sejumlah tindakan telah diambil untuk mempromosikan penghormatan terhadap hukum perikemanusiaan internasional. Negara-negara berkewajiban untuk memberikan pendidikan tentang hukum perikemanusiaan internasional kepada angkatan bersenjata dan masyarakat umum negaranya. Mereka harus mencegah dan jika perlu menghukum semua pelanggaran hukum perikemanusiaan internasional. Utamanya mereka harus memberlakukan hukum untuk menghukum pelanggaran-pelanggaran paling serius Konvensi-Konvensi Jenewa dan Protokol-protokol Tambahan yang dianggap sebagai kejahatan perang. Beberapa tindakan juga telah dilakukan pada level internasional. Pengadilan-pengadilan ad hoc telah dibentuk untuk menghukum tindakan-tindakan yang dilakukan dalam dua pertikaian yang terjadi beberapa waktu lalu yaitu di bekas Yugoslavia dan Rwanda. Dewasa ini pengadilan permanen internasional yang akan dapat menghukum kejahatan perang sudah disepakati untuk didirikan. Dasar hukumnya adalah Statuta Roma 1998 tentang pendirian Pengadilan Kriminal Internasional (International Criminal Court). Pengadilan yang akan berkedudukan di Den Haag Belanda itu terbentuk bila Statuta tersebut sudah diratifikasi 60 negara, sementara saat ini baru 4 negara yang meratifikasinya.
Apakah melalui pemerintah, melalui organisasi-organisasi atau sebagai perorangan, kita dapat memberikan suatu sumbangan penting bagi penerapan hukum perikemanusiaan internasional. ( Sumber: “What is International Humanitarian Law” – ICRC Advisory Service on International Humanitarian Law – http://www.icrc.org/ )
membuat blog hnya u/ save arsif dan dokumen, dan juga ada hasil copy paste dri blog,website yg lain. . . .
jendela
Jumat, 08 Oktober 2010
bhd
Keadaan darurat yang mengancam nyawa bisa terjadi sewaktu-waktu dan di mana pun. Kondisi ini memerlukan bantuan hidup dasar. Bantuan hidup dasar adalah usaha untuk mempertahankan kehidupan saat penderita mengalami keadaan yang mengancam nyawa.
Melakukan bantuan ini kita tidak mempergunakan cairan, obat ataupun terapi kejut listrik. Bantuan Hidup Dasar atau yang disingkat BHD ini harus dapat dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat dan tidak terbatas kepada petugas paramedik atau tim medis.
Ketika melaksanakan BHD ini kita berpacu dengan waktu, sebab korban yang akan kita tolong dalam keadaan terancam nyawanya. Oleh karena itu, pertolongan pertama yang dilakukan oleh penolong yang pertama kali melihat korban sangat dibutuhkan sebelum paramedis atau tim medis tiba di lapangan. Jadi, jangan lagi beranggapan bahwa dalam melakukan pertolongan kita berprinsip bagaimana caranya membawa korban segera ke RS, tetapi bagaimana caranya kita mempertahankan jiwa korban tersebut sampai bantuan lebih lanjut datang.
1. Tujuan dari BHD ini adalah untuk:
2. Menyelamatkan jiwa penderita.
3. Mencegah cacat.
4. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan.
Waktu sangat penting dalam melakukan bantuan hidup dasar. Otak dan jantung bila tidak mendapat oksigen lebih dari 8 – 10 menit akan mengalami kematian, sehingga korban tersebut dapat mati. Dalam istilah kedokteran dikenal dua istilah untuk mati, mati klinis dan mati biologis.
Mati klinis memiliki pengertian bahwa pada saat melakukan pemeriksaan penderita, penolong tidak menemukan adanya pernapasan dan denyut nadi yang berarti sistem pernapasan dan sistem peredaran darah berhenti. Pada beberapa keadaan, penanganan yang baik masih memberikan kesempatan kedua sistem tersebut berfungsi kembali.
Penderita mengalami henti napas dan henti jantung mempunyai harapan hidup lebih baik jika semua langkah dalam rantai penyelamatan dilakukan bersamaan. Rantai ini diperkenalkan oleh American Heart Association (AHA) yang mempunyai empat rantai sebagai berikut:
1. Kecepatan dalam permintaan bantuan.
2. Resusitasi Jantung Paru.
3. Defibrilasi (dilakukan oleh tenaga medis terlatih dengan peralatan khusus).
4. Pertolongan hidup lanjut (di RS, seperti Advance Cardiac Life Support).
Bantuan Hidup Dasar merupakan beberapa cara sederhana yang dapat mempertahankan hidup seseorang untuk sementara. Intinya adalah bagaimana menguasai dan membebaskan jalan napas, bagaimana membantu mengalirkan darah ke tempat yang penting dalam tubuh, sehingga pasokan oksigen ke otak terjaga untuk mencegah terjadinya kematian sel otak.
Untuk memudahkan mengingat, maka saya berikan suatu akronim K – R – A – B – C:
K: Keamanan
R: Respons
A: Airway (saluran napas)
B: Breathing (pernapasan)
C: Circulation
Sistem sirkulasi adalah sistem yang bertugas mendistribusikan oksigen dan bahan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh. Komponen yang berhubungan dengan sistem sirkulasi adalah jantung, pembuluh darah, darah dan bagian-bagiannya. Jantung berfungsi memompa darah dan kerjanya sangat berhubungan erat dengan sistem respirasi. Jantung dapat berhenti bekerja karena :
a. Penyakit jantung
b. Gangguan pernafasan
c. Syok
d. Komplikasi penyakit lain
1. Penguasaan jalan nafas (Airway control)
a. Pemeriksaan Jalan Nafas
Periksalah jalan nafas penderita, jalan nafas yang terbuka dengan baik dan bersih sangat diperlukan untuk pernafasan. Apabila dalam jalan nafas terdapat kotoran atau benda asing yang mengganggu jalan pernafasan dapat dilakukan sapuan jari caranya :
a. Balikkan penderita pada samping
b. Buka mulut penderita dan lihat kedalam
c. Masukkan jari telunjuk kedalam mulut penderita melalui pipi bagian dalam sampai bagian geraham yang paling belakang. Bentuk jari seperti kait lalu upayakan pengambilan benda yang menyumbat atau yang mengganggu jalan pernafasan. Pada anak dan bayi digunakan kelingking dan dilakukan hanya bila bendanya terlihat.
b.Sumbatan
Secara umum sumbatan jalan nafas dapat terjadi baik pada jalan nafas bagian atas yang meliputi mulut, hidung sampai ke bagian larings maupun jalan nafas bagian bawah yang terdiri dari bronkus sampai saluran paru-paru. Sumbatan pada jalan nafas bagian bawah terjadi melalui terhirup. Sumbatan jalan nafas pada orang sadar umumnya karena makanan, sedangkan pada orang yang tidak ada respon adalah lidah yang jatuh ke belakang.
Sumbatan yang terjadi dapat bersifat total atau sebagian. Pada sumbatan total, penderita akan sulit bernafas dan akhirnya kehilangan kesadaran. Dalam keadaan sehari-hari sering dijumpai adalah tersedak yang memiliki ciri khas yang terkesan mencekik leher sendiri dengan kedua tangannya. Sedangkan sumbatan parsial ditandai dengan upaya untuk bernafas dan mungkin disertai bunyi nafas tambahan misalnya mengi, ngorok dll. Pada sumbatan parsial mungkin tidak diperlukan tindakan khusus, walaupun penderita harus cepat dibawa ke RS karena jika kesulitan ini berkepanjangan dapat menimbulkan kegagalan pernafasan. Oleh sebab itu jangan meninggalkan penderita yang mengalami sumbatan benda asing sebagian.
Tindakan khusus untuk sumbatan total dikenal dengan perasat Heimlich (Heimlich Maneuver). Perasat ini pada dasarnya adalah hentakan perut, namun dalam pelaksanaannya dapat dilakukan beberapa variasi :
* Hentakan-perut pada penderita yang ada responnya
• Penolong berdiri di belakang pasien, posisikan tangan penolong memeluk di atas perut melalui ketiak penderita
• Sisi genggaman tangan penolong diletakkan di atas perut penderita tepat pada pertengahan antar pusar dan batas pertemuan iga kiri dan kanan.
• Letakkan tangan lain penolong diatas genggaman pertama lalu hentakkan penolong kearah belakang dan atas, posisi kedua siku penolong ke arah luar, lakukan hentakan sambil meminta pasien membantu memuntahkannya.
• Lakukan berulang-ulang sampai berhasil atau korban menjadi tidak respon
* Hentakan perut- pada penderita tidak ada respon,
• Baringkan penderita dalam posisi terlentang
• Upayakan memberikan pernafasan buatan bila gagal upayakan perbaikan posisi dan coba ulangi pemberian nafas bantuan. Bila gagal
• Berjongkoklah di atas paha penderita dan tempatkan tumit tangan sedikit di atas pusat tepat pada garis tengah antara pusat dan pertemuan rusuk kiri dan kanan.
• Lakukan hentakan perut kearah atas
• Periksa mulut penderita dan lakukan sapuan jari.
• Bila belum berhasil ulangi berulang-ulang sampai jalan nafas terbuka
* Hentakan dada pada penderita yang kegemukan atau wanita hamil yang ada respon
• Berdirilah dibelakang penderita, lengan memeluk penderita melalui bawah ketiak di bagian dada.
• Posisikan tangan membentuk kepalan seperti pada hentakan perut tepat di atas pertengahan tulang dada.
• Lakukan hentakan dada
• Lanjutkan sampai jalan nafas terbuka atau penderita menjadi tidak sadar.
* Hentakan dada pada penderita yang kegemukan atau wanita hamil yang tidak respon
• Baringkan penderita dalam posisi terlentang
• Upayakan memberikan pernafasan buatan bila gagal upayakan perbaikan posisi dan coba ulangi pemberian nafas bantuan. Bila gagal
• Posisi penolong dari samping penderita dan letak tumit tangan pada pertengahan tulang dada
• Lakukan hentakan perut kearah atas
• Periksa mulut penderita dan lakukan sapuan jari.
• Bila belum berhasil ulangi berulang-ulang sampai jalan nafas terbuka
Beberapa cara untuk membebaskan jalan nafas pada bayi :
a. Ada respon :
• Pastikan penderita mengalami sumbatan jalan nafas total.
• Posisikan penderita pada satu lengan penolong, wajah mengarah ke bawah, kepala lebih rendah dari tubuh. Topanglah bagian kepala dengan jari penderita pada daerah rahang.
• Lakukan 5 kali pukulan punggung, gunakan tumit tangan diantara kedua tulang belikat. Bila belum keluar balikkan penderita, kepala tetap lebih rendah.
• Lakukan 5 kali hentakan dada, gunakan jari tengah dan jari manis pada perrtengahan garis tengah tulang dada tepat di bawah garis khayal penghubung puting susu kiri dan kanan.
• Lakukan berulang-ulang tindakan di atas sampai korban tidak respon atau sumbatan teratasi.
b. Tidak ada respon :
• Pastikan penderita tidak respon.
• Buka jalan nafas dan berikan pernafasan buatan, bila belum masuk coba perbaiki posisi kepala.
• Lakukan 5 kali pukulan punggung dan 5 kali hentakan dada.
• Buka mulut penderita dan lihat apakah ada benda asing jika memungkingkan tarik keluar dengan perasat pengangkatan rahang dan lidah.
• Ulangi langkah tersebut sampai jalan nafas terbuka.
Tanda-tanda dari penderita yang tidak bernafas antara lain :
* Tidak ada gerakan dada atau perut.
* Tidak terdengar aliran udara melalui mulut atau hidung
* Tidak terasa hembusan nafas dari mulut atau hidung
2. Teknik pemberian pernafasan buatan :
* Nilai respon korban, jika perlu mintalah pertolongan.
* Buka jalan nafas, gunakan teknik tekan dahi angkat dagu atau perasat pendorongan rahang bawah.
* Lakukan pemeriksaan nafas ; lihat, dengar dan rasakan selama 3-5 detik
* Jika penderita tidak bernafas, posisikan mulut penolong sedemikian rupa sehingga seluruh mulut atau hidung tertutup rapat, tidak ada udara yang bocor. Jepitlah dengan baik kedua cuping hidung penderita agar udara tidak bocor, jangan menariknya.
* Berikan 2 kali pernafasan buatan awal (1,5-2 detik untuk dewasa dan 1-1,5 untuk bayi dan anak ) Tiupan harus merata dan jumlahnya cukup
* Lakukan pemerikasaan nadi leher selama 5-10 detik.
* Jika nadi karotis berdenyut, maka teruskan pemberian nafas buatan sesuai dengan kelompok usia penderita.
* Nilai pernafasan yang kita berikan apakah sudah cukup baik yang ditandai dengan gerakan naik turunnya dada dengan baik.
* Bila upaya memberikan nafas buatan gagal maka upayakan memposisikan kembali kepala penderita. Nilai juga kemungkinan adanya sumbatan.
Frekuensi pemberian nafas buatan :
* Dewasa : 10-12 kali pernafasan/menit masing-masing 1,5-2 detik.
* Anak (1-8 tahun) : 20 kali pernafasan/menit masing-masing 1-1,5 detik
* Bayi (0-1 tahun) : lebih dari 20 kali pernafasan / menit masing-masing 1-1,5 detik.
* Bayi baru lahir : 40 kali pernafasan/menit masing-masing 1-1,5 detik.
Kemungkinan Bahaya bagi penolong yang melakukan pernafasan buatan dari mulut-ke mulut :
* Penyebaran penyakit
* Kontaminasi bahan kimia
* Muntahan penderita
Kekuatan tiupan bervariasi sesuai dengan ukuran tubuh penderita. Pada penderita dewasa umumnya dilakukan tiupan kuat. Pada anak diberikan tiupan sedang (hembusan ) dan pada bayi hanya diberikan hasil penggebungan pipi penolong. Sebagai patokan jumlah udara yang ditiupkan kepada penderita adalah gerakan naiknya dada. Yang perlu diingat adalah jangan memberikan tiupan yang terlalu perlahan, walau terjadi gerakan naiknya dada namun udara yang masuk kurang.
3. Tindakan Pertolongan Pada Korban yang mengalami Henti Jantung
Tindakan paling penting dalam bantuan sirkulasi adalah pijatan jantung luar, yang dapat dilakukan mengingat sebagian besar jantung terletak di antara tulang dada dan tulang punggung, sehingga penekanan dari luar dapat menyebabkan terjadinya efek pompa pada jantung yang dinilai cukup untuk mengatur peredaran darah pada keadaan mati klinis. Dalam istilah kedokteran dikenal dua istilah untuk mati, mati klinis yang memiliki pengertian tidak ditemukan adanya pernafasan dan denyut nadi. Mati klinis dapat pulih kembali. Korban mempunyai kesempatan selama 4-6 menit untuk dilakukan resusitasi tanpa kerusakan otak. Mati Biologis yang mempunyai pengertian kematian sel dimulai sel otak dan bersifat irreversibel (tidak pulih kembali), biasanya terjadi dalam waktu 8-10 menit dari henti jantung. (Kecuali berada di suhu yang ekstrim dingin pernah dilaporkan melakukan resusitasi selama satu jam lebih dan berhasil).
Tanda-tanda yang pasti dari mati
* Lebam mayat, setelah kematian darah akan berkumpul pada bagian tubuh yang paling rendah akibat gaya tarik bumi. Terlihat sebagai warna ungu kebiruan pada kulit.
* Kaku mayat, kekakuan pada tubuh dan anggota gerak setelah meninggal, biasanya terjadi antara 4-10 jam kemudian.
* Pembusukan, proses ini biasanya terjadi beberapa hari setelah seseorang meninggal, yang ditandai dengan bau tidak enak dan jenazah biasanya sudah membengkak. Proses ini sangat dipengaruhi keadaan cuaca.
* Cedera yang mematikan, cedera yang dimaksud adalah cedera yang bentuknya sedemikian parah sehingga penderita tersebut tidak mungkin bertahan hidup.
* Apabila ditemukan tanda-tanda diatas maka tidak perlu dilakukan RJP.
Melakukan bantuan ini kita tidak mempergunakan cairan, obat ataupun terapi kejut listrik. Bantuan Hidup Dasar atau yang disingkat BHD ini harus dapat dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat dan tidak terbatas kepada petugas paramedik atau tim medis.
Ketika melaksanakan BHD ini kita berpacu dengan waktu, sebab korban yang akan kita tolong dalam keadaan terancam nyawanya. Oleh karena itu, pertolongan pertama yang dilakukan oleh penolong yang pertama kali melihat korban sangat dibutuhkan sebelum paramedis atau tim medis tiba di lapangan. Jadi, jangan lagi beranggapan bahwa dalam melakukan pertolongan kita berprinsip bagaimana caranya membawa korban segera ke RS, tetapi bagaimana caranya kita mempertahankan jiwa korban tersebut sampai bantuan lebih lanjut datang.
1. Tujuan dari BHD ini adalah untuk:
2. Menyelamatkan jiwa penderita.
3. Mencegah cacat.
4. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan.
Waktu sangat penting dalam melakukan bantuan hidup dasar. Otak dan jantung bila tidak mendapat oksigen lebih dari 8 – 10 menit akan mengalami kematian, sehingga korban tersebut dapat mati. Dalam istilah kedokteran dikenal dua istilah untuk mati, mati klinis dan mati biologis.
Mati klinis memiliki pengertian bahwa pada saat melakukan pemeriksaan penderita, penolong tidak menemukan adanya pernapasan dan denyut nadi yang berarti sistem pernapasan dan sistem peredaran darah berhenti. Pada beberapa keadaan, penanganan yang baik masih memberikan kesempatan kedua sistem tersebut berfungsi kembali.
Penderita mengalami henti napas dan henti jantung mempunyai harapan hidup lebih baik jika semua langkah dalam rantai penyelamatan dilakukan bersamaan. Rantai ini diperkenalkan oleh American Heart Association (AHA) yang mempunyai empat rantai sebagai berikut:
1. Kecepatan dalam permintaan bantuan.
2. Resusitasi Jantung Paru.
3. Defibrilasi (dilakukan oleh tenaga medis terlatih dengan peralatan khusus).
4. Pertolongan hidup lanjut (di RS, seperti Advance Cardiac Life Support).
Bantuan Hidup Dasar merupakan beberapa cara sederhana yang dapat mempertahankan hidup seseorang untuk sementara. Intinya adalah bagaimana menguasai dan membebaskan jalan napas, bagaimana membantu mengalirkan darah ke tempat yang penting dalam tubuh, sehingga pasokan oksigen ke otak terjaga untuk mencegah terjadinya kematian sel otak.
Untuk memudahkan mengingat, maka saya berikan suatu akronim K – R – A – B – C:
K: Keamanan
R: Respons
A: Airway (saluran napas)
B: Breathing (pernapasan)
C: Circulation
Sistem sirkulasi adalah sistem yang bertugas mendistribusikan oksigen dan bahan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh. Komponen yang berhubungan dengan sistem sirkulasi adalah jantung, pembuluh darah, darah dan bagian-bagiannya. Jantung berfungsi memompa darah dan kerjanya sangat berhubungan erat dengan sistem respirasi. Jantung dapat berhenti bekerja karena :
a. Penyakit jantung
b. Gangguan pernafasan
c. Syok
d. Komplikasi penyakit lain
1. Penguasaan jalan nafas (Airway control)
a. Pemeriksaan Jalan Nafas
Periksalah jalan nafas penderita, jalan nafas yang terbuka dengan baik dan bersih sangat diperlukan untuk pernafasan. Apabila dalam jalan nafas terdapat kotoran atau benda asing yang mengganggu jalan pernafasan dapat dilakukan sapuan jari caranya :
a. Balikkan penderita pada samping
b. Buka mulut penderita dan lihat kedalam
c. Masukkan jari telunjuk kedalam mulut penderita melalui pipi bagian dalam sampai bagian geraham yang paling belakang. Bentuk jari seperti kait lalu upayakan pengambilan benda yang menyumbat atau yang mengganggu jalan pernafasan. Pada anak dan bayi digunakan kelingking dan dilakukan hanya bila bendanya terlihat.
b.Sumbatan
Secara umum sumbatan jalan nafas dapat terjadi baik pada jalan nafas bagian atas yang meliputi mulut, hidung sampai ke bagian larings maupun jalan nafas bagian bawah yang terdiri dari bronkus sampai saluran paru-paru. Sumbatan pada jalan nafas bagian bawah terjadi melalui terhirup. Sumbatan jalan nafas pada orang sadar umumnya karena makanan, sedangkan pada orang yang tidak ada respon adalah lidah yang jatuh ke belakang.
Sumbatan yang terjadi dapat bersifat total atau sebagian. Pada sumbatan total, penderita akan sulit bernafas dan akhirnya kehilangan kesadaran. Dalam keadaan sehari-hari sering dijumpai adalah tersedak yang memiliki ciri khas yang terkesan mencekik leher sendiri dengan kedua tangannya. Sedangkan sumbatan parsial ditandai dengan upaya untuk bernafas dan mungkin disertai bunyi nafas tambahan misalnya mengi, ngorok dll. Pada sumbatan parsial mungkin tidak diperlukan tindakan khusus, walaupun penderita harus cepat dibawa ke RS karena jika kesulitan ini berkepanjangan dapat menimbulkan kegagalan pernafasan. Oleh sebab itu jangan meninggalkan penderita yang mengalami sumbatan benda asing sebagian.
Tindakan khusus untuk sumbatan total dikenal dengan perasat Heimlich (Heimlich Maneuver). Perasat ini pada dasarnya adalah hentakan perut, namun dalam pelaksanaannya dapat dilakukan beberapa variasi :
* Hentakan-perut pada penderita yang ada responnya
• Penolong berdiri di belakang pasien, posisikan tangan penolong memeluk di atas perut melalui ketiak penderita
• Sisi genggaman tangan penolong diletakkan di atas perut penderita tepat pada pertengahan antar pusar dan batas pertemuan iga kiri dan kanan.
• Letakkan tangan lain penolong diatas genggaman pertama lalu hentakkan penolong kearah belakang dan atas, posisi kedua siku penolong ke arah luar, lakukan hentakan sambil meminta pasien membantu memuntahkannya.
• Lakukan berulang-ulang sampai berhasil atau korban menjadi tidak respon
* Hentakan perut- pada penderita tidak ada respon,
• Baringkan penderita dalam posisi terlentang
• Upayakan memberikan pernafasan buatan bila gagal upayakan perbaikan posisi dan coba ulangi pemberian nafas bantuan. Bila gagal
• Berjongkoklah di atas paha penderita dan tempatkan tumit tangan sedikit di atas pusat tepat pada garis tengah antara pusat dan pertemuan rusuk kiri dan kanan.
• Lakukan hentakan perut kearah atas
• Periksa mulut penderita dan lakukan sapuan jari.
• Bila belum berhasil ulangi berulang-ulang sampai jalan nafas terbuka
* Hentakan dada pada penderita yang kegemukan atau wanita hamil yang ada respon
• Berdirilah dibelakang penderita, lengan memeluk penderita melalui bawah ketiak di bagian dada.
• Posisikan tangan membentuk kepalan seperti pada hentakan perut tepat di atas pertengahan tulang dada.
• Lakukan hentakan dada
• Lanjutkan sampai jalan nafas terbuka atau penderita menjadi tidak sadar.
* Hentakan dada pada penderita yang kegemukan atau wanita hamil yang tidak respon
• Baringkan penderita dalam posisi terlentang
• Upayakan memberikan pernafasan buatan bila gagal upayakan perbaikan posisi dan coba ulangi pemberian nafas bantuan. Bila gagal
• Posisi penolong dari samping penderita dan letak tumit tangan pada pertengahan tulang dada
• Lakukan hentakan perut kearah atas
• Periksa mulut penderita dan lakukan sapuan jari.
• Bila belum berhasil ulangi berulang-ulang sampai jalan nafas terbuka
Beberapa cara untuk membebaskan jalan nafas pada bayi :
a. Ada respon :
• Pastikan penderita mengalami sumbatan jalan nafas total.
• Posisikan penderita pada satu lengan penolong, wajah mengarah ke bawah, kepala lebih rendah dari tubuh. Topanglah bagian kepala dengan jari penderita pada daerah rahang.
• Lakukan 5 kali pukulan punggung, gunakan tumit tangan diantara kedua tulang belikat. Bila belum keluar balikkan penderita, kepala tetap lebih rendah.
• Lakukan 5 kali hentakan dada, gunakan jari tengah dan jari manis pada perrtengahan garis tengah tulang dada tepat di bawah garis khayal penghubung puting susu kiri dan kanan.
• Lakukan berulang-ulang tindakan di atas sampai korban tidak respon atau sumbatan teratasi.
b. Tidak ada respon :
• Pastikan penderita tidak respon.
• Buka jalan nafas dan berikan pernafasan buatan, bila belum masuk coba perbaiki posisi kepala.
• Lakukan 5 kali pukulan punggung dan 5 kali hentakan dada.
• Buka mulut penderita dan lihat apakah ada benda asing jika memungkingkan tarik keluar dengan perasat pengangkatan rahang dan lidah.
• Ulangi langkah tersebut sampai jalan nafas terbuka.
Tanda-tanda dari penderita yang tidak bernafas antara lain :
* Tidak ada gerakan dada atau perut.
* Tidak terdengar aliran udara melalui mulut atau hidung
* Tidak terasa hembusan nafas dari mulut atau hidung
2. Teknik pemberian pernafasan buatan :
* Nilai respon korban, jika perlu mintalah pertolongan.
* Buka jalan nafas, gunakan teknik tekan dahi angkat dagu atau perasat pendorongan rahang bawah.
* Lakukan pemeriksaan nafas ; lihat, dengar dan rasakan selama 3-5 detik
* Jika penderita tidak bernafas, posisikan mulut penolong sedemikian rupa sehingga seluruh mulut atau hidung tertutup rapat, tidak ada udara yang bocor. Jepitlah dengan baik kedua cuping hidung penderita agar udara tidak bocor, jangan menariknya.
* Berikan 2 kali pernafasan buatan awal (1,5-2 detik untuk dewasa dan 1-1,5 untuk bayi dan anak ) Tiupan harus merata dan jumlahnya cukup
* Lakukan pemerikasaan nadi leher selama 5-10 detik.
* Jika nadi karotis berdenyut, maka teruskan pemberian nafas buatan sesuai dengan kelompok usia penderita.
* Nilai pernafasan yang kita berikan apakah sudah cukup baik yang ditandai dengan gerakan naik turunnya dada dengan baik.
* Bila upaya memberikan nafas buatan gagal maka upayakan memposisikan kembali kepala penderita. Nilai juga kemungkinan adanya sumbatan.
Frekuensi pemberian nafas buatan :
* Dewasa : 10-12 kali pernafasan/menit masing-masing 1,5-2 detik.
* Anak (1-8 tahun) : 20 kali pernafasan/menit masing-masing 1-1,5 detik
* Bayi (0-1 tahun) : lebih dari 20 kali pernafasan / menit masing-masing 1-1,5 detik.
* Bayi baru lahir : 40 kali pernafasan/menit masing-masing 1-1,5 detik.
Kemungkinan Bahaya bagi penolong yang melakukan pernafasan buatan dari mulut-ke mulut :
* Penyebaran penyakit
* Kontaminasi bahan kimia
* Muntahan penderita
Kekuatan tiupan bervariasi sesuai dengan ukuran tubuh penderita. Pada penderita dewasa umumnya dilakukan tiupan kuat. Pada anak diberikan tiupan sedang (hembusan ) dan pada bayi hanya diberikan hasil penggebungan pipi penolong. Sebagai patokan jumlah udara yang ditiupkan kepada penderita adalah gerakan naiknya dada. Yang perlu diingat adalah jangan memberikan tiupan yang terlalu perlahan, walau terjadi gerakan naiknya dada namun udara yang masuk kurang.
3. Tindakan Pertolongan Pada Korban yang mengalami Henti Jantung
Tindakan paling penting dalam bantuan sirkulasi adalah pijatan jantung luar, yang dapat dilakukan mengingat sebagian besar jantung terletak di antara tulang dada dan tulang punggung, sehingga penekanan dari luar dapat menyebabkan terjadinya efek pompa pada jantung yang dinilai cukup untuk mengatur peredaran darah pada keadaan mati klinis. Dalam istilah kedokteran dikenal dua istilah untuk mati, mati klinis yang memiliki pengertian tidak ditemukan adanya pernafasan dan denyut nadi. Mati klinis dapat pulih kembali. Korban mempunyai kesempatan selama 4-6 menit untuk dilakukan resusitasi tanpa kerusakan otak. Mati Biologis yang mempunyai pengertian kematian sel dimulai sel otak dan bersifat irreversibel (tidak pulih kembali), biasanya terjadi dalam waktu 8-10 menit dari henti jantung. (Kecuali berada di suhu yang ekstrim dingin pernah dilaporkan melakukan resusitasi selama satu jam lebih dan berhasil).
Tanda-tanda yang pasti dari mati
* Lebam mayat, setelah kematian darah akan berkumpul pada bagian tubuh yang paling rendah akibat gaya tarik bumi. Terlihat sebagai warna ungu kebiruan pada kulit.
* Kaku mayat, kekakuan pada tubuh dan anggota gerak setelah meninggal, biasanya terjadi antara 4-10 jam kemudian.
* Pembusukan, proses ini biasanya terjadi beberapa hari setelah seseorang meninggal, yang ditandai dengan bau tidak enak dan jenazah biasanya sudah membengkak. Proses ini sangat dipengaruhi keadaan cuaca.
* Cedera yang mematikan, cedera yang dimaksud adalah cedera yang bentuknya sedemikian parah sehingga penderita tersebut tidak mungkin bertahan hidup.
* Apabila ditemukan tanda-tanda diatas maka tidak perlu dilakukan RJP.
prosedur pp
Prosedur Pertolongan Pertama
1. Penilaian Keadaan (Leader)
Tahap ini dilakukan oleh si penolong untuk mengetahui keadaan baik si korban maupun mekanisme kejadian. Dalam melakukan penilaian keadaan ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu penolong melakukan analisa yaitu :
1. Menanyakan mekanisme kejadian
2. Menanyakan Jumlah korban
3. Menanyakan keadaan Lingkungan
2. Penilaian DINI (Leader)
a. Kesan umum
Pada langkah ini pertama – tama penolong harus menentukan apakah kasus yang dihadapi adalah kasus trauma atau kasus medis.
Kasus Trauma adalah kasus yang disebabkan oleh suatu ruda paksa. Mempunyai tanda-tanda yang jelas terlihat atau teraba.
Contoh : luka bakar, luka memar, patah tulang dll.
Kasus Medis adalah kasus yang diderita seseorang tanpa ada riwayat ruda paksa. Contoh: sesak nafas, pingsan,. Pada kasus ini penolong harus lebih berupaya mencari riwayat gangguannya. Misalnya meminta penderita itu sendiri, keluarganya bila di rumah atau saksi mata bila di luar rumah untuk menjelaskan keadaan penderita dari awal gejalanya sampai menjadi parah serinci mungkin.
(Ruda paksa adalah sejenis benturan.)
b. Memeriksa Respons
Respon seorang penderita adalah suatu cara sederhana untuk mendapatkan gambaran berat ringannya gangguan yang terjadi dalam otak.
Respon dinilai berdasarkan reaksi yang diberikan seorang penderita terhadap rangsang yang diberikan penolong. Respon penderita dibagi menjadi 4 tingkat yaitu Awas, Suara, Nyeri, Tidak Respon (ASNT)
A= awas
Penderita ini sadar dan mengetahui keberadaannya. Biasanya ditandai pasien tanggap terhadap orang, waktu, tempat serta namanya. Akan tetapi mungkin juga sebagian penderita terkesan sadar penuh namun tidak menyadari keadaan lingkungan dimana mereka berada.
S = Suara
Penderita dikatakan respon terhadap (rangsang) suara yang diberikan penolong jika :
Penderita hanya menjawab/bereaksi bila dipanggil atau mendengar suara
Penderita yang tidak dapat menjawab mengenai tempat dan waktu akan tetapi dapat mengikuti perintah sederhana.
Pada tahap ini penolong memberikan respon suara dengan cara menepuk bahu penderita dan tanyakan dengan suara lantang.
N = Nyeri
Penolong memberikan rangsangan berupa nyeri dengan cara cubitan kuat, penekanan ditengah tulang dada (bila tidak ada cedera dada). Bila penderita respons terhadap suara, maka rangsang nyeri ini tidak perlu dilakukan. Reaksi yang terlihat mungkin hanya membuka mata, erangan, melipat atau menjauhkan alat gerak, dan gerakan lainnya.
T = Tidak Respon
Jika penderita tidak bereaksi terhadap rangsang apapun maka orang itu dinyatakan tidak respon. Seorang penderita yang tidak sadar pasti memerlukan penanganan jalan nafas. Dan penatalaksanaan lainnya.
c. Membuka Jalan Nafas (Leader)
Ada dua cara untuk membuka jalan nafas
ADTD (Angkat Dagu Tekan Dahi) untuk pasien Respon
Caranya :
1. Letakkan tangan kiri anda pada dahi penderita.
2. Tekan dahi sedikit mengarah kebelakang.
3. Letakan ujung jari tangan kanan dibawah bagian ujung tulang rahang bawah.
4. Angkat dagu ke depan. (lakukan gerakan ini bersamaan tekan dahi)
5. Pertahankan tangan di dahi penderita untuk menjaga posisi kepala tetap ke belakang.
6. Buka mulut penderita dengan ibu jari tangan yang menekan dagu.
Jawtrust, untuk pasien tidak Respon.
Caranya :
1. Berlutut di sisi atas kepala penderita. Letakan kedua siku penolong sejajar dengan posisi penderita. Kedua tangan memegang sisi kepala.
2. Kedua sisi rahang dipegang (jika pasien anak kecil/bayi gunakan 2 atau 3 jari pada sisi rahang bawah)
3. Gunakan kedua tangan untuk menggerakan rahang bawah ke posisi depan secara perlahan. Gerakan ini mendorong lidah ke atas sehingga jalan nafas terbuka
4. Pertahankan posisi pasien tetap terbuka.
*Jangan lupa untuk memeriksa mulut penderita terutama yang mengalami penurunan respon/tidak ada respon. Apakah ada suatu benda yang dapat menyumbat saluran nafas.(sisa makanan, gigi palsu dll).
Jika penolong datang dengan tim. Maka lakukan perintah:
Nilai Pernafasan
Cek nadi
Tanya Saksi
Hubungi Bantuan
Siapkan Pertolongan.
d. Menilai Pernafasan (pemerikasa fisik)
Nilai pernafasan si korban dengan LDR (Lihat Dengar Rasakan) nilai selama 3 – 5 detik.
Caranya : letakan tangan penolong di atas perut Korban sedangkan posisi kepala ada di atas mulut si korban dengan mengarahkan telinga diatasnya. Dilihat apakah ada tanda-tanda pernafasan di perutnya. Didengar apakah ada hembusan nafasnya. Dirasakan nafasnya ada atau tidak.
Jika si korban tidak terlihat tanda-tanda bernafas, maka
Berikan nafas awal 2 kali.
*Cek nadi karotis (pada Leher). Selama 5 – 10 detik.
Jika nadi tidak ada, maka lakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru).
Berikan nafas 2 kali
LDR (apakah nafasnya ada atau tidak)
Jika tidak ada nafas Maka (back to* sampai nafasnya ada. Jika tidak di temukan korban benafas maka penolong bisa langsung membawanya ke tim medis. Dan tidak perlu melanjutkan pertolongan. Akan tetapi jika korban masih benafas, maka penolong bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.
3. Periksa pendarahan
Raba seluruh bagian tubuh si korban, apakah ada pendarahan terjadi atau tidak. Bagiannya adalah sebagai berikut :
a. Kepala g. Panggul
b. Leher h. Lengan
c. Tulang selangka i. Tungkai
d. Dada
e. Tulang rusuk
f. Perut
4. Periksa Fisik
Raba seluruh bagian tubuh si korban, apakah ada luka patah tulang atau pendarahan lainnya. Bagian yang diperiksa adalah sbb:
Kepala
Tengkorak bawah
Tengkorak atas
Dahi
Mata (pupil, bola mata, warna mata)
Tulang hidung (lubang hidung)
Pipi
Tulang rahang
Mulut (pangkal tenggorokan, Lidah, Gigi) ada cairan yang terlihat atau tidak
Telinga (daun telinga, Lubang telinga) ada cairan yang terlihat atau tidak
Leher
Tulang belakang leher (PLNB)
Pembuluh (ada pembesaran pada pembuluh/tidak)
Tenggorokan (ada pembengkokan pada tenggorokan/tidak)
Bahu
Tulang selangka
Dada (keseimbangannya)
Tulang rusuk (PLNB)
Perut
Kuadran atas kanan
Kuadran atas kiri
Kuadran bawah kanan
Kuadran bawah kiri
Panggul
(tekan dgn ke dua tangan kemudian gerakan )
Anggota gerak atas (Lengan)
Lengan Atas (PLNB)
Persendian (PLNB)
Lengan bawah (PLNB)
Telapak Tangan (GSS (gerakan sensasi sirkulasi)
Anggota Gerak Bawah (Tungkai)
Tungkai Atas (PLNB)
Persendian (PLNB)
Tungkai bawah (PLNB)
Telapak kaki (GSS (gerakan sensasi sirkulasi)
5. Periksa Tanda Vital
Denyut Nadi
Pernapasan
Kulit
Suhu Tubuh
Tekanan darah
I. Pemeriksaan denyut nadi
Nadi dapat diperiksa di :
i. Leher (Pembuluh nadi Leher/A. Karotis)
ii. Lengan atas (Pembuluh nadi lengan atas/A. Brakialis) pada bayi
iii. Pergelangan Tangan (pembuluh nadi pergelangan tangan/A.radialis)
iv. Lipat Paha (pembuluh Nadi lipat paha/A.femoralis)
Caranya :
a. raba nadi yang akan diperiksa dengan telunjuk dan jari tengah. Jangan menggunakan ibu jari, karena ibu jari memiliki denyut nadi sendiri yang dapat mengganggu penilaian kita.
b. Apabila denyut nadi teratur, nadi diperiksa selama 15 detik, hasilnya dikali 4. apabila tidak teratur, maka harus dilakukan selama 60 detik.
II. Pemeriksaan Pernafasan
Letakan tangan anda/tangan penderita pada dada atau perutnya lalu amati gerakan naik turunnya. Satu pernapasan adalah satu kali menghirup nafas dan satu kali mengeluarkan napas. Pernapasan dihitung selama 30 detik kemudian dikali 2 untuk mendapatkan hasil 1 menit. Jangan sampai penderit mengetahui anda akan memeriksa napas. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kekeliruan dalam pemeriksaan.
III. Pemeriksaan suhu Tubuh
IV. Warna kulit
V. Pemeriksaan tekanan darah.
Bila ada alat penunjang yaitu Sfigmanometer (alat pengukur tekanan darah) tahap ini bisa dilakukan.
6. Periksa tulang belakang
Tahap ini dilakukan saat memindahkan penderita ke atas tandu atau papan spinal. Pemeriksaan dilakukan untuk mencari PLNB.
7. Evakuasi pasien
8. Pemeriksaaan Berkala.
Langkah – Langkah melakukan RJP
1. Posisikan penderita terlentang di atas dasar yang keras. Misalnya di Lantai jangan di kasur.
2. Bebaskan pakaian di sekitan dada penderita.
3. Posisikan diri penolong di sebelah kanan penderita. Upayakan senyaman mungakin. Kedua lutut dibuka kira – kira selebar bahu.
4. Tentukan pertemuan lengkung iga kiri dan kanan. Raba rusuk paling bawah geser sampai bertemu dengan rusuk sisi berlawanan.
5. Tentukan titik pijatan dari pertemua ke 2 rusuk tersebut diukur 2 jari ke atas pada garis tengah tulang dada.
6. Posisikan tangan penolong pada titik pijatan.
7. Bahu penolong harus tegak.
1. Penilaian Keadaan (Leader)
Tahap ini dilakukan oleh si penolong untuk mengetahui keadaan baik si korban maupun mekanisme kejadian. Dalam melakukan penilaian keadaan ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu penolong melakukan analisa yaitu :
1. Menanyakan mekanisme kejadian
2. Menanyakan Jumlah korban
3. Menanyakan keadaan Lingkungan
2. Penilaian DINI (Leader)
a. Kesan umum
Pada langkah ini pertama – tama penolong harus menentukan apakah kasus yang dihadapi adalah kasus trauma atau kasus medis.
Kasus Trauma adalah kasus yang disebabkan oleh suatu ruda paksa. Mempunyai tanda-tanda yang jelas terlihat atau teraba.
Contoh : luka bakar, luka memar, patah tulang dll.
Kasus Medis adalah kasus yang diderita seseorang tanpa ada riwayat ruda paksa. Contoh: sesak nafas, pingsan,. Pada kasus ini penolong harus lebih berupaya mencari riwayat gangguannya. Misalnya meminta penderita itu sendiri, keluarganya bila di rumah atau saksi mata bila di luar rumah untuk menjelaskan keadaan penderita dari awal gejalanya sampai menjadi parah serinci mungkin.
(Ruda paksa adalah sejenis benturan.)
b. Memeriksa Respons
Respon seorang penderita adalah suatu cara sederhana untuk mendapatkan gambaran berat ringannya gangguan yang terjadi dalam otak.
Respon dinilai berdasarkan reaksi yang diberikan seorang penderita terhadap rangsang yang diberikan penolong. Respon penderita dibagi menjadi 4 tingkat yaitu Awas, Suara, Nyeri, Tidak Respon (ASNT)
A= awas
Penderita ini sadar dan mengetahui keberadaannya. Biasanya ditandai pasien tanggap terhadap orang, waktu, tempat serta namanya. Akan tetapi mungkin juga sebagian penderita terkesan sadar penuh namun tidak menyadari keadaan lingkungan dimana mereka berada.
S = Suara
Penderita dikatakan respon terhadap (rangsang) suara yang diberikan penolong jika :
Penderita hanya menjawab/bereaksi bila dipanggil atau mendengar suara
Penderita yang tidak dapat menjawab mengenai tempat dan waktu akan tetapi dapat mengikuti perintah sederhana.
Pada tahap ini penolong memberikan respon suara dengan cara menepuk bahu penderita dan tanyakan dengan suara lantang.
N = Nyeri
Penolong memberikan rangsangan berupa nyeri dengan cara cubitan kuat, penekanan ditengah tulang dada (bila tidak ada cedera dada). Bila penderita respons terhadap suara, maka rangsang nyeri ini tidak perlu dilakukan. Reaksi yang terlihat mungkin hanya membuka mata, erangan, melipat atau menjauhkan alat gerak, dan gerakan lainnya.
T = Tidak Respon
Jika penderita tidak bereaksi terhadap rangsang apapun maka orang itu dinyatakan tidak respon. Seorang penderita yang tidak sadar pasti memerlukan penanganan jalan nafas. Dan penatalaksanaan lainnya.
c. Membuka Jalan Nafas (Leader)
Ada dua cara untuk membuka jalan nafas
ADTD (Angkat Dagu Tekan Dahi) untuk pasien Respon
Caranya :
1. Letakkan tangan kiri anda pada dahi penderita.
2. Tekan dahi sedikit mengarah kebelakang.
3. Letakan ujung jari tangan kanan dibawah bagian ujung tulang rahang bawah.
4. Angkat dagu ke depan. (lakukan gerakan ini bersamaan tekan dahi)
5. Pertahankan tangan di dahi penderita untuk menjaga posisi kepala tetap ke belakang.
6. Buka mulut penderita dengan ibu jari tangan yang menekan dagu.
Jawtrust, untuk pasien tidak Respon.
Caranya :
1. Berlutut di sisi atas kepala penderita. Letakan kedua siku penolong sejajar dengan posisi penderita. Kedua tangan memegang sisi kepala.
2. Kedua sisi rahang dipegang (jika pasien anak kecil/bayi gunakan 2 atau 3 jari pada sisi rahang bawah)
3. Gunakan kedua tangan untuk menggerakan rahang bawah ke posisi depan secara perlahan. Gerakan ini mendorong lidah ke atas sehingga jalan nafas terbuka
4. Pertahankan posisi pasien tetap terbuka.
*Jangan lupa untuk memeriksa mulut penderita terutama yang mengalami penurunan respon/tidak ada respon. Apakah ada suatu benda yang dapat menyumbat saluran nafas.(sisa makanan, gigi palsu dll).
Jika penolong datang dengan tim. Maka lakukan perintah:
Nilai Pernafasan
Cek nadi
Tanya Saksi
Hubungi Bantuan
Siapkan Pertolongan.
d. Menilai Pernafasan (pemerikasa fisik)
Nilai pernafasan si korban dengan LDR (Lihat Dengar Rasakan) nilai selama 3 – 5 detik.
Caranya : letakan tangan penolong di atas perut Korban sedangkan posisi kepala ada di atas mulut si korban dengan mengarahkan telinga diatasnya. Dilihat apakah ada tanda-tanda pernafasan di perutnya. Didengar apakah ada hembusan nafasnya. Dirasakan nafasnya ada atau tidak.
Jika si korban tidak terlihat tanda-tanda bernafas, maka
Berikan nafas awal 2 kali.
*Cek nadi karotis (pada Leher). Selama 5 – 10 detik.
Jika nadi tidak ada, maka lakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru).
Berikan nafas 2 kali
LDR (apakah nafasnya ada atau tidak)
Jika tidak ada nafas Maka (back to* sampai nafasnya ada. Jika tidak di temukan korban benafas maka penolong bisa langsung membawanya ke tim medis. Dan tidak perlu melanjutkan pertolongan. Akan tetapi jika korban masih benafas, maka penolong bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.
3. Periksa pendarahan
Raba seluruh bagian tubuh si korban, apakah ada pendarahan terjadi atau tidak. Bagiannya adalah sebagai berikut :
a. Kepala g. Panggul
b. Leher h. Lengan
c. Tulang selangka i. Tungkai
d. Dada
e. Tulang rusuk
f. Perut
4. Periksa Fisik
Raba seluruh bagian tubuh si korban, apakah ada luka patah tulang atau pendarahan lainnya. Bagian yang diperiksa adalah sbb:
Kepala
Tengkorak bawah
Tengkorak atas
Dahi
Mata (pupil, bola mata, warna mata)
Tulang hidung (lubang hidung)
Pipi
Tulang rahang
Mulut (pangkal tenggorokan, Lidah, Gigi) ada cairan yang terlihat atau tidak
Telinga (daun telinga, Lubang telinga) ada cairan yang terlihat atau tidak
Leher
Tulang belakang leher (PLNB)
Pembuluh (ada pembesaran pada pembuluh/tidak)
Tenggorokan (ada pembengkokan pada tenggorokan/tidak)
Bahu
Tulang selangka
Dada (keseimbangannya)
Tulang rusuk (PLNB)
Perut
Kuadran atas kanan
Kuadran atas kiri
Kuadran bawah kanan
Kuadran bawah kiri
Panggul
(tekan dgn ke dua tangan kemudian gerakan )
Anggota gerak atas (Lengan)
Lengan Atas (PLNB)
Persendian (PLNB)
Lengan bawah (PLNB)
Telapak Tangan (GSS (gerakan sensasi sirkulasi)
Anggota Gerak Bawah (Tungkai)
Tungkai Atas (PLNB)
Persendian (PLNB)
Tungkai bawah (PLNB)
Telapak kaki (GSS (gerakan sensasi sirkulasi)
5. Periksa Tanda Vital
Denyut Nadi
Pernapasan
Kulit
Suhu Tubuh
Tekanan darah
I. Pemeriksaan denyut nadi
Nadi dapat diperiksa di :
i. Leher (Pembuluh nadi Leher/A. Karotis)
ii. Lengan atas (Pembuluh nadi lengan atas/A. Brakialis) pada bayi
iii. Pergelangan Tangan (pembuluh nadi pergelangan tangan/A.radialis)
iv. Lipat Paha (pembuluh Nadi lipat paha/A.femoralis)
Caranya :
a. raba nadi yang akan diperiksa dengan telunjuk dan jari tengah. Jangan menggunakan ibu jari, karena ibu jari memiliki denyut nadi sendiri yang dapat mengganggu penilaian kita.
b. Apabila denyut nadi teratur, nadi diperiksa selama 15 detik, hasilnya dikali 4. apabila tidak teratur, maka harus dilakukan selama 60 detik.
II. Pemeriksaan Pernafasan
Letakan tangan anda/tangan penderita pada dada atau perutnya lalu amati gerakan naik turunnya. Satu pernapasan adalah satu kali menghirup nafas dan satu kali mengeluarkan napas. Pernapasan dihitung selama 30 detik kemudian dikali 2 untuk mendapatkan hasil 1 menit. Jangan sampai penderit mengetahui anda akan memeriksa napas. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kekeliruan dalam pemeriksaan.
III. Pemeriksaan suhu Tubuh
IV. Warna kulit
V. Pemeriksaan tekanan darah.
Bila ada alat penunjang yaitu Sfigmanometer (alat pengukur tekanan darah) tahap ini bisa dilakukan.
6. Periksa tulang belakang
Tahap ini dilakukan saat memindahkan penderita ke atas tandu atau papan spinal. Pemeriksaan dilakukan untuk mencari PLNB.
7. Evakuasi pasien
8. Pemeriksaaan Berkala.
Langkah – Langkah melakukan RJP
1. Posisikan penderita terlentang di atas dasar yang keras. Misalnya di Lantai jangan di kasur.
2. Bebaskan pakaian di sekitan dada penderita.
3. Posisikan diri penolong di sebelah kanan penderita. Upayakan senyaman mungakin. Kedua lutut dibuka kira – kira selebar bahu.
4. Tentukan pertemuan lengkung iga kiri dan kanan. Raba rusuk paling bawah geser sampai bertemu dengan rusuk sisi berlawanan.
5. Tentukan titik pijatan dari pertemua ke 2 rusuk tersebut diukur 2 jari ke atas pada garis tengah tulang dada.
6. Posisikan tangan penolong pada titik pijatan.
7. Bahu penolong harus tegak.
pembalutan
Pertolongan Pertama
Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau korban kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar untuk mencegah cacat atau maut.
Tujuan Pertolongan Pertama
1. Menyelamatkan jiwa penderita
2. Mencegah cacat
3. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan
Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu
Dalam perkembangannya tindakan pertolongan pertama diharapkan menjadi bagian dari suatu sistem yang dikenal dengan istilah Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu, yaitu sistem pelayanan kedaruratan bagi masyarakat yang membutuhkan, khususnya di bidang kesehatan.
Komponen Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu:
1. Akses dan Komunikasi
Masyarakat harus mengetahui kemana mereka harus meminta bantuan, baik yang umum maupun yang khusus.
2. Pelayanan Pra Rumah Sakit
Secara umum semua orang boleh memberikan pertolongan.
Klasifikasi Penolong:
a. Orang Awam
Tidak terlatih atau memiliki sedikit pengetahuan pertolongan pertama
b. Penolong pertama
Kualifikasi ini yang dicapai oleh KSR PMI
c. Tenaga Khusus/Terlatih
Tenaga yang dilatih secara khusus untuk menanggulangi kedaruratan di Lapangan
3. Tansportasi
Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi
Persetujuan Pertolongan
Saat memberikan pertolongan sangat penting untuk meminta izin kepada korban terlebih dahulu atau kepada keluarga, orang disekitar bila korban tidak sadar. Ada 2 macam izin yang dikenal dalam pertolongan pertama :
1. Persetujuan yang dianggap diberikan atau tersirat (Implied Consent)
Persetujuan yang diberikan pendarita sadar dengan cara memberikan isyarat, atau penderita tidak sadar, atau pada anak kecil yang tidak mampu atau dianggap tidak mampu memberikan persetujuan
2. Pesetujuan yang dinyatakan (Expressed Consent)
Persetujuan yang dinyatakan secara lisan maupun tulisan oleh penderita.
Alat Perlindungan Diri
Keamanan penolong merupakan hal yang sangat penting, sebaiknya dilengkapi dengan peralatan yang dikenal sebagai Alat Perlindungan Diri antara lain :
a. Sarung tangan lateks
Pada dasarnya semua cairan tubuh dianggap dapat menularkan penyakit.
b. Kaca mata pelindung
Mata juga termasuk pintu gerbang masuknya penyakit kedalam tubuh manusia
c. Baju pelindung
Mengamankan tubuh penolong dari merembesnya carian tubuh melalui pakaian.
d. Masker penolong
Mencegah penularan penyakit melalui udara
e. Masker Resusitasi Jantung Paru
Masker yang dipergunakan untuk memberikan bantuan napas
f. Helm
Seiring risiko adanya benturan pada kepala meningkat. Helm dapat mencegah terjadinya cedera pada kepala saat melakukan pertolongan.
Kewajiban Pelaku Pertolongan Pertama
Dalam menjalankan tugasnya ada beberapa kewajiban yang harus dilakukan :
a. Menjaga keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya.
b. Dapat menjangkau penderita.
c. Dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa.
d. Meminta bantuan/rujukan.
e. Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat berdasarkan keadaan korban
f. Membantu pelaku pertolongan pertama lainnya.
g. Ikut menjaga kerahasiaan medis penderita.
h. Melakukan komunikasi dengan petugas lain yang terlibat.
i. Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi.
Kualifikasi Pelaku Pertolongan Pertama
Agar dapat menjalankan tugas seorang petugas penolong harus memiliki kualifikasi sebagai berikut :
a. Jujur dan bertanggungjawab.
b. Memiliki sikap profesional.
c. Kematangan emosi.
d. Kemampuan bersosialisasi.
e. Kemampuannya nyata terukur sesuai sertifikasi PMI. Secara berkesinambungan mengikuti kursus penyegaran.
f. Selalu dalam keadaan siap, khususnya secara fisik
g. Mempunyai rasa bangga.
Fungsi Alat dan Bahan Dasar
Dalam menjalankan tugasnya ada beberapa peralatan dasar yang sebaiknya tersedia dan mampu digunakan oleh penolong di antaranya :
1. Alat dan bahan memeriksa korban
2. Alat dan bahan perawatan luka
3. Alat dan bahan perawatan patah tulang
4. Alat untuk memindahkan penderita
5. Alat lain yang dianggap perlu sesuai dengan kemampuan
Syok
Syok terjadi bila sistem peredaran darah (sirkulasi) gagal mengirimkan darah yang mengandung oksigen dan bahan nutrisi ke alat tubuh yang penting (terutama otak, jantung dan paru-paru).
Penyebab
Kegagalan jantung memompa darah
Kehilangan darah dalam jumlah besar
Pelebaran ( dilatasi ) pembuluh darah yang luas, sehingga darah tidak dapat mengisinya dengan baik
Kekurangan cairan tubuh yang banyak misalnya diare.
Gejala dan tanda syok
Nadi cepat dan lemah
Napas cepat dan dangkal
Kulit pucat,dingin dan lembab
Sering kebiruan pada bibir dan cuping telinga
Haus
Mual dan muntah
Lemah dan pusing
Merasa seperti mau kiamat, gelisah
Penanganan syok
Bawa penderita ke tempat teduh dan aman
Tidurkan telentang, tungkai ditinggikan 20 – 30 cm bila tidak ada kecurigaan patah tulang belakang atau patah tungkai. Bila menggunakan papan spinal atau tandu maka angkat bagian kaki.
Pakaian penderita dilonggarkan
Cegah kehilangan panas tubuh dengan beri selimut penutup
Tenangkan penderita
Pastikan jalan napas dan pernapasan baik.
Kontrol perdarahan dan rawat cedera lainnya bila ada
Jangan beri makan dan minum.
Periksa berkala tanda vital secara berkala
Rujuk ke fasilitas kesehatan
Jaringan Lunak
Pengertian
Cedera jaringan lunak adalah cedera yang melibatkan jaringan kulit, otot, saraf atau pembuluh darah akibat suatu ruda paksa. Keadaan ini umumnya dikenal dengan istilah luka. Beberapa penyulit yang dapat terjadi adalah perdarahan, kelumpuhan serta berbagai gangguan lainnya sesuai dengan penyebab dan beratnya cedera yang terjadi.
Klasifikasi Luka
Luka secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Luka terbuka
Cedera jaringan lunak disertai kerusakan / terputusnya jaringan kulit yaitu rusaknya kulit dan bisa disertai jaringan di bawah kulit.
b. Luka tertutup
Cedera jaringan lunak tanpa kerusakan/terputusnya jaringan kulit, yang rusak hanya jaringan di bawah kulit.
Pembagian ini tidak menjadi penentu berat ringannya suatu cedera.
Luka Terbuka
Luka terbuka dapat ditemukan dalam berbagai bentuk diantaranya :
a. Luka lecet
Terjadi biasanya akibat gesekan dengan permukaan yang tidak rata
b. Luka robek
Luka ini memiliki ciri tepi yang tidak beraturan, biasanya terjadi akibat tumbukan dengan benda yang relatif tumpul. Merupakan luka yang paling banyak ditemukan.
c. Luka sayat
Diakibatkan oleh benda tajam yang mengenai tubuh manusia. Bentuk lukanya biasanya rapi. Sering merupakan kasus kriminal
d. Luka tusuk
Terjadi bila benda yang melukai bisa masuk jauh ke dalam tubuh, biasanya kedalaman luka jauh dibandingkan lebar luka. Bahayanya alat dalam tubuh mungkin terkena.
e. Luka avulsi
Luka ini ditandai dengan bagian tubuh yang terlepas, namun masih ada bagian yang menempel.
f. Luka amputasi
Bagian tubuh tertentu putus.
Luka Tertutup
Luka tertutup yang sering ditemukan adalah :
a. Luka memar
Terjadi akibat benturan dengan benda tumpul, biasanya terjadi di daerah permukaan tubuh, darah keluar dari pembuluh dan terkumpul di bawah hulit sehingga bisa terlihat dari luar berupa warna merah kebiruan
b. Hematoma (darah yang terkumpul di jaringan)
Prinsipnya sama dengan luka memar tetapi pembuluh darah yang rusak berada jauh di bawah permukaan kulit dan biasanya besar, sehingga yang terlihat adalah bengkak, biasanya besar yang kemerahan.
c. Luka remuk
Terjadi akibat himpitan gaya yang sangat besar. Dapat juga menjadi luka terbuka. Biasanya tulang menajadi patah di beberapa tempat.
Penutup dan Pembalut Luka
Penutup luka
1. Membantu mengendalikan perdarahan
2. Mencegah kontaminasi lebih lanjut
3. Mempercepat penyembuhan
4. Mengurangi nyeri
Pembalut
Pembalut adalah bahan yang digunakan untuk mempertahankan penutup luka. Bahan pembalut dibuat dari bermacam materi kain.
Fungsi pembalut
1. Penekanan untuk membantu menghentikan perdarahan.
2. Mempertahankan penutup luka pada tempatnya.
3. Menjadi penopang untuk bagian tubuh yang cedera.
Pemasangan yang baik akan membantu proses penyembuhan.
Beberapa jenis pembalut
Pembalut pita/gulung.
Pembalut segitiga (mitela).
Pembalut penekan.
Penutupan luka
Penutup luka harus meliputi seluruh permukaan luka.
Upayakan permukaan luka sebersih mungkin sebelum menutup luka, kecuali bila luka disertai perdarahan, maka prioritasnya adalah menghentikan perdarahan tersebut.
Pemasangan penutup luka harus dilakukan sedemikian rupa sehingga permukaan penutup yang menempel pada bagian luka tidak terkontaminasi
Pembalutan
Jangan memasang pembalut sampai perdarahan terhenti, kecuali pembalutan penekanan untuk menghentikan perdarahan.
Jangan membalut terlalu kencang atau terlalu longgar.
Jangan biarkan ujung bahan terurai, karena dapat tersangkut pada saat memindahkan korban
Bila membalut luka yang kecil sebaiknya daerah yang dibalut lebih lebar untuk menambah luasnya permukaan yang mengalami tekanan diperluas sehingga mencegah terjadinya kerusakan jaringan.
Jangan menutupi ujung jari, bagian ini dapat menjadi petunjuk apabila pembalutan kita terlalu kuat yaitu dengan mengamati ujung jari. Bila pucat artinya pembalutan terlalu kuat dan harus diperbaiki.
Khusus pada anggota gerak pembalutan dilakukan dari bagian yang jauh lebih dahulu lalu mendekati tubuh.
Lakukan pembalutan dalam posisi yang diinginkan, misalnya untuk pembalutan sendi jangan berusaha menekuk sendi bila dibalut dalam keadaan lurus.
Penggunaan penutup luka penekan
Kombinasi penutup luka dan pembalut dapat juga dipakai untuk membantu melakukan tekanan langsung pada kasus perdarahan. Langkah-langkahnya :
1. Tempatkan beberapa penutup luka kasa steril langsung atas luka dan tekan.
2. Beri bantalan penutup luka.
3. Gunakan pembalut rekat, menahan penutup luka.
4. Balut.
5. Periksa denyut nadi ujung bawah daerah luka (distal).
Perawatan luka Terbuka
1. Pastikan daerah luka terlihat
2. Bersihkan daerah sekitar luka
3. Kontrol perdarahan bila ada
4. Cegah kontaminasi lanjut
5. Beri penutup luka dan balut
6. Baringkan penderita bila kehilangan banyak darah dan lukanya cukup parah
7. Tenangkan penderita
8. Atasi syok bila ada, bila perlu rawat pada posisi syok walau syok belum terjadi
9. Rujuk ke fasilitas kesehatan
Perawatan Luka Tertutup
Lakukan perawatan seperti halnya terjadi perdarahan dalam
Khusus untuk luka memar dapat dilakukan pertolongan sebagai berikut :
Berikan kompres dingin (misalnya kantung es)
Balut tekan
Istirahatkan anggota gerak tersebut
Tinggikan anggota gerak tersebut
Bila ada kecurigaan perdarahan besar maka sebaiknya pederita dirawat seperti syok.
Perawatan luka dengan benda asing menancap
Langkah-langkah perawatan luka yang disertai dengan menancapnya benda asing adalah sebagai berikut :
1. Stabilkan benda yang menancap secara manual.
2. Jangan dicabut. Benda asing yang menancap tidak pernah boleh dicabut
3. Bagian yang luka dibuka sehingga terlihat dengan jelas.
4. Kendalikan perdarahan, hati-hati jangan sampai menekan benda yang menancap
5. Stabilkan benda asing tersebut dengan menggunakan penutup luka tebal, atau berbagai variasi misalnya pembalut donat, pembalut gulung dan lain-lainnya.
6. Rawat syok bila ada
7. Jaga pasien tetap istirahat dan tenang.
8. Rujuk ke fasilitas kesehatan
Patah Tulang
Cedera Otot Rangka
Alat gerak yang terdiri dari tulang, sendi, jaringan ikat dan otot pada manusia sangat penting. Setiap cedera atau gangguan yang terjadi pada sistem ini akan mengakibatkan terganggunya pergerakan seseorang untuk sementara atau selamanya.
Gangguan yang paling sering dialami pada cedera otot rangka adalah Patah tulang. Pengertian patah tulang ialah terputusnya jaringan tulang, baik seluruhnya atau hanya sebagian saja.
Penyebab
Pada dasarnya tulang itu merupakan benda padat, namun masih sedikit memiliki kelenturan. Bila teregang melampau batas kelenturannya maka tulang tersebut akan patah.
Cedera dapat terjadi sebagai akibat :
1. Gaya langsung.
Tulang langsung menerima gaya yang besar sehingga patah.
2. Gaya tidak langsung.
Gaya yang terjadi pada satu bagian tubuh diteruskan ke bagian tubuh lainnya yang relatif lemah, sehingga akhirnya bagian lain iilah yang patah. Bagian yang menerima benturan langsung tidak mengalami cedera berarti
3. Gaya puntir.
Selain gaya langsung, juga tulang dapat menerima puntiran atau terputar sampai patah. Ini sering terjadi pada lengan.
Mekanisme terjadinya cedera harus diperhatikan pada kasus-kasus yang berhubungan dengan patah tulang. Ini dapat memberikan gambaran kasar kepada kita seberapa berat cedera yang kita hadapi.
Gejala dan tanda patah tulang
Mengingat besarnya gaya yang diterima maka kadang kasus patah tulang gejalanya dapat tidak jelas. Beberapa gejala dan tanda yang mungkin dijumpai pada patah tulang :
1. Terjadi perubahan bentuk pada anggota badan yang patah. Seing merupakan satu-satunya tanda yang terlihat. Cara yang paling baik untuk menentukannya adalah dengan membandingkannya dengan sisi yang sehat.
2. Nyeri di daerah yang patah dan kaku pada saat ditekan atau bila digerakkan.
3. Bengkak, disertai memar / perubahan warna di daerah yang cedera.
4. Terdengar suara berderak pada daerah yang patah (suara ini tidak perlu dibuktikan dengan menggerakkan bagian cedera tersebut).
5. Mungkin terlihat bagian tulang yang patah pada luka.
Pembagian Patah Tulang
Berdasarkan kedaruratannya patah tulang dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Patah tulang terbuka
2. Patah tulang tertutup
Yang membedakannya adalah lapisan kulit di atas bagian yang patah. Pada patah tulang terbuka, kulit di permukaan daerah yang patah terluka. Pada kasus yang berat bagian tulang yang patah terlihat dari luar. Perbedaannya adalah jika ada luka maka kuman akan dengan mudah sampai ke tulang, sehingga dapat terjadi infeksi tulang. Patah tulang terbuka termasuk kedaruratan segera.
Pembidaian
Penanganan patah tulang yang paling utama adalah dengan melakukan pembidaian. Pembidaian adalah berbagai tindakan dan upaya untuk mengistirahatkan bagian yang patah.
Tujuan pembidaian
1. Mencegah pergerakan/pergeseran dari ujung tulang yang patah.
2. Mengurangi terjadinya cedera baru disekitar bagian tulang yang patah.
3. Memberi istirahat pada anggota badan yang patah.
4. Mengurangi rasa nyeri.
5. Mempercepat penyembuhan
Beberapa macam jenis bidai :
1. Bidai keras.
Umumnya terbuat dari kayu, alumunium, karton, plastik atau bahan lain yang kuat dan ringan. Pada dasarnya merupakan bidai yang paling baik dan sempurna dalam keadaan darurat. Kesulitannya adalah mendapatkan bahan yang memenuhi syarat di lapangan.
Contoh : bidai kayu, bidai udara, bidai vakum.
2. Bidai traksi.
Bidai bentuk jadi dan bervariasi tergantung dari pembuatannya, hanya dipergunakan oleh tenaga yang terlatih khusus, umumnya dipakai pada patah tulang paha.
Contoh : bidai traksi tulang paha
3. Bidai improvisasi.
Bidai yang dibuat dengan bahan yang cukup kuat dan ringan untuk penopang. Pembuatannya sangat tergantung dari bahan yang tersedia dan kemampuan improvisasi si penolong.
Contoh : majalah, koran, karton dan lain-lain.
4. Gendongan/Belat dan bebat.
Pembidaian dengan menggunakan pembalut, umumnya dipakai mitela (kain segitiga) dan memanfaatkan tubuh penderita sebagai sarana untuk menghentikan pergerakan daerah cedera.
Contoh : gendongan lengan.
Pedoman umum pembidaian
Membidai dengan bidai jadi ataupun improvisasi, haruslah tetap mengikuti pedoman umum.
1. Sedapat mungkin beritahukan rencana tindakan kepada penderita.
2. Sebelum membidai paparkan seluruh bagian yang cedera dan rawat perdarahan bila ada.
3. Selalu buka atau bebaskan pakaian pada daerah sendi sebelum membidai, buka perhiasan di daerah patah atau di bagian distalnya.
4. Nilai gerakan-sensasi-sirkulasi (GSS) pada bagian distal cedera sebelum melakukan pembidaian.
5. Siapkan alat-alat selengkapnya.
1. 6. Jangan berupaya merubah posisi bagian yang cedera. Upayakan membidai dalam posisi ketika ditemukan.
6. Jangan berusaha memasukkan bagian tulang yang patah.
7. Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah. Sebelum dipasang diukur lebih dulu pada anggota badan penderita yang sehat.
8. Bila cedera terjadi pada sendi, bidai kedua tulang yang mengapit sendi tersebut. Upayakan juga membidai sendi distalnya.
9. Lapisi bidai dengan bahan yang lunak, bila memungkinkan.
10. Isilah bagian yang kosong antara tubuh dengan bidai dengan bahan pelapis.
11. Ikatan jangan terlalu keras dan jangan longgar.
12. Ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari sendi yang banyak bergerak, kemudian sendi atas dari tulang yang patah.
13. Selesai dilakukan pembidaian, dilakukan pemeriksaan GSS kembali, bandingkan dengan pemeriksaan GSS yang pertama.
14. Jangan membidai berlebihan.
Pertolongan cedera alat gerak
1. Lakukan penilaian dini.
• Kenali dan atasi keadaan yang mengancam jiwa.
• Jangan terpancing oleh cedera yang terlihat berat.
2. Lakukan pemeriksaan fisik.
3. Stabilkan bagian yang patah secara manual, pegang sisi sebelah atas dan sebelah bawah cedera, jangan sampai menambah rasa sakit penderita.
4. Paparkan seluruh bagian yang diduga cedera.
5. Atasi perdarahan dan rawat luka bila ada.
6. Siapkan semua peralatan dan bahan untuk membidai.
7. Lakukan pembidaian.
8. Kurangi rasa sakit.
• Istirahatkan bagian yang cedera.
• Kompres es bagian yang cedera (khususnya pada patah tulang tertutup).
• Baringkan penderita pada posisi yang nyaman.
Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau korban kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar untuk mencegah cacat atau maut.
Tujuan Pertolongan Pertama
1. Menyelamatkan jiwa penderita
2. Mencegah cacat
3. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan
Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu
Dalam perkembangannya tindakan pertolongan pertama diharapkan menjadi bagian dari suatu sistem yang dikenal dengan istilah Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu, yaitu sistem pelayanan kedaruratan bagi masyarakat yang membutuhkan, khususnya di bidang kesehatan.
Komponen Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu:
1. Akses dan Komunikasi
Masyarakat harus mengetahui kemana mereka harus meminta bantuan, baik yang umum maupun yang khusus.
2. Pelayanan Pra Rumah Sakit
Secara umum semua orang boleh memberikan pertolongan.
Klasifikasi Penolong:
a. Orang Awam
Tidak terlatih atau memiliki sedikit pengetahuan pertolongan pertama
b. Penolong pertama
Kualifikasi ini yang dicapai oleh KSR PMI
c. Tenaga Khusus/Terlatih
Tenaga yang dilatih secara khusus untuk menanggulangi kedaruratan di Lapangan
3. Tansportasi
Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi
Persetujuan Pertolongan
Saat memberikan pertolongan sangat penting untuk meminta izin kepada korban terlebih dahulu atau kepada keluarga, orang disekitar bila korban tidak sadar. Ada 2 macam izin yang dikenal dalam pertolongan pertama :
1. Persetujuan yang dianggap diberikan atau tersirat (Implied Consent)
Persetujuan yang diberikan pendarita sadar dengan cara memberikan isyarat, atau penderita tidak sadar, atau pada anak kecil yang tidak mampu atau dianggap tidak mampu memberikan persetujuan
2. Pesetujuan yang dinyatakan (Expressed Consent)
Persetujuan yang dinyatakan secara lisan maupun tulisan oleh penderita.
Alat Perlindungan Diri
Keamanan penolong merupakan hal yang sangat penting, sebaiknya dilengkapi dengan peralatan yang dikenal sebagai Alat Perlindungan Diri antara lain :
a. Sarung tangan lateks
Pada dasarnya semua cairan tubuh dianggap dapat menularkan penyakit.
b. Kaca mata pelindung
Mata juga termasuk pintu gerbang masuknya penyakit kedalam tubuh manusia
c. Baju pelindung
Mengamankan tubuh penolong dari merembesnya carian tubuh melalui pakaian.
d. Masker penolong
Mencegah penularan penyakit melalui udara
e. Masker Resusitasi Jantung Paru
Masker yang dipergunakan untuk memberikan bantuan napas
f. Helm
Seiring risiko adanya benturan pada kepala meningkat. Helm dapat mencegah terjadinya cedera pada kepala saat melakukan pertolongan.
Kewajiban Pelaku Pertolongan Pertama
Dalam menjalankan tugasnya ada beberapa kewajiban yang harus dilakukan :
a. Menjaga keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya.
b. Dapat menjangkau penderita.
c. Dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa.
d. Meminta bantuan/rujukan.
e. Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat berdasarkan keadaan korban
f. Membantu pelaku pertolongan pertama lainnya.
g. Ikut menjaga kerahasiaan medis penderita.
h. Melakukan komunikasi dengan petugas lain yang terlibat.
i. Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi.
Kualifikasi Pelaku Pertolongan Pertama
Agar dapat menjalankan tugas seorang petugas penolong harus memiliki kualifikasi sebagai berikut :
a. Jujur dan bertanggungjawab.
b. Memiliki sikap profesional.
c. Kematangan emosi.
d. Kemampuan bersosialisasi.
e. Kemampuannya nyata terukur sesuai sertifikasi PMI. Secara berkesinambungan mengikuti kursus penyegaran.
f. Selalu dalam keadaan siap, khususnya secara fisik
g. Mempunyai rasa bangga.
Fungsi Alat dan Bahan Dasar
Dalam menjalankan tugasnya ada beberapa peralatan dasar yang sebaiknya tersedia dan mampu digunakan oleh penolong di antaranya :
1. Alat dan bahan memeriksa korban
2. Alat dan bahan perawatan luka
3. Alat dan bahan perawatan patah tulang
4. Alat untuk memindahkan penderita
5. Alat lain yang dianggap perlu sesuai dengan kemampuan
Syok
Syok terjadi bila sistem peredaran darah (sirkulasi) gagal mengirimkan darah yang mengandung oksigen dan bahan nutrisi ke alat tubuh yang penting (terutama otak, jantung dan paru-paru).
Penyebab
Kegagalan jantung memompa darah
Kehilangan darah dalam jumlah besar
Pelebaran ( dilatasi ) pembuluh darah yang luas, sehingga darah tidak dapat mengisinya dengan baik
Kekurangan cairan tubuh yang banyak misalnya diare.
Gejala dan tanda syok
Nadi cepat dan lemah
Napas cepat dan dangkal
Kulit pucat,dingin dan lembab
Sering kebiruan pada bibir dan cuping telinga
Haus
Mual dan muntah
Lemah dan pusing
Merasa seperti mau kiamat, gelisah
Penanganan syok
Bawa penderita ke tempat teduh dan aman
Tidurkan telentang, tungkai ditinggikan 20 – 30 cm bila tidak ada kecurigaan patah tulang belakang atau patah tungkai. Bila menggunakan papan spinal atau tandu maka angkat bagian kaki.
Pakaian penderita dilonggarkan
Cegah kehilangan panas tubuh dengan beri selimut penutup
Tenangkan penderita
Pastikan jalan napas dan pernapasan baik.
Kontrol perdarahan dan rawat cedera lainnya bila ada
Jangan beri makan dan minum.
Periksa berkala tanda vital secara berkala
Rujuk ke fasilitas kesehatan
Jaringan Lunak
Pengertian
Cedera jaringan lunak adalah cedera yang melibatkan jaringan kulit, otot, saraf atau pembuluh darah akibat suatu ruda paksa. Keadaan ini umumnya dikenal dengan istilah luka. Beberapa penyulit yang dapat terjadi adalah perdarahan, kelumpuhan serta berbagai gangguan lainnya sesuai dengan penyebab dan beratnya cedera yang terjadi.
Klasifikasi Luka
Luka secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Luka terbuka
Cedera jaringan lunak disertai kerusakan / terputusnya jaringan kulit yaitu rusaknya kulit dan bisa disertai jaringan di bawah kulit.
b. Luka tertutup
Cedera jaringan lunak tanpa kerusakan/terputusnya jaringan kulit, yang rusak hanya jaringan di bawah kulit.
Pembagian ini tidak menjadi penentu berat ringannya suatu cedera.
Luka Terbuka
Luka terbuka dapat ditemukan dalam berbagai bentuk diantaranya :
a. Luka lecet
Terjadi biasanya akibat gesekan dengan permukaan yang tidak rata
b. Luka robek
Luka ini memiliki ciri tepi yang tidak beraturan, biasanya terjadi akibat tumbukan dengan benda yang relatif tumpul. Merupakan luka yang paling banyak ditemukan.
c. Luka sayat
Diakibatkan oleh benda tajam yang mengenai tubuh manusia. Bentuk lukanya biasanya rapi. Sering merupakan kasus kriminal
d. Luka tusuk
Terjadi bila benda yang melukai bisa masuk jauh ke dalam tubuh, biasanya kedalaman luka jauh dibandingkan lebar luka. Bahayanya alat dalam tubuh mungkin terkena.
e. Luka avulsi
Luka ini ditandai dengan bagian tubuh yang terlepas, namun masih ada bagian yang menempel.
f. Luka amputasi
Bagian tubuh tertentu putus.
Luka Tertutup
Luka tertutup yang sering ditemukan adalah :
a. Luka memar
Terjadi akibat benturan dengan benda tumpul, biasanya terjadi di daerah permukaan tubuh, darah keluar dari pembuluh dan terkumpul di bawah hulit sehingga bisa terlihat dari luar berupa warna merah kebiruan
b. Hematoma (darah yang terkumpul di jaringan)
Prinsipnya sama dengan luka memar tetapi pembuluh darah yang rusak berada jauh di bawah permukaan kulit dan biasanya besar, sehingga yang terlihat adalah bengkak, biasanya besar yang kemerahan.
c. Luka remuk
Terjadi akibat himpitan gaya yang sangat besar. Dapat juga menjadi luka terbuka. Biasanya tulang menajadi patah di beberapa tempat.
Penutup dan Pembalut Luka
Penutup luka
1. Membantu mengendalikan perdarahan
2. Mencegah kontaminasi lebih lanjut
3. Mempercepat penyembuhan
4. Mengurangi nyeri
Pembalut
Pembalut adalah bahan yang digunakan untuk mempertahankan penutup luka. Bahan pembalut dibuat dari bermacam materi kain.
Fungsi pembalut
1. Penekanan untuk membantu menghentikan perdarahan.
2. Mempertahankan penutup luka pada tempatnya.
3. Menjadi penopang untuk bagian tubuh yang cedera.
Pemasangan yang baik akan membantu proses penyembuhan.
Beberapa jenis pembalut
Pembalut pita/gulung.
Pembalut segitiga (mitela).
Pembalut penekan.
Penutupan luka
Penutup luka harus meliputi seluruh permukaan luka.
Upayakan permukaan luka sebersih mungkin sebelum menutup luka, kecuali bila luka disertai perdarahan, maka prioritasnya adalah menghentikan perdarahan tersebut.
Pemasangan penutup luka harus dilakukan sedemikian rupa sehingga permukaan penutup yang menempel pada bagian luka tidak terkontaminasi
Pembalutan
Jangan memasang pembalut sampai perdarahan terhenti, kecuali pembalutan penekanan untuk menghentikan perdarahan.
Jangan membalut terlalu kencang atau terlalu longgar.
Jangan biarkan ujung bahan terurai, karena dapat tersangkut pada saat memindahkan korban
Bila membalut luka yang kecil sebaiknya daerah yang dibalut lebih lebar untuk menambah luasnya permukaan yang mengalami tekanan diperluas sehingga mencegah terjadinya kerusakan jaringan.
Jangan menutupi ujung jari, bagian ini dapat menjadi petunjuk apabila pembalutan kita terlalu kuat yaitu dengan mengamati ujung jari. Bila pucat artinya pembalutan terlalu kuat dan harus diperbaiki.
Khusus pada anggota gerak pembalutan dilakukan dari bagian yang jauh lebih dahulu lalu mendekati tubuh.
Lakukan pembalutan dalam posisi yang diinginkan, misalnya untuk pembalutan sendi jangan berusaha menekuk sendi bila dibalut dalam keadaan lurus.
Penggunaan penutup luka penekan
Kombinasi penutup luka dan pembalut dapat juga dipakai untuk membantu melakukan tekanan langsung pada kasus perdarahan. Langkah-langkahnya :
1. Tempatkan beberapa penutup luka kasa steril langsung atas luka dan tekan.
2. Beri bantalan penutup luka.
3. Gunakan pembalut rekat, menahan penutup luka.
4. Balut.
5. Periksa denyut nadi ujung bawah daerah luka (distal).
Perawatan luka Terbuka
1. Pastikan daerah luka terlihat
2. Bersihkan daerah sekitar luka
3. Kontrol perdarahan bila ada
4. Cegah kontaminasi lanjut
5. Beri penutup luka dan balut
6. Baringkan penderita bila kehilangan banyak darah dan lukanya cukup parah
7. Tenangkan penderita
8. Atasi syok bila ada, bila perlu rawat pada posisi syok walau syok belum terjadi
9. Rujuk ke fasilitas kesehatan
Perawatan Luka Tertutup
Lakukan perawatan seperti halnya terjadi perdarahan dalam
Khusus untuk luka memar dapat dilakukan pertolongan sebagai berikut :
Berikan kompres dingin (misalnya kantung es)
Balut tekan
Istirahatkan anggota gerak tersebut
Tinggikan anggota gerak tersebut
Bila ada kecurigaan perdarahan besar maka sebaiknya pederita dirawat seperti syok.
Perawatan luka dengan benda asing menancap
Langkah-langkah perawatan luka yang disertai dengan menancapnya benda asing adalah sebagai berikut :
1. Stabilkan benda yang menancap secara manual.
2. Jangan dicabut. Benda asing yang menancap tidak pernah boleh dicabut
3. Bagian yang luka dibuka sehingga terlihat dengan jelas.
4. Kendalikan perdarahan, hati-hati jangan sampai menekan benda yang menancap
5. Stabilkan benda asing tersebut dengan menggunakan penutup luka tebal, atau berbagai variasi misalnya pembalut donat, pembalut gulung dan lain-lainnya.
6. Rawat syok bila ada
7. Jaga pasien tetap istirahat dan tenang.
8. Rujuk ke fasilitas kesehatan
Patah Tulang
Cedera Otot Rangka
Alat gerak yang terdiri dari tulang, sendi, jaringan ikat dan otot pada manusia sangat penting. Setiap cedera atau gangguan yang terjadi pada sistem ini akan mengakibatkan terganggunya pergerakan seseorang untuk sementara atau selamanya.
Gangguan yang paling sering dialami pada cedera otot rangka adalah Patah tulang. Pengertian patah tulang ialah terputusnya jaringan tulang, baik seluruhnya atau hanya sebagian saja.
Penyebab
Pada dasarnya tulang itu merupakan benda padat, namun masih sedikit memiliki kelenturan. Bila teregang melampau batas kelenturannya maka tulang tersebut akan patah.
Cedera dapat terjadi sebagai akibat :
1. Gaya langsung.
Tulang langsung menerima gaya yang besar sehingga patah.
2. Gaya tidak langsung.
Gaya yang terjadi pada satu bagian tubuh diteruskan ke bagian tubuh lainnya yang relatif lemah, sehingga akhirnya bagian lain iilah yang patah. Bagian yang menerima benturan langsung tidak mengalami cedera berarti
3. Gaya puntir.
Selain gaya langsung, juga tulang dapat menerima puntiran atau terputar sampai patah. Ini sering terjadi pada lengan.
Mekanisme terjadinya cedera harus diperhatikan pada kasus-kasus yang berhubungan dengan patah tulang. Ini dapat memberikan gambaran kasar kepada kita seberapa berat cedera yang kita hadapi.
Gejala dan tanda patah tulang
Mengingat besarnya gaya yang diterima maka kadang kasus patah tulang gejalanya dapat tidak jelas. Beberapa gejala dan tanda yang mungkin dijumpai pada patah tulang :
1. Terjadi perubahan bentuk pada anggota badan yang patah. Seing merupakan satu-satunya tanda yang terlihat. Cara yang paling baik untuk menentukannya adalah dengan membandingkannya dengan sisi yang sehat.
2. Nyeri di daerah yang patah dan kaku pada saat ditekan atau bila digerakkan.
3. Bengkak, disertai memar / perubahan warna di daerah yang cedera.
4. Terdengar suara berderak pada daerah yang patah (suara ini tidak perlu dibuktikan dengan menggerakkan bagian cedera tersebut).
5. Mungkin terlihat bagian tulang yang patah pada luka.
Pembagian Patah Tulang
Berdasarkan kedaruratannya patah tulang dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Patah tulang terbuka
2. Patah tulang tertutup
Yang membedakannya adalah lapisan kulit di atas bagian yang patah. Pada patah tulang terbuka, kulit di permukaan daerah yang patah terluka. Pada kasus yang berat bagian tulang yang patah terlihat dari luar. Perbedaannya adalah jika ada luka maka kuman akan dengan mudah sampai ke tulang, sehingga dapat terjadi infeksi tulang. Patah tulang terbuka termasuk kedaruratan segera.
Pembidaian
Penanganan patah tulang yang paling utama adalah dengan melakukan pembidaian. Pembidaian adalah berbagai tindakan dan upaya untuk mengistirahatkan bagian yang patah.
Tujuan pembidaian
1. Mencegah pergerakan/pergeseran dari ujung tulang yang patah.
2. Mengurangi terjadinya cedera baru disekitar bagian tulang yang patah.
3. Memberi istirahat pada anggota badan yang patah.
4. Mengurangi rasa nyeri.
5. Mempercepat penyembuhan
Beberapa macam jenis bidai :
1. Bidai keras.
Umumnya terbuat dari kayu, alumunium, karton, plastik atau bahan lain yang kuat dan ringan. Pada dasarnya merupakan bidai yang paling baik dan sempurna dalam keadaan darurat. Kesulitannya adalah mendapatkan bahan yang memenuhi syarat di lapangan.
Contoh : bidai kayu, bidai udara, bidai vakum.
2. Bidai traksi.
Bidai bentuk jadi dan bervariasi tergantung dari pembuatannya, hanya dipergunakan oleh tenaga yang terlatih khusus, umumnya dipakai pada patah tulang paha.
Contoh : bidai traksi tulang paha
3. Bidai improvisasi.
Bidai yang dibuat dengan bahan yang cukup kuat dan ringan untuk penopang. Pembuatannya sangat tergantung dari bahan yang tersedia dan kemampuan improvisasi si penolong.
Contoh : majalah, koran, karton dan lain-lain.
4. Gendongan/Belat dan bebat.
Pembidaian dengan menggunakan pembalut, umumnya dipakai mitela (kain segitiga) dan memanfaatkan tubuh penderita sebagai sarana untuk menghentikan pergerakan daerah cedera.
Contoh : gendongan lengan.
Pedoman umum pembidaian
Membidai dengan bidai jadi ataupun improvisasi, haruslah tetap mengikuti pedoman umum.
1. Sedapat mungkin beritahukan rencana tindakan kepada penderita.
2. Sebelum membidai paparkan seluruh bagian yang cedera dan rawat perdarahan bila ada.
3. Selalu buka atau bebaskan pakaian pada daerah sendi sebelum membidai, buka perhiasan di daerah patah atau di bagian distalnya.
4. Nilai gerakan-sensasi-sirkulasi (GSS) pada bagian distal cedera sebelum melakukan pembidaian.
5. Siapkan alat-alat selengkapnya.
1. 6. Jangan berupaya merubah posisi bagian yang cedera. Upayakan membidai dalam posisi ketika ditemukan.
6. Jangan berusaha memasukkan bagian tulang yang patah.
7. Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah. Sebelum dipasang diukur lebih dulu pada anggota badan penderita yang sehat.
8. Bila cedera terjadi pada sendi, bidai kedua tulang yang mengapit sendi tersebut. Upayakan juga membidai sendi distalnya.
9. Lapisi bidai dengan bahan yang lunak, bila memungkinkan.
10. Isilah bagian yang kosong antara tubuh dengan bidai dengan bahan pelapis.
11. Ikatan jangan terlalu keras dan jangan longgar.
12. Ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari sendi yang banyak bergerak, kemudian sendi atas dari tulang yang patah.
13. Selesai dilakukan pembidaian, dilakukan pemeriksaan GSS kembali, bandingkan dengan pemeriksaan GSS yang pertama.
14. Jangan membidai berlebihan.
Pertolongan cedera alat gerak
1. Lakukan penilaian dini.
• Kenali dan atasi keadaan yang mengancam jiwa.
• Jangan terpancing oleh cedera yang terlihat berat.
2. Lakukan pemeriksaan fisik.
3. Stabilkan bagian yang patah secara manual, pegang sisi sebelah atas dan sebelah bawah cedera, jangan sampai menambah rasa sakit penderita.
4. Paparkan seluruh bagian yang diduga cedera.
5. Atasi perdarahan dan rawat luka bila ada.
6. Siapkan semua peralatan dan bahan untuk membidai.
7. Lakukan pembidaian.
8. Kurangi rasa sakit.
• Istirahatkan bagian yang cedera.
• Kompres es bagian yang cedera (khususnya pada patah tulang tertutup).
• Baringkan penderita pada posisi yang nyaman.
pp
Langkah – Langkah melakukan RJP
1. Posisikan penderita terlentang di atas dasar yang keras. Misalnya di Lantai jangan di kasur.
2. Bebaskan pakaian di sekitan dada penderita.
3. Posisikan diri penolong di sebelah kanan penderita. Upayakan senyaman mungakin. Kedua lutut dibuka kira – kira selebar bahu.
4. Tentukan pertemuan lengkung iga kiri dan kanan. Raba rusuk paling bawah geser sampai bertemu dengan rusuk sisi berlawanan.
5. Tentukan titik pijatan dari pertemua ke 2 rusuk tersebut diukur 2 jari ke atas pada garis tengah tulang dada.
6. Posisikan tangan penolong pada titik pijatan.
7. Bahu penolong harus tegak
Pertolongan Pertama
1. Penilaian Keadaan (Leader)
Tahap ini dilakukan oleh si penolong untuk mengetahui keadaan baik si korban maupun mekanisme kejadian. Dalam melakukan penilaian keadaan ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu penolong melakukan analisa yaitu :
1. Menanyakan mekanisme kejadian
2. Menanyakan Jumlah korban
3. Menanyakan keadaan Lingkungan
4. memperkenalkan diri
5. meminta Izin melakukan pertolongan
2. Penilaian DINI (Leader)
a. Kesan umum
Pada langkah ini pertama – tama penolong harus menentukan apakah kasus yang dihadapi adalah kasus trauma atau kasus medis.
Kasus Trauma adalah kasus yang disebabkan oleh suatu ruda paksa. Mempunyai tanda-tanda yang jelas terlihat atau teraba.
Contoh : luka bakar, luka memar, patah tulang dll.
Kasus Medis adalah kasus yang diderita seseorang tanpa ada riwayat ruda paksa. Contoh: sesak nafas, pingsan,. Pada kasus ini penolong harus lebih berupaya mencari riwayat gangguannya. Misalnya meminta penderita itu sendiri, keluarganya bila di rumah atau saksi mata bila di luar rumah untuk menjelaskan keadaan penderita dari awal gejalanya sampai menjadi parah serinci mungkin.
(Ruda paksa adalah sejenis benturan.)
b. Memeriksa Respons
Respon seorang penderita adalah suatu cara sederhana untuk mendapatkan gambaran berat ringannya gangguan yang terjadi dalam otak.
Respon dinilai berdasarkan reaksi yang diberikan seorang penderita terhadap rangsang yang diberikan penolong. Respon penderita dibagi menjadi 4 tingkat yaitu Awas, Suara, Nyeri, Tidak Respon (ASNT)
A= awas
Penderita ini sadar dan mengetahui keberadaannya. Biasanya ditandai pasien tanggap terhadap orang, waktu, tempat serta namanya. Akan tetapi mungkin juga sebagian penderita terkesan sadar penuh namun tidak menyadari keadaan lingkungan dimana mereka berada.
S = Suara
Penderita dikatakan respon terhadap (rangsang) suara yang diberikan penolong jika :
Penderita hanya menjawab/bereaksi bila dipanggil atau mendengar suara
Penderita yang tidak dapat menjawab mengenai tempat dan waktu akan tetapi dapat mengikuti perintah sederhana.
Pada tahap ini penolong memberikan respon suara dengan cara menepuk bahu penderita dan tanyakan dengan suara lantang.
N = Nyeri
Penolong memberikan rangsangan berupa nyeri dengan cara cubitan kuat, penekanan ditengah tulang dada (bila tidak ada cedera dada). Bila penderita respons terhadap suara, maka rangsang nyeri ini tidak perlu dilakukan. Reaksi yang terlihat mungkin hanya membuka mata, erangan, melipat atau menjauhkan alat gerak, dan gerakan lainnya.
Pergelangan Tangan (pembuluh nadi pergelangan tangan/A.radialis)
Lipat Paha (pembuluh Nadi lipat paha/A.femoralis)
Caranya :
a. raba nadi yang akan diperiksa dengan telunjuk dan jari tengah. Jangan menggunakan ibu jari, karena ibu jari memiliki denyut nadi sendiri yang dapat mengganggu penilaian kita.
b. Apabila denyut nadi teratur, nadi diperiksa selama 15 detik, hasilnya dikali 4. apabila tidak teratur, maka harus dilakukan selama 60 detik.
I. Pemeriksaan Pernafasan
Letakan tangan anda/tangan penderita pada dada atau perutnya lalu amati gerakan naik turunnya. Satu pernapasan adalah satu kali menghirup nafas dan satu kali mengeluarkan napas. Pernapasan dihitung selama 30 detik kemudian dikali 2 untuk mendapatkan hasil 1 menit. Jangan sampai penderit mengetahui anda akan memeriksa napas. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kekeliruan dalam pemeriksaan.
II. Pemeriksaan suhu Tubuh
III. Warna kulit
IV. Pemeriksaan tekanan darah.
Bila ada alat penunjang yaitu Sfigmanometer (alat pengukur tekanan darah) tahap ini bisa dilakukan.
6. Periksa tulang belakang
Tahap ini dilakukan saat memindahkan penderita ke atas tandu atau papan spinal. Pemeriksaan dilakukan untuk mencari PLNB.
7. Evakuasi pasien
8. Pemeriksaaan Berkala.
Tulang rusuk (PLNB)
Perut
Kuadran atas kanan
Kuadran atas kiri
Kuadran bawah kanan
Kuadran bawah kiri
Panggul
(tekan dgn ke dua tangan kemudian gerakan )
Anggota gerak atas (Lengan)
Lengan Atas (PLNB)
Persendian (PLNB)
Lengan bawah (PLNB)
Telapak Tangan (GSS (gerakan sensasi sirkulasi)
Anggota Gerak Bawah (Tungkai)
Tungkai Atas (PLNB)
Persendian (PLNB)
Tungkai bawah (PLNB)
Telapak kaki (GSS (gerakan sensasi sirkulasi)
5. Periksa Tanda Vital
Denyut Nadi
Pernapasan
Kulit
Suhu Tubuh
Tekanan darah
I. Pemeriksaan denyut nadi
Nadi dapat diperiksa di :
Leher (Pembuluh nadi Leher/A. Karotis)
Lengan atas (Pembuluh nadi lengan atas/A. Brakialis) pada bayi
T = Tidak Respon
Jika penderita tidak bereaksi terhadap rangsang apapun maka orang itu dinyatakan tidak respon. Seorang penderita yang tidak sadar pasti memerlukan penanganan jalan nafas. Dan penatalaksanaan lainnya.
c. Membuka Jalan Nafas (Leader)
Ada dua cara untuk membuka jalan nafas
ADTD (Angkat Dagu Tekan Dahi) untuk pasien Respon
Caranya :
1. Letakkan tangan kiri anda pada dahi penderita.
2. Tekan dahi sedikit mengarah kebelakang.
3. Letakan ujung jari tangan kanan dibawah bagian ujung tulang rahang bawah.
4. Angkat dagu ke depan. (lakukan gerakan ini bersamaan tekan dahi)
5. Pertahankan tangan di dahi penderita untuk menjaga posisi kepala tetap ke belakang.
6. Buka mulut penderita dengan ibu jari tangan yang menekan dagu.
Jawtrust, untuk pasien tidak Respon.
Caranya :
1. Berlutut di sisi atas kepala penderita. Letakan kedua siku penolong sejajar dengan posisi penderita. Kedua tangan memegang sisi kepala.
2. Kedua sisi rahang dipegang (jika pasien anak kecil/bayi gunakan 2 atau 3 jari pada sisi rahang bawah)
3. Gunakan kedua tangan untuk menggerakan rahang bawah ke posisi depan secara perlahan. Gerakan ini mendorong lidah ke atas sehingga jalan nafas terbuka
4. Pertahankan posisi pasien tetap terbuka.
*Jangan lupa untuk memeriksa mulut penderita terutama yang mengalami penurunan respon/tidak ada respon. Apakah ada suatu benda yang dapat menyumbat saluran nafas.(sisa makanan, gigi palsu dll).
Jika penolong datang dengan tim. Maka lakukan perintah:
Nilai Pernafasan
Cek nadi
Tanya Saksi
Hubungi Bantuan
Siapkan Pertolongan.
d. Menilai Pernafasan (pemerikasa fisik)
Nilai pernafasan si korban dengan LDR (Lihat Dengar Rasakan) nilai selama 3 – 5 detik.
Caranya : letakan tangan penolong di atas perut Korban sedangkan posisi kepala ada di atas mulut si korban dengan mengarahkan telinga diatasnya. Dilihat apakah ada tanda-tanda pernafasan di perutnya. Didengar apakah ada hembusan nafasnya. Dirasakan nafasnya ada atau tidak.
Jika si korban tidak terlihat tanda-tanda bernafas, maka
Berikan nafas awal 2 kali.
*Cek nadi karotis (pada Leher). Selama 5 – 10 detik.
Jika nadi tidak ada, maka lakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru).
Berikan nafas 2 kali
LDR (apakah nafasnya ada atau tidak)
Jika tidak ada nafas Maka (back to* sampai nafasnya ada. Jika tidak di temukan korban benafas maka penolong bisa langsung membawanya ke tim medis. Dan tidak perlu melanjutkan pertolongan. Akan tetapi jika korban masih benafas, maka penolong bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.
e. Periksa pendarahan
Raba seluruh bagian tubuh si korban, apakah ada pendarahan terjadi atau tidak. Bagiannya adalah sebagai berikut :
a. Kepala g. Panggul
b. Leher h. Lengan
c. Tulang selangka i. Tungkai
d. Dada
e. Tulang rusuk
f. Perut
f. Periksa Fisik
Raba seluruh bagian tubuh si korban, apakah ada luka patah tulang atau pendarahan lainnya. Bagian yang diperiksa adalah sbb:
Kepala
Tengkorak bawah
Tengkorak atas
Dahi
Mata (pupil, bola mata, warna mata)
Tulang hidung (lubang hidung)
Pipi
Tulang rahang
Mulut (pangkal tenggorokan, Lidah, Gigi) ada cairan yang terlihat atau tidak
Telinga (daun telinga, Lubang telinga) ada cairan yang terlihat atau tidak
Leher
Tulang belakang leher (PLNB)
Pembuluh (ada pembesaran pada pembuluh/tidak)
Tenggorokan (ada pembengkokan pada tenggorokan/tidak)
Bahu
Tulang selangka
Dada (keseimbangannya)
1. Posisikan penderita terlentang di atas dasar yang keras. Misalnya di Lantai jangan di kasur.
2. Bebaskan pakaian di sekitan dada penderita.
3. Posisikan diri penolong di sebelah kanan penderita. Upayakan senyaman mungakin. Kedua lutut dibuka kira – kira selebar bahu.
4. Tentukan pertemuan lengkung iga kiri dan kanan. Raba rusuk paling bawah geser sampai bertemu dengan rusuk sisi berlawanan.
5. Tentukan titik pijatan dari pertemua ke 2 rusuk tersebut diukur 2 jari ke atas pada garis tengah tulang dada.
6. Posisikan tangan penolong pada titik pijatan.
7. Bahu penolong harus tegak
Pertolongan Pertama
1. Penilaian Keadaan (Leader)
Tahap ini dilakukan oleh si penolong untuk mengetahui keadaan baik si korban maupun mekanisme kejadian. Dalam melakukan penilaian keadaan ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu penolong melakukan analisa yaitu :
1. Menanyakan mekanisme kejadian
2. Menanyakan Jumlah korban
3. Menanyakan keadaan Lingkungan
4. memperkenalkan diri
5. meminta Izin melakukan pertolongan
2. Penilaian DINI (Leader)
a. Kesan umum
Pada langkah ini pertama – tama penolong harus menentukan apakah kasus yang dihadapi adalah kasus trauma atau kasus medis.
Kasus Trauma adalah kasus yang disebabkan oleh suatu ruda paksa. Mempunyai tanda-tanda yang jelas terlihat atau teraba.
Contoh : luka bakar, luka memar, patah tulang dll.
Kasus Medis adalah kasus yang diderita seseorang tanpa ada riwayat ruda paksa. Contoh: sesak nafas, pingsan,. Pada kasus ini penolong harus lebih berupaya mencari riwayat gangguannya. Misalnya meminta penderita itu sendiri, keluarganya bila di rumah atau saksi mata bila di luar rumah untuk menjelaskan keadaan penderita dari awal gejalanya sampai menjadi parah serinci mungkin.
(Ruda paksa adalah sejenis benturan.)
b. Memeriksa Respons
Respon seorang penderita adalah suatu cara sederhana untuk mendapatkan gambaran berat ringannya gangguan yang terjadi dalam otak.
Respon dinilai berdasarkan reaksi yang diberikan seorang penderita terhadap rangsang yang diberikan penolong. Respon penderita dibagi menjadi 4 tingkat yaitu Awas, Suara, Nyeri, Tidak Respon (ASNT)
A= awas
Penderita ini sadar dan mengetahui keberadaannya. Biasanya ditandai pasien tanggap terhadap orang, waktu, tempat serta namanya. Akan tetapi mungkin juga sebagian penderita terkesan sadar penuh namun tidak menyadari keadaan lingkungan dimana mereka berada.
S = Suara
Penderita dikatakan respon terhadap (rangsang) suara yang diberikan penolong jika :
Penderita hanya menjawab/bereaksi bila dipanggil atau mendengar suara
Penderita yang tidak dapat menjawab mengenai tempat dan waktu akan tetapi dapat mengikuti perintah sederhana.
Pada tahap ini penolong memberikan respon suara dengan cara menepuk bahu penderita dan tanyakan dengan suara lantang.
N = Nyeri
Penolong memberikan rangsangan berupa nyeri dengan cara cubitan kuat, penekanan ditengah tulang dada (bila tidak ada cedera dada). Bila penderita respons terhadap suara, maka rangsang nyeri ini tidak perlu dilakukan. Reaksi yang terlihat mungkin hanya membuka mata, erangan, melipat atau menjauhkan alat gerak, dan gerakan lainnya.
Pergelangan Tangan (pembuluh nadi pergelangan tangan/A.radialis)
Lipat Paha (pembuluh Nadi lipat paha/A.femoralis)
Caranya :
a. raba nadi yang akan diperiksa dengan telunjuk dan jari tengah. Jangan menggunakan ibu jari, karena ibu jari memiliki denyut nadi sendiri yang dapat mengganggu penilaian kita.
b. Apabila denyut nadi teratur, nadi diperiksa selama 15 detik, hasilnya dikali 4. apabila tidak teratur, maka harus dilakukan selama 60 detik.
I. Pemeriksaan Pernafasan
Letakan tangan anda/tangan penderita pada dada atau perutnya lalu amati gerakan naik turunnya. Satu pernapasan adalah satu kali menghirup nafas dan satu kali mengeluarkan napas. Pernapasan dihitung selama 30 detik kemudian dikali 2 untuk mendapatkan hasil 1 menit. Jangan sampai penderit mengetahui anda akan memeriksa napas. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kekeliruan dalam pemeriksaan.
II. Pemeriksaan suhu Tubuh
III. Warna kulit
IV. Pemeriksaan tekanan darah.
Bila ada alat penunjang yaitu Sfigmanometer (alat pengukur tekanan darah) tahap ini bisa dilakukan.
6. Periksa tulang belakang
Tahap ini dilakukan saat memindahkan penderita ke atas tandu atau papan spinal. Pemeriksaan dilakukan untuk mencari PLNB.
7. Evakuasi pasien
8. Pemeriksaaan Berkala.
Tulang rusuk (PLNB)
Perut
Kuadran atas kanan
Kuadran atas kiri
Kuadran bawah kanan
Kuadran bawah kiri
Panggul
(tekan dgn ke dua tangan kemudian gerakan )
Anggota gerak atas (Lengan)
Lengan Atas (PLNB)
Persendian (PLNB)
Lengan bawah (PLNB)
Telapak Tangan (GSS (gerakan sensasi sirkulasi)
Anggota Gerak Bawah (Tungkai)
Tungkai Atas (PLNB)
Persendian (PLNB)
Tungkai bawah (PLNB)
Telapak kaki (GSS (gerakan sensasi sirkulasi)
5. Periksa Tanda Vital
Denyut Nadi
Pernapasan
Kulit
Suhu Tubuh
Tekanan darah
I. Pemeriksaan denyut nadi
Nadi dapat diperiksa di :
Leher (Pembuluh nadi Leher/A. Karotis)
Lengan atas (Pembuluh nadi lengan atas/A. Brakialis) pada bayi
T = Tidak Respon
Jika penderita tidak bereaksi terhadap rangsang apapun maka orang itu dinyatakan tidak respon. Seorang penderita yang tidak sadar pasti memerlukan penanganan jalan nafas. Dan penatalaksanaan lainnya.
c. Membuka Jalan Nafas (Leader)
Ada dua cara untuk membuka jalan nafas
ADTD (Angkat Dagu Tekan Dahi) untuk pasien Respon
Caranya :
1. Letakkan tangan kiri anda pada dahi penderita.
2. Tekan dahi sedikit mengarah kebelakang.
3. Letakan ujung jari tangan kanan dibawah bagian ujung tulang rahang bawah.
4. Angkat dagu ke depan. (lakukan gerakan ini bersamaan tekan dahi)
5. Pertahankan tangan di dahi penderita untuk menjaga posisi kepala tetap ke belakang.
6. Buka mulut penderita dengan ibu jari tangan yang menekan dagu.
Jawtrust, untuk pasien tidak Respon.
Caranya :
1. Berlutut di sisi atas kepala penderita. Letakan kedua siku penolong sejajar dengan posisi penderita. Kedua tangan memegang sisi kepala.
2. Kedua sisi rahang dipegang (jika pasien anak kecil/bayi gunakan 2 atau 3 jari pada sisi rahang bawah)
3. Gunakan kedua tangan untuk menggerakan rahang bawah ke posisi depan secara perlahan. Gerakan ini mendorong lidah ke atas sehingga jalan nafas terbuka
4. Pertahankan posisi pasien tetap terbuka.
*Jangan lupa untuk memeriksa mulut penderita terutama yang mengalami penurunan respon/tidak ada respon. Apakah ada suatu benda yang dapat menyumbat saluran nafas.(sisa makanan, gigi palsu dll).
Jika penolong datang dengan tim. Maka lakukan perintah:
Nilai Pernafasan
Cek nadi
Tanya Saksi
Hubungi Bantuan
Siapkan Pertolongan.
d. Menilai Pernafasan (pemerikasa fisik)
Nilai pernafasan si korban dengan LDR (Lihat Dengar Rasakan) nilai selama 3 – 5 detik.
Caranya : letakan tangan penolong di atas perut Korban sedangkan posisi kepala ada di atas mulut si korban dengan mengarahkan telinga diatasnya. Dilihat apakah ada tanda-tanda pernafasan di perutnya. Didengar apakah ada hembusan nafasnya. Dirasakan nafasnya ada atau tidak.
Jika si korban tidak terlihat tanda-tanda bernafas, maka
Berikan nafas awal 2 kali.
*Cek nadi karotis (pada Leher). Selama 5 – 10 detik.
Jika nadi tidak ada, maka lakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru).
Berikan nafas 2 kali
LDR (apakah nafasnya ada atau tidak)
Jika tidak ada nafas Maka (back to* sampai nafasnya ada. Jika tidak di temukan korban benafas maka penolong bisa langsung membawanya ke tim medis. Dan tidak perlu melanjutkan pertolongan. Akan tetapi jika korban masih benafas, maka penolong bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.
e. Periksa pendarahan
Raba seluruh bagian tubuh si korban, apakah ada pendarahan terjadi atau tidak. Bagiannya adalah sebagai berikut :
a. Kepala g. Panggul
b. Leher h. Lengan
c. Tulang selangka i. Tungkai
d. Dada
e. Tulang rusuk
f. Perut
f. Periksa Fisik
Raba seluruh bagian tubuh si korban, apakah ada luka patah tulang atau pendarahan lainnya. Bagian yang diperiksa adalah sbb:
Kepala
Tengkorak bawah
Tengkorak atas
Dahi
Mata (pupil, bola mata, warna mata)
Tulang hidung (lubang hidung)
Pipi
Tulang rahang
Mulut (pangkal tenggorokan, Lidah, Gigi) ada cairan yang terlihat atau tidak
Telinga (daun telinga, Lubang telinga) ada cairan yang terlihat atau tidak
Leher
Tulang belakang leher (PLNB)
Pembuluh (ada pembesaran pada pembuluh/tidak)
Tenggorokan (ada pembengkokan pada tenggorokan/tidak)
Bahu
Tulang selangka
Dada (keseimbangannya)
rjp
Rjp adalah,,
Resusitasi jantung paru (RJP), atau juga dikenal dengan cardio pulmonier resusitation (CPR), merupakan gabungan antara pijat jantung dan pernafasan buatan. Teknik ini diberikan pada korban yang mengalami henti jantung dan nafas, tetapi masih hidup.
Komplikasi dari teknik ini adalah pendarahan hebat. Jika korban mengalami pendarahan hebat, maka pelaksanaan RJP akan memperbanyak darah yang keluar sehingga kemungkinan korban meninggal dunia lebih besar. Namun, jika korban tidak segera diberi RJP, korban juga akan meninggal dunia.
Langkah yang paling tepat jika korban mengalami komplikasi henti jantung dan pendarahan hebat tergantung pada kemampuan penolong. Jika penolong sendirian dan mahir dalam mengendalikan pendarahan, maka penolong harus menghentikan pendarahan dengan cepat baru kemudian melakukan RJP. Jika penolong ada banyak, maka pengendalian pendarahan dan RJP dapat dilakukan secara bersamaan.
Langkah pertama dalam memberikan RJP adalah menentukan titik kompresi jantung. Titik ini merupakan tempat diletakkannya tangan penolong untuk menekan jantung. Titik kompresi jantung terletak pada pertemuan iga kanan dan kiri. Titik ini bisa diletakkan pada 2 jari diatas taju pedang atau lurus dengan garis semu antara puting susu.
Pelaksanaan RJP berbeda-beda, tergantung pada usia korban. Pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
- korban dewasa (lebih dari 8 tahun)
Jika penolong hanya 1, maka fase pertama RJP dikakukan sebanyak 4 siklus per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 15 kali tekan jantung dan 2 kali nafas buatan. Setelah fase pertama selesai, korban diperiksa jantung dan nafasnya. Jika jantung dan nafas masih berhenti, pertolongan dilanjutkan dengan fase kedua yang terdiri dari 8 siklus (4 siklus per menit). Jika pada fase kedua ini jantung dan nafas korban masih berhenti, maka dilanjutan ke fase ketiga yang terdiri dari 8 siklus, demikian seterusnya.
Jika penolongnya 2 orang, maka 1 orang bertugas untuk menekan jantung dan 1 orang lagi memberi nafas buatan. Fase pertama RJP dilakukan dengan 12 siklus per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 5 kali tekan jantung dan 1 kali nafas buatan. Jika korban masih belum bernafas, maka fase-fase selanjutnya dilakukan sebanyak 24 siklus (12 siklus per menit)
- korban anak-anak (1 – 8 tahun)
Untuk anak-anak (baik itu penolongnya sendirian atau 2 orang), RJP dilakukan sebanyak 14 – 20 siklus per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 5 kali pijat jantung dan sekali nafas buatan. Yang perlu diperhatikan disini adalah penekanan jantung tidak boleh terlalu dalam, hanya 3 – 4 cm saja, dan tiupan pada saat pemberian nafas buatan juga tidak boleh terlalu kencang.
- korban bayi (kurang dari 1 tahun)
Untuk bayi (baik itu penolongnya sendirian atau 2 orang), RJP dilakukan sebanyak 20 siklus per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 5 kali tekan jantung dan 1 kali nafas buatan. Untuk bayi yang baru lahir, RJP dilakuakan sebanyak 40 siklus yang tiap siklusnya terdiri dari 3 kali tekan jantung dan 1 kali nafas buatan. Yang perlu diperhatikan pada RPJ pada bayi adalah penekanan jantung dilakukan dengan 2 jari saja (jari tengah dan jari manis) dengan kedalaman 1,5 – 2,5 cm dan volume nafas yang diberikan hanya sebanyak penggembungan pipi penolong saja.
RJP pada korban dihentikan apabila:
- ada penolong yang menggantikan
- ada tanda kehidupan
- ada tanda kematian
- setelah 30 menit
Metode Baru RJP
RESUSITASI JANTUNG PARUResusitasi jantung paru tidak dilakukan pada semua penderita yang mengalami gagal jantung atau pada orang yang sudah mengalami kerusakan pernafasan atau sirkulasi yang tidak ada lagi kemungkinan untuk hidup, melainkan yang mungkin untuk hidup lama tanpa meninggalkan kelainan di otak5.
Keberhasilan resusitasi dimungkinkan oleh adanya waktu tertentu diantara mati klinis dan mati biologis. Mati klinis terjadi bila dua fungsi penting yaitu pernafasan dan sirkulasi mengalami kegagalan total. Jika keadaan ini tidak ditolong akan terjadi mati biologis yang irreversibel. Resusitasi jantung paru yang dilakukan setelah penderita mengalami henti nafas dan jantung selama 3 menit, presentasi kembali normal 75 %tanpa gejala sisa. Setelah 4 menit presentasi menjadi 50 % dan setelah lima menit menjadi 25 %. Maka jelaslah waktu yang sedikit itu harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.
Disamping mati klinis dan biologis dikenal dengan istilah mati social yaitu keadaan dimana pernafasan dan sirkulasi terjadi spontan atau secara buatan, namun telah mengalami aktifitas kortikal yang abnormal. Penderita dalam keadaan sopor atau koma tanpa kemungkinan untuk sembuh dan dinyatakan dalam keadaan vegetatif. Agar resusitasi dapat berjalan maksimal tentu saja memerlukan penolong yang cekatan dan terampil. Waktu satu menit sangat berguna dalam memberikan pertolongan pertama pada penderita.
II.1. Definisi
Resusitasi jantung paru merupakan usaha yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi pada henti nafas (respiratory arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest) pada orang dimana fungsi tersebut gagal total oleh suatu sebab yang memungkinkan untuk hidup normal selanjutnya bila kedua fungsi tersebut bekerja kembali5.
II.2. Anatomi dan Fisiologi
Pemakaian oksigen dan pengeluaran karbon dioksida sangat diperlukan untuk menjalankan fungsi normal selular didalam tubuh. Pemakaian tersebut melalui suatu proses pernafasan sehingga secara harfiah pernafasan dapat diartikan pergerakan oksigen dari atmosfer menuju sel ke udara bebas. Proses pernafasan terdiri dari beberapa langkah dimana sistem pernafasan, sistem saraf pusat dan sistem kardiovaskuler memegang peranan yang sangat penting1.
II.2.1. Anatomi dan Fisiologi Saluran Pernafasan.
Saluran pernafasan udara mulai dari hidung hingga mencapai paru adalah : hidung, faring, laring, trakhea, bronkhus dan bronkhiolus1. Saluran pernafasan dari hidung sampai bronkhiolus dilapisi oleh membran mukosa yang bersilia. Ketika udara masuk ke dalam rongga hidung udara tersebut disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Kemudian udara mengalir ke faring menuju laring. Laring merupakan rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otak dan mengandung pita suara. Diantara pita suara terdapat ruang berbentuk seperti sepatu kuda yang panjangnya kurang lebih 5 inci. Permukaan posterior agak pipih dan letaknya tepat didepan esofagus. Bronkhus utama kanan dan kiri tidak simetris, yang kanan lebih pendek, lebih lebar dan merupakan kelanjutan trakhea. Cabang utama bronkhus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkhus lobaris dan bronkhus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronkhus yang ukurannya semakin kecil yang berakhir menjadi bronkhiolus terminalis. Oksigen pada proses pernafasan dipindahkan dari udara luar ke dalam jaringan dan stadium pertama ventilasi, yaitu masuknya campuran gas ke dalam dan keluar paru. Transportasi masuknya campuran gas yang keluar masuk paru terdiri dari beberapa aspek1, yaitu :
1.Difusi gas antara alveolus dan kapiler paru, dan antara darah sistemik dan sel jaringan.
2.Distribusi darah dalam sirkulasi pulmoner dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus.
3.Reaksi kimia dan fisik dari oksigen dan karbondioksida dengan darah. Stadium yang ketiga adalah respirasi sel, yaitu saat dimana metabolit dioksida untuk mendapatkan energi dan karbondioksida terbentuk sebagai sampah metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru- paru.
II.2.2. Anatomi dan Fisiologi Kardiovaskuler.
Jantung merupakan salah satu organ yang terletak dalam mediastinum di rongga dada, yaitu diantara kedua paru. Perikardium sendiri terbagi menjadi dua, yaitu perikardium parietalis dan pericardium visceralis. Perikardium parietalis melekat pada tulang dada sebelah depan dan kolumna vertebralis bagian belakang, sedangkan ke bawah pada diafragma. Perikardium visceralis langsung melekat pada permukaan jantung. Jantung sendiri terbagi dari 3 lapisan yaitu epikardium (lapisan terluar), miokardium (lapisan dalam) dan endokardium (lapisan terdalam)
1.Ruangan jantung terbagi menjadi 2 bagian jantung bagian atas atrium dan ventrikel terletak sebelah bawah, yang secara anatomi mereka terpisah oleh suatu annulus fibrosus. Keempat katup jantung terletak dalam cincin ini. Secara fungsinal jantung terbagi menjadi dua yaitu alat pompa kanan dan alat pompa kiri yang memompa darah sistemik. Pembagian fungsi ini mempermudah konseptualisasi dari urutan aliran darah secara anatomi. Fisiologi siklus jantung ventrikel kiri memompa darah ke aorta melalui katup semilunaris aorta, dari aorta darah akan dialirkan menuju arteri kemudian ke jaringan melalui cabang kecil arteri (arteriola), dari arteriola kemudian menuju ke venula. Kemudian akan melalui vena darah akan dialirkan ke atrium kanan, dari atrium kanan darah menuju ventrikel kanan melalui katup trikuspidalis, dari ventrikel kanan kemudian darah dipompa menuju arteri pulmonalis melewati katup semilunaris pulmonalis. Dari arteri pulmonalis ke pulmo. Dari pulmo darah keluar melalui vena pulmonalis ke atrium kiri, dari atrium kiri kemudian menuju ventrikel kiri melalui katup bicuspidalis atau mitralis. Demikian seterusnya darah akan mengalir melalui siklus tersebut
1.II.3. Etiologi
Resusitasi jantung paru bertujuan untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi, dan penanganan akibat henti nafas (respiratory arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest), yang mana fungsi tersebut gagal total oleh sebab yang memungkinkan untuk hidup normal 5. Adapun sebab henti nafas adalah :
1.Sumbatan jalan nafas
Bisa disebabkan karena adanya benda asing, aspirasi, lidah yang jatuh ke belakang, pipa trakhea terlipat, kanula trakhea tersumbat, kelainan akut glotis dan sekitarnya (sembab glotis, perdarahan).
2.Depresi pernafasan
Sentral : obat, intoksikasi, Pa O2 rendah, Pa CO2 tinggi, setelah henti jantung, tumor otak dan tenggelam.
Perifer : obat pelumpuh otot, penyakit miastenia gravis, poliomyelitis.
Sebab- sebab henti jantung4,5 :Penyakit kardiovaskuler Penyakit jantung sistemik, infark miokardial akut, embolus paru, fibrosis pada sistem konduksi (penyakit lenegre, sindrom adams stokes, noda sinus atrioventrikulaer sakit). Kekurangan oksigen akut Henti nafas, benda asing di jalan nafas, sumbatan jalan nafas oleh sekresi, asfiksia dan hipoksia. Kelebihan dosis obat dan gangguan asam basa Digitalis, quinidin, antidepresan trisiklik, propoksifen, adrenalin dan isoprenalin. Kecelakaan Syok listrik dan tenggelam. Refleks vagal Peregangan sfingter anii, penekanan atau penarikan bola mata. Anestesi dan pembedahan. Terapi dan tindakan diagnostik medis Syok (hipovolemik, neurogenik, toksik dan anafilaktik) Kebanyakan henti jantung yang terjadi di masyarakat merupakan akibat penyakit jantung iskemik, 40 % mati mendadak. Dari penyakit jantung iskemik terjadi dalam waktu satu jam setelah dimulainya gejala dan proporsinya lebih tinggi, sekitar 60 % diantara umur pertengahan dan yang lebih muda. Lebih dari 90 % kematian yang terjadi di luar rumah sakit disebabkan oleh fibrilasi ventrikuler, suatu kondisi
yang potensial reversibel1.
BAB III
PEMBAHASAN
Henti jantung dan henti nafas bukanlah kejadian yang sering terjadi walaupun di Rumah Sakit. Pada banyak kasus sebenarnya kematian mendadak sebagai akibat sroke infark, kelebihan dosis obat dan trauma hebat, dapat dicegah bila tindakan resusitasi dilakukan secara tepat. Setiap tenaga kesehatan harus menguasai teknik resusitasi jantung paru. Pada tahun 1974, The American Association menerbitkan penuntun pertama teknik bantuan hidup ini kemudian direvisi pada tahun 1980, tahun 1986 di negara lain mengikutinya1,4. Pengajaran resusitasi jantung paru otak dibagi dalam 3 fase, yaitu : Bantuan Hidup Dasar (BDH), Bantuan Hidup Lanjut (BHL), Bantuan Hidup Jangka Lama. Dan dalam 9 langkah dengan menggunakan huruf abjad dari A sampai I2,5.
Fase I : untuk oksigenasi darurat, terdiri dari (A) Airway Control : penguasaan jalan nafas. (B) Breathing Support : ventilasi bantuan dan oksigen paru darurat. (C) Circulation Support : pengenalan tidak adanya denyut nadi dan pengadaan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung, penghentian perdarahan dan posisi untuk syok.
Fase II : untuk memulai sirkulasi spontan terdiri dari (D) Drugs and Fluid Intravenous Infusion : pemberian obat dan cairan tanpa menunggu hasil EKG. (E) Electrocardioscopy (Cardiography) dan (F) Fibrillation Treatment : biasanya dengan syok listrik (defibrilasi).
Fase III : untuk pengelolaan intensif pasca resusitasi, terdiri dari (G) Gauging : menetukan dan memberi terapi penyebab kematian dan menilai sejauh mana pasien dapat diselamatkan. (H) Human Mentation : SSP diharapkan pulih dengan tindakan resusitasi otak yang baru dan (I) Intensive Care : resusitasi jangka panjang. Dalam makalah ini hanya dibicarakan resusitasi jantung paru yang memang harus betul- betul dikuasai oleh setiap tenaga kesehatan terutama mereka yang bekerja di bidang anesthesia, unit darurat, kamar operasi dan kamar bersalin3.
III.1. Fase I (Bantuan Hidup Dasar) Bila terjadi nafas primer, jantung terus dapat memompa darah selama beberapa menit dan sisa O2 yang berada dalam paru darah akan terus beredar ke otak dan organ vital lain. Penanganan dini pada korban dengan henti nafas atau sumbatan jalan nafas dapat mencegah henti jantung. Bila terjadi henti jantung primer, O2 tidak beredar dan O2 yang tersisa dalam organ vital akan habis dalam beberapa detik. Henti jantung dapat disertai dengan fenomena listrik berikut : fibrilasi fentrikular, takhikardia fentrikular, asistol ventrikular atau disosiasi elektromekanis5. Penilaian tahapan BHD sangat penting. Tindakan resusitasi meliputi posisi pembukaan jalan nafas buatan dan kompresi dada luar dilakukan kalau memang betul dibutuhkan. Ini ditentukan penilaian yang tepat. Setiap langkah ABC RJP dimulai dengan penentuan tidak ada respon, tidak ada nafas dan tidak ada nadi. Pada korban yang tiba- tiba kolaps, kesadaran harus segera ditentukan dengan tindakan goncangan atau teriak yang terdiri dari menggoncangkan korban dengan lembut dan memanggil keras. Bila tidak dijumpai tanggapan hendaknya korban diletakkan dalam posisi terlentang dan ABC BHD hendaknya dilakukan. Sementara itu mintalah pertolongan dan bila mungkin aktifitaskan sistem pelayanan medis darurat2,5.
III.1.1. Airway (Jalan Nafas) Sumbatan jalan nafas oleh lidah yang menutupi dinding posterior faring adalah merupakan persoalan yang sering timbul pada pasien yang tidak sadar dengan posisi terlentang. Resusitasi tidak akan berhasil bila sumbatan tidak diatasi. Tiga cara telah dianjurkan untuk menjaga agar jalan nafas tetap terbuka yaitu dengan metode ekstensi kepala angkat leher, metode ekstensi kepala angkat dagu dan metode angkat dagu dorong mandibula, dimana metode angkat dagu dorong mandibula lebih efektif dalam membuka jalan nafas atas daripada angkat leher5. Pendorongan mandibula saja tanpa ekstensi kepala juga merupakan metode paling aman untuk memelihara jalan nafas atas tetap terbuka, pada pasien dengan dugaan patah tulang leher. Bila korban yang tidak sadar bernafas spontan dan adekuat dengan tidak ada sianosis, korban sebaiknya diletakkan dalam posisi mantap untuk mencegah aspirasi. Bila tidak diketahui atau dicurigai ada trauma kepala dan leher, korban hanya digerakkan atau dipindahkan bila memang mutlak diperlukan karena gerak yang tidak betul dapat mengakibatkan paralisis pada korban dengan cedera leher. Disini teknik dorong mandibula tanpa ekstensi kepala merupakan cara yang paling aman untuk membuka jalan nafas, bila dengan ini belum berhasil dapat dilakukan sedikit ekstensi kepala.
III.1.2. Breathing (Pernafasan)
Setelah jalan nafas terbuka, penolong hendaknya segera menilai apakah pasien dapat bernafas spontan atau tidak. Ini dapat dilakukan dengan mendengarkan gerak nafas pada dada korban. Bila pernafasan spontan tidak timbul kembali diperlukan ventilasi buatan5. Untuk melakukan ventilasi mulut ke mulut penolong hendaknya mempertahankan kepala dan leher korban dalam salah satu sikap yang telah disebutkan diatas dan memencet hidung korban dengan satu tangan atau dua kali ventilasi dalam. Kemudian segera raba denyut nadi karotis atau femoralis. Bila ia tetap henti nafas tetapi masih mempunyai denyut nadi diberikan ventilasi yang dalam sebesar 800 ml sampai 1200 ml setiap 5 detik4,5. Bila denyut nadi karotis tidak teraba, dua kali ventilasi dalam harus diberikan sesudah tiap 15 kompresi dada pada resusitasi yang dilakukan oleh seorang penolong dan satu ventilasi dalam sesudah tiap 5 kompresi dada pada yang dilakukan oleh 2 penolong. Tanda ventilasi buatan yang adekuat adalah dada korban yang terlihat naik turun dengan amplitudo yang cukup ada udara keluar melalui hidung dan mulut korban selama respirasi sebagai tambahan selama pemberian ventilasi pada korban, penolong dapat merasakan tahanan dan pengembangan paru korban ketika diisi5. Pada beberapa pasien ventilasi mulut ke hidung mungkin lebih efektif daripada fentilasi mulut ke mulut. Ventilasi mulut ke stoma hendaknya dilakukan pada pasien dengan trakeostomi. Bila ventilasi mulut ke mulut atau mulut ke hidung tidak berhasil baik walaupun jalan nafas telah dicoba dibuka, faring korban harus diperiksa untuk melihat apakah ada sekresi atau benda asing. Pada tindakan jari menyapu, korban hendaknya digulingkan pada salah satu sisinya. Sesudah dengan paksa membuka mulut korban dengan satu tangan memegang lidah dan rahangnya, penolong memasukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan yang lain kedalam satu sisi mulut korban dalam satu gerakan menyapu. Bila tindakan ini gagal untuk mengeluarkan benda asing, hendaknya dikerjakan hentakan abdomen atau hentakan dada, sehingga tekanan udara dalam abdomen meningkat dan akan mendorong benda untuk keluar. Hentakan dada dilakukan pada korban yang terlentang, teknik ini sama dengan kompresi dada luar. Urutan yang dianjurkan adalah5 : Berikan 6 sampai 10 kali hentakan abdomen. Buka mulut dan lakukan sapuan jari. Reposisi pasien, buka jalan nafas dan coba beri ventilasi buatan dapat dilakukan dengan sukses. Bila sesudah dilakukan gerak tripel (ekstensi kepala, buka mulut dan dorong mandibula), pembersihan mulut dan faring ternyata masih ada sumbatan jalan nafas, dapat dicoba pemasangan pipa jalan nafas. Bila dengan ini belum berhasil perlu dilakukan intubasi trakheal. Bila tidak mungkin atau tidak dapat dilakukan intubasi trakheal, sebagai alternatifnya adalah krikotomi atau fungsi membrane krikotiroid dengan jarum berlumen besar (misal dengan kanula intravena 14 G). Bila masih ada sumbatan di bronkhus maka perlu tindakan pengeluaran benda asing dari bronkhus atau terapi bronkhospasme dengan aminophilin atau adrenalin5.
III.1.3. Circulation (Sirkulasi)
Bantuan ketiga dalam BHD adalah menilai dan membantu sirkulasi. Tanda- tanda henti jantung adalah5: Kesadaran hilang dalam waktu 15 detik setelah henti jantung. Tak teraba denyut nadi arteri besar (femoralis dan karotis pada orang dewasa atau brakhialis pada bayi). Henti nafas atau megap- megap. Terlihat seperti mati. Warna kulit pucat sampai kelabu. Pupil dilatasi (45 detik setelah henti jantung) Tidak ada nadi yang teraba pada arteri besar, pemeriksaan arteri karotis sesering mungkin merupakan tanda utama henti jantung. Diagnosis henti jantung dapat ditegakkan bila pasien tidak sadar dan tidak teraba denyut arteri besar. Pemberian ventilasi buatan dan kompresi dada luar diperlukan pada keadaan sangat gawat. Korban hendaknya terlentang pada permukaan yang keras agar kompresi dada luar yang dilakukan efektif. Penolong berlutut di samping korban dan meletakkan sebelah tangannya diatas tengah pertengahan bawah sternum korban sepanjang sumbu panjangnya dengan jarak 2 jari dari persambungan episternum. Tangan penolong yang lain diletakkan diatas tangan pertama, jari- jari terkunci dengan lurus dan kedua bahu tepat diatas sternum korban, penolong memberikan tekanan ventrikel ke bawah yang cukup untuk menekan sternum 4 sampai 5 cm. Setelah kompresi harus ada relaksasi, tetapi kedua tangan tidak bo;eh diangkat dari dada korban, dianjurkan lama kompresi sama dengan lama relaksasi. Bila ada satu penolong, 15 kompresi dada luar (laju 80 sampai 100 kali/ menit) harus diikuti dengan pemberian 2 kali ventilasi dalam (2 sampai 3 detik). Dalam satu menit harus ada 4 siklus kompresi dan ventilasi (yaitu minimal 60 kompresi dada dan 8 ventilasi). Jadi 15 kali kompresi dan 2 ventilasi harus selesai maksimal dalam 15 detik. Bila ada 2 penolong, kompresi dada diberikan oleh satu penolong dengan laju 80 sampai 100 kali/ menit dan pemberian satu kali ventilasi dalam 1 sampai 1,5 detik oleh penolong kedua sesudah tiap kompresi kelima. Dalam satu menit minimal harus ada 60 kompresi dada dan 12 ventilasi. Jadi lima kompresi dan satu ventilasi maksimal dalam 5 detik5. Kompresi dada harus dilakukan secara halus dan berirama. Bila dilakkan dengan benar, kompresi dada luar dapat menghasilkan tekanan sistolik lebih dari 100 mmHg, dan tekanan rata- rata 40 mmHg pada arteri karotis. Kompresi dada tidak boleh terputus lebih dari 7 detik setiap kalinya, kecuali pada intubasi trakheal, transportasi naik turun tangga dapat sampai 15 detik. Sesudah 4 daur kompresi dan ventilasi dengan rasio 15 : 2, lakukan reevaluasi pada pasien. Periksa apakah denyut karotis sudah timbul (5 detik). Bila tidak ada denyut lanjutkan dengan langkah berikut. Periksa pernafasan 3 sampai 5 detik bila ada, pantau pernafasan dan nadi dengan ketat. Bila tidak ada lakukan ventilasi buatan 12 kali per menit dan pantau nadi dengan ketat. Bila RJP dilanjutkan beberapa menit dihentikan, periksa apakah sudah timbul nadi dan ventilasi spontan begitu seterusnya.
III.2 Fase II (Bantuan Hidup Lanjut).
Bantuan hidup lanjut berhubungan dengan teknik yang ditujukan untuk memperbaiki ventilasi dan oksigenasi korban dan pada diagnosis serta terapi gangguan irama utama selama henti jantung. Bantuan hidup dasar memerlukan peralatan khusus dan penggunaan obat. Harus segera dimulai bila diagnosis henti jantung atau henti nafas dibuat dan harus diteruskan sampai bantuan hidup lanjut diberikan. Setelah dilakukan ABC RJP dan belum timbul denyut jantung spontan, maka resusitasi diteruskan dengan langkah DEF5.
III.2.1. Drug and Fluid (Obat dan Cairan)
Tanpa menunggu hasil EKG dapat diberikan2,5 :
1.Adrenalin : 0,5 – 1,0 mg dosis untuk orang dewasa, 10 mcg/ kg pada anak- anak. Cara pemberian : iv, intratrakeal lewat pipa trakeal (1 ml adrenalin diencerkan dengan 9 ml akuades steril, bukan NaCl, berarti dalam 1 ml mengandung 100 mcg adrenalin). Jika keduanya tidak mungkin : lakukan intrakardial (hanya oleh tenaga yang sudah terlatih). Di ulang tiap 5 menit dengan dosis sama sampai timbul denyut spontan atau mati jantung.
2.Natrium Bikarbonat : dosis mula 1 mEq/ kg (bila henti jantung lebih dari 2 menit) kemudian dapat diulang tiap 10 menit dengan dosis 0,5 mEq/ kg sampai timbul denyut jantung spontan atau mati jantung, cara pemberian hanya iv. Penggunaan natrium bikarbonat tidak lagi dianjurkan kecuali pada resusitasi yang lama, yaitu pada korban yang diberi ventilasi buatan yang lama dan efisien, sebab kalau tidak asidosis intraseluler justru bertambah dan tidak berkurang. Penjelasan untuk keanehan ini bukanlah hal yang baru. CO2 yang tidak dihasilkan dari pemecahan bikarbonat segera menyeberangi membran sel jika CO2 tidak diangkut oleh respirasi.
III.2.2. EKG
Meliputi fibrilasi ventrikuler, asistol ventrikuler dan disosiasi elektro mekanis.
III.2.3. Fibrilation Treatment (Terapi Fibrilasi) Elektroda dipasang disebelah kiri puting susu kiri disebelah kanan sternum atas, defibrilasi luar arus searah5 : 200 – 300 joule pada dewasa. 100 – 200 joule pada anak. 50 – 100 joule pada bayi.
III.3. Fase III (Bantuan Hidup Jangka Lama atau Pengelolaan Pasca Resusitasi)
Jenis pengelolaan pasien yang diperlukan pasien yang telah mendapat resusitasi bergantung sepenuhnya kepada resusitasi. Pasien yang mempunyai defisit neurologis dan tekanan darah terpelihara normal tanpa aritmia hanya memerlukan pantauan intensif dan observasi terus menerus terhadap sirkulasi, pernafasan, fungsi otak, ginjal dan hati. Pasien yang mempunyai kegagalan satu atau lebih dari satu sistem memerlukan bantuan ventilasi atau sirkulasi, terapi aritmia, dialisis atau resusitasi otak5. Organ yang paling terpengaruh oleh kerusakan hipoksemik dan iskemik selama henti jantung adalah otak. Satu dari lima orang yang selamat dari henti jantung mempunyai defisit neurologis. Bila pasien tetap tidak sadar, hendaknya dilakukan upaya untuk memelihara perfusi dan oksigenasi otak. Tindakan ini meliputi penggunaan agen vasoaktif untuk memelihara tekanan darah sistemik yang normal, penggunaan steroid untuk mengurangi sembab otak dan penggunaan diuretik untuk menurunkan tekanan intracranial. Oksigen tambahan hendaknya diberikan dan hiperventilasi derajad sedang juga membantu2,5.
III.4. Keputusan Untuk Mengakhiri Upaya Resusitasi
Semua tenaga kesehatan dituntut untuk memulai RJP segera setelah diagnosis henti nafas atau henti jantung dibuat, tetapi dokter pribadi korban hendaknya lebih dulu diminta nasehatnya sebelum upaya resusitasi dihentikan. Tidak sadar ada pernafasan spontan dan refleks muntah dan dilatasi pupil yang menetap selama 15 sampai 30 menit atau lebih merupakan petunjuk kematian otak kecuali pasien hipotermik atau dibawah efek barbiturat atau dalam anesthesia umum. Akan tetapi tidak adanya tanggapan jantung terhadap tindakan resusitasi. Tidak ada aktivitas listrik jantung selama paling sedikit 30 menit walaupun dilakukan upaya RJP dan terapi obat yang optimal menandakan mati jantung2,5. Seseorang dilakukan mati bilamana1 :
1)Fungsi spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti atau irreversibel.
2)Tidak terbukti terjadi kematian batang otak dalam keadaan darurat, tidak mungkin untuk menegakkan diagnosis mati batang otak. Dalam resusitasi darurat, seseorang dinyatakan mati, jika : Terdapat tanda- tanda mati jantung. Sesudah dimulai resusitasi pasien tetap tidak sadar, tidak timbul ventilasi spontan dan refleks muntah serta pupil tetap dilatasi selama 15 sampai 30 menit atau lebih, kecuali kalau pasien hipotermik atau dibawah pengaruh barbiturat atau anestesia umum. Dalam keadaan darurat resusitasi dapat diakhiri bila ada salah satu dari berikut ini5 : Telah timbul kembali sirkulasi dan ventilasi spontan yang efektif. Upaya resusitasi telah diambil alih oleh orang lain yang lebih bertanggung jawab meneruskan resusitasi (bila tidak ada dokter). Seorang dokter mengambil alih tanggung jawab (bila tidak ada dokter sebelumnya). Penolong terlalu capek sehingga tak sanggup meneruskan resusitasi. Pasien dinyatakan mati Setelah dimulai resusitasi ternyata diketahui bahwa pasien berada dalam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau hampir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tak akan pulih (yaitu sesudah setengah atau satu jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP).
BAB III
KESIMPULAN
Dengan penemuan tindakan diagnostik dan resusitasi mutakhir maka kematian tidak dianggap sebagai saat berhenti kerja jantung. Sekarang dikenal spektrum keadaan fisiologik yang meliputi kematian klinis, serebral dan organis. Tanpa pertolongan tindakan resusitasi maka henti sirkulasi akan menyebabkan disfungsi serebral dan kemudian organis dengan kerusakan sel irreversibel. Resusitasi untuk mengembalikan fungsi nafas dan sirkulasi akibat dari henti nafas dan henti jantung, yang dilakukan setelah tiga menit presentasi keberhasilan 75 %, jika setelah empat menit presentasi keberhasilan 50 % dan setelah lima menit maka presentasi keberhasilan resusitasi menjadi 25 %. Tindakan awal yang harus dilakukan pada penderita henti jantung paru adalah melakukan ABC, yang merupakan Bantuan Hidup Dasar fase I, Bantuan Hidup Lanjut fase II meliputi DEF dan dilanjutkan dengan fase III meliputi GHI. Resusitasi jantung paru ini dilakukan pada pasien yang mungkin hidup lama dan tanpa meninggalkan kelainan pada otak. Keberhasilan resusitasi ini tergantung dari penyebab, waktu penderita mulai ditolong, ketrampilan penolong, alat penunjang dan tenaga medis yang ada.
Resusitasi jantung paru (RJP), atau juga dikenal dengan cardio pulmonier resusitation (CPR), merupakan gabungan antara pijat jantung dan pernafasan buatan. Teknik ini diberikan pada korban yang mengalami henti jantung dan nafas, tetapi masih hidup.
Komplikasi dari teknik ini adalah pendarahan hebat. Jika korban mengalami pendarahan hebat, maka pelaksanaan RJP akan memperbanyak darah yang keluar sehingga kemungkinan korban meninggal dunia lebih besar. Namun, jika korban tidak segera diberi RJP, korban juga akan meninggal dunia.
Langkah yang paling tepat jika korban mengalami komplikasi henti jantung dan pendarahan hebat tergantung pada kemampuan penolong. Jika penolong sendirian dan mahir dalam mengendalikan pendarahan, maka penolong harus menghentikan pendarahan dengan cepat baru kemudian melakukan RJP. Jika penolong ada banyak, maka pengendalian pendarahan dan RJP dapat dilakukan secara bersamaan.
Langkah pertama dalam memberikan RJP adalah menentukan titik kompresi jantung. Titik ini merupakan tempat diletakkannya tangan penolong untuk menekan jantung. Titik kompresi jantung terletak pada pertemuan iga kanan dan kiri. Titik ini bisa diletakkan pada 2 jari diatas taju pedang atau lurus dengan garis semu antara puting susu.
Pelaksanaan RJP berbeda-beda, tergantung pada usia korban. Pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
- korban dewasa (lebih dari 8 tahun)
Jika penolong hanya 1, maka fase pertama RJP dikakukan sebanyak 4 siklus per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 15 kali tekan jantung dan 2 kali nafas buatan. Setelah fase pertama selesai, korban diperiksa jantung dan nafasnya. Jika jantung dan nafas masih berhenti, pertolongan dilanjutkan dengan fase kedua yang terdiri dari 8 siklus (4 siklus per menit). Jika pada fase kedua ini jantung dan nafas korban masih berhenti, maka dilanjutan ke fase ketiga yang terdiri dari 8 siklus, demikian seterusnya.
Jika penolongnya 2 orang, maka 1 orang bertugas untuk menekan jantung dan 1 orang lagi memberi nafas buatan. Fase pertama RJP dilakukan dengan 12 siklus per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 5 kali tekan jantung dan 1 kali nafas buatan. Jika korban masih belum bernafas, maka fase-fase selanjutnya dilakukan sebanyak 24 siklus (12 siklus per menit)
- korban anak-anak (1 – 8 tahun)
Untuk anak-anak (baik itu penolongnya sendirian atau 2 orang), RJP dilakukan sebanyak 14 – 20 siklus per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 5 kali pijat jantung dan sekali nafas buatan. Yang perlu diperhatikan disini adalah penekanan jantung tidak boleh terlalu dalam, hanya 3 – 4 cm saja, dan tiupan pada saat pemberian nafas buatan juga tidak boleh terlalu kencang.
- korban bayi (kurang dari 1 tahun)
Untuk bayi (baik itu penolongnya sendirian atau 2 orang), RJP dilakukan sebanyak 20 siklus per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 5 kali tekan jantung dan 1 kali nafas buatan. Untuk bayi yang baru lahir, RJP dilakuakan sebanyak 40 siklus yang tiap siklusnya terdiri dari 3 kali tekan jantung dan 1 kali nafas buatan. Yang perlu diperhatikan pada RPJ pada bayi adalah penekanan jantung dilakukan dengan 2 jari saja (jari tengah dan jari manis) dengan kedalaman 1,5 – 2,5 cm dan volume nafas yang diberikan hanya sebanyak penggembungan pipi penolong saja.
RJP pada korban dihentikan apabila:
- ada penolong yang menggantikan
- ada tanda kehidupan
- ada tanda kematian
- setelah 30 menit
Metode Baru RJP
RESUSITASI JANTUNG PARUResusitasi jantung paru tidak dilakukan pada semua penderita yang mengalami gagal jantung atau pada orang yang sudah mengalami kerusakan pernafasan atau sirkulasi yang tidak ada lagi kemungkinan untuk hidup, melainkan yang mungkin untuk hidup lama tanpa meninggalkan kelainan di otak5.
Keberhasilan resusitasi dimungkinkan oleh adanya waktu tertentu diantara mati klinis dan mati biologis. Mati klinis terjadi bila dua fungsi penting yaitu pernafasan dan sirkulasi mengalami kegagalan total. Jika keadaan ini tidak ditolong akan terjadi mati biologis yang irreversibel. Resusitasi jantung paru yang dilakukan setelah penderita mengalami henti nafas dan jantung selama 3 menit, presentasi kembali normal 75 %tanpa gejala sisa. Setelah 4 menit presentasi menjadi 50 % dan setelah lima menit menjadi 25 %. Maka jelaslah waktu yang sedikit itu harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.
Disamping mati klinis dan biologis dikenal dengan istilah mati social yaitu keadaan dimana pernafasan dan sirkulasi terjadi spontan atau secara buatan, namun telah mengalami aktifitas kortikal yang abnormal. Penderita dalam keadaan sopor atau koma tanpa kemungkinan untuk sembuh dan dinyatakan dalam keadaan vegetatif. Agar resusitasi dapat berjalan maksimal tentu saja memerlukan penolong yang cekatan dan terampil. Waktu satu menit sangat berguna dalam memberikan pertolongan pertama pada penderita.
II.1. Definisi
Resusitasi jantung paru merupakan usaha yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi pada henti nafas (respiratory arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest) pada orang dimana fungsi tersebut gagal total oleh suatu sebab yang memungkinkan untuk hidup normal selanjutnya bila kedua fungsi tersebut bekerja kembali5.
II.2. Anatomi dan Fisiologi
Pemakaian oksigen dan pengeluaran karbon dioksida sangat diperlukan untuk menjalankan fungsi normal selular didalam tubuh. Pemakaian tersebut melalui suatu proses pernafasan sehingga secara harfiah pernafasan dapat diartikan pergerakan oksigen dari atmosfer menuju sel ke udara bebas. Proses pernafasan terdiri dari beberapa langkah dimana sistem pernafasan, sistem saraf pusat dan sistem kardiovaskuler memegang peranan yang sangat penting1.
II.2.1. Anatomi dan Fisiologi Saluran Pernafasan.
Saluran pernafasan udara mulai dari hidung hingga mencapai paru adalah : hidung, faring, laring, trakhea, bronkhus dan bronkhiolus1. Saluran pernafasan dari hidung sampai bronkhiolus dilapisi oleh membran mukosa yang bersilia. Ketika udara masuk ke dalam rongga hidung udara tersebut disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Kemudian udara mengalir ke faring menuju laring. Laring merupakan rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otak dan mengandung pita suara. Diantara pita suara terdapat ruang berbentuk seperti sepatu kuda yang panjangnya kurang lebih 5 inci. Permukaan posterior agak pipih dan letaknya tepat didepan esofagus. Bronkhus utama kanan dan kiri tidak simetris, yang kanan lebih pendek, lebih lebar dan merupakan kelanjutan trakhea. Cabang utama bronkhus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkhus lobaris dan bronkhus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronkhus yang ukurannya semakin kecil yang berakhir menjadi bronkhiolus terminalis. Oksigen pada proses pernafasan dipindahkan dari udara luar ke dalam jaringan dan stadium pertama ventilasi, yaitu masuknya campuran gas ke dalam dan keluar paru. Transportasi masuknya campuran gas yang keluar masuk paru terdiri dari beberapa aspek1, yaitu :
1.Difusi gas antara alveolus dan kapiler paru, dan antara darah sistemik dan sel jaringan.
2.Distribusi darah dalam sirkulasi pulmoner dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus.
3.Reaksi kimia dan fisik dari oksigen dan karbondioksida dengan darah. Stadium yang ketiga adalah respirasi sel, yaitu saat dimana metabolit dioksida untuk mendapatkan energi dan karbondioksida terbentuk sebagai sampah metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru- paru.
II.2.2. Anatomi dan Fisiologi Kardiovaskuler.
Jantung merupakan salah satu organ yang terletak dalam mediastinum di rongga dada, yaitu diantara kedua paru. Perikardium sendiri terbagi menjadi dua, yaitu perikardium parietalis dan pericardium visceralis. Perikardium parietalis melekat pada tulang dada sebelah depan dan kolumna vertebralis bagian belakang, sedangkan ke bawah pada diafragma. Perikardium visceralis langsung melekat pada permukaan jantung. Jantung sendiri terbagi dari 3 lapisan yaitu epikardium (lapisan terluar), miokardium (lapisan dalam) dan endokardium (lapisan terdalam)
1.Ruangan jantung terbagi menjadi 2 bagian jantung bagian atas atrium dan ventrikel terletak sebelah bawah, yang secara anatomi mereka terpisah oleh suatu annulus fibrosus. Keempat katup jantung terletak dalam cincin ini. Secara fungsinal jantung terbagi menjadi dua yaitu alat pompa kanan dan alat pompa kiri yang memompa darah sistemik. Pembagian fungsi ini mempermudah konseptualisasi dari urutan aliran darah secara anatomi. Fisiologi siklus jantung ventrikel kiri memompa darah ke aorta melalui katup semilunaris aorta, dari aorta darah akan dialirkan menuju arteri kemudian ke jaringan melalui cabang kecil arteri (arteriola), dari arteriola kemudian menuju ke venula. Kemudian akan melalui vena darah akan dialirkan ke atrium kanan, dari atrium kanan darah menuju ventrikel kanan melalui katup trikuspidalis, dari ventrikel kanan kemudian darah dipompa menuju arteri pulmonalis melewati katup semilunaris pulmonalis. Dari arteri pulmonalis ke pulmo. Dari pulmo darah keluar melalui vena pulmonalis ke atrium kiri, dari atrium kiri kemudian menuju ventrikel kiri melalui katup bicuspidalis atau mitralis. Demikian seterusnya darah akan mengalir melalui siklus tersebut
1.II.3. Etiologi
Resusitasi jantung paru bertujuan untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi, dan penanganan akibat henti nafas (respiratory arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest), yang mana fungsi tersebut gagal total oleh sebab yang memungkinkan untuk hidup normal 5. Adapun sebab henti nafas adalah :
1.Sumbatan jalan nafas
Bisa disebabkan karena adanya benda asing, aspirasi, lidah yang jatuh ke belakang, pipa trakhea terlipat, kanula trakhea tersumbat, kelainan akut glotis dan sekitarnya (sembab glotis, perdarahan).
2.Depresi pernafasan
Sentral : obat, intoksikasi, Pa O2 rendah, Pa CO2 tinggi, setelah henti jantung, tumor otak dan tenggelam.
Perifer : obat pelumpuh otot, penyakit miastenia gravis, poliomyelitis.
Sebab- sebab henti jantung4,5 :Penyakit kardiovaskuler Penyakit jantung sistemik, infark miokardial akut, embolus paru, fibrosis pada sistem konduksi (penyakit lenegre, sindrom adams stokes, noda sinus atrioventrikulaer sakit). Kekurangan oksigen akut Henti nafas, benda asing di jalan nafas, sumbatan jalan nafas oleh sekresi, asfiksia dan hipoksia. Kelebihan dosis obat dan gangguan asam basa Digitalis, quinidin, antidepresan trisiklik, propoksifen, adrenalin dan isoprenalin. Kecelakaan Syok listrik dan tenggelam. Refleks vagal Peregangan sfingter anii, penekanan atau penarikan bola mata. Anestesi dan pembedahan. Terapi dan tindakan diagnostik medis Syok (hipovolemik, neurogenik, toksik dan anafilaktik) Kebanyakan henti jantung yang terjadi di masyarakat merupakan akibat penyakit jantung iskemik, 40 % mati mendadak. Dari penyakit jantung iskemik terjadi dalam waktu satu jam setelah dimulainya gejala dan proporsinya lebih tinggi, sekitar 60 % diantara umur pertengahan dan yang lebih muda. Lebih dari 90 % kematian yang terjadi di luar rumah sakit disebabkan oleh fibrilasi ventrikuler, suatu kondisi
yang potensial reversibel1.
BAB III
PEMBAHASAN
Henti jantung dan henti nafas bukanlah kejadian yang sering terjadi walaupun di Rumah Sakit. Pada banyak kasus sebenarnya kematian mendadak sebagai akibat sroke infark, kelebihan dosis obat dan trauma hebat, dapat dicegah bila tindakan resusitasi dilakukan secara tepat. Setiap tenaga kesehatan harus menguasai teknik resusitasi jantung paru. Pada tahun 1974, The American Association menerbitkan penuntun pertama teknik bantuan hidup ini kemudian direvisi pada tahun 1980, tahun 1986 di negara lain mengikutinya1,4. Pengajaran resusitasi jantung paru otak dibagi dalam 3 fase, yaitu : Bantuan Hidup Dasar (BDH), Bantuan Hidup Lanjut (BHL), Bantuan Hidup Jangka Lama. Dan dalam 9 langkah dengan menggunakan huruf abjad dari A sampai I2,5.
Fase I : untuk oksigenasi darurat, terdiri dari (A) Airway Control : penguasaan jalan nafas. (B) Breathing Support : ventilasi bantuan dan oksigen paru darurat. (C) Circulation Support : pengenalan tidak adanya denyut nadi dan pengadaan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung, penghentian perdarahan dan posisi untuk syok.
Fase II : untuk memulai sirkulasi spontan terdiri dari (D) Drugs and Fluid Intravenous Infusion : pemberian obat dan cairan tanpa menunggu hasil EKG. (E) Electrocardioscopy (Cardiography) dan (F) Fibrillation Treatment : biasanya dengan syok listrik (defibrilasi).
Fase III : untuk pengelolaan intensif pasca resusitasi, terdiri dari (G) Gauging : menetukan dan memberi terapi penyebab kematian dan menilai sejauh mana pasien dapat diselamatkan. (H) Human Mentation : SSP diharapkan pulih dengan tindakan resusitasi otak yang baru dan (I) Intensive Care : resusitasi jangka panjang. Dalam makalah ini hanya dibicarakan resusitasi jantung paru yang memang harus betul- betul dikuasai oleh setiap tenaga kesehatan terutama mereka yang bekerja di bidang anesthesia, unit darurat, kamar operasi dan kamar bersalin3.
III.1. Fase I (Bantuan Hidup Dasar) Bila terjadi nafas primer, jantung terus dapat memompa darah selama beberapa menit dan sisa O2 yang berada dalam paru darah akan terus beredar ke otak dan organ vital lain. Penanganan dini pada korban dengan henti nafas atau sumbatan jalan nafas dapat mencegah henti jantung. Bila terjadi henti jantung primer, O2 tidak beredar dan O2 yang tersisa dalam organ vital akan habis dalam beberapa detik. Henti jantung dapat disertai dengan fenomena listrik berikut : fibrilasi fentrikular, takhikardia fentrikular, asistol ventrikular atau disosiasi elektromekanis5. Penilaian tahapan BHD sangat penting. Tindakan resusitasi meliputi posisi pembukaan jalan nafas buatan dan kompresi dada luar dilakukan kalau memang betul dibutuhkan. Ini ditentukan penilaian yang tepat. Setiap langkah ABC RJP dimulai dengan penentuan tidak ada respon, tidak ada nafas dan tidak ada nadi. Pada korban yang tiba- tiba kolaps, kesadaran harus segera ditentukan dengan tindakan goncangan atau teriak yang terdiri dari menggoncangkan korban dengan lembut dan memanggil keras. Bila tidak dijumpai tanggapan hendaknya korban diletakkan dalam posisi terlentang dan ABC BHD hendaknya dilakukan. Sementara itu mintalah pertolongan dan bila mungkin aktifitaskan sistem pelayanan medis darurat2,5.
III.1.1. Airway (Jalan Nafas) Sumbatan jalan nafas oleh lidah yang menutupi dinding posterior faring adalah merupakan persoalan yang sering timbul pada pasien yang tidak sadar dengan posisi terlentang. Resusitasi tidak akan berhasil bila sumbatan tidak diatasi. Tiga cara telah dianjurkan untuk menjaga agar jalan nafas tetap terbuka yaitu dengan metode ekstensi kepala angkat leher, metode ekstensi kepala angkat dagu dan metode angkat dagu dorong mandibula, dimana metode angkat dagu dorong mandibula lebih efektif dalam membuka jalan nafas atas daripada angkat leher5. Pendorongan mandibula saja tanpa ekstensi kepala juga merupakan metode paling aman untuk memelihara jalan nafas atas tetap terbuka, pada pasien dengan dugaan patah tulang leher. Bila korban yang tidak sadar bernafas spontan dan adekuat dengan tidak ada sianosis, korban sebaiknya diletakkan dalam posisi mantap untuk mencegah aspirasi. Bila tidak diketahui atau dicurigai ada trauma kepala dan leher, korban hanya digerakkan atau dipindahkan bila memang mutlak diperlukan karena gerak yang tidak betul dapat mengakibatkan paralisis pada korban dengan cedera leher. Disini teknik dorong mandibula tanpa ekstensi kepala merupakan cara yang paling aman untuk membuka jalan nafas, bila dengan ini belum berhasil dapat dilakukan sedikit ekstensi kepala.
III.1.2. Breathing (Pernafasan)
Setelah jalan nafas terbuka, penolong hendaknya segera menilai apakah pasien dapat bernafas spontan atau tidak. Ini dapat dilakukan dengan mendengarkan gerak nafas pada dada korban. Bila pernafasan spontan tidak timbul kembali diperlukan ventilasi buatan5. Untuk melakukan ventilasi mulut ke mulut penolong hendaknya mempertahankan kepala dan leher korban dalam salah satu sikap yang telah disebutkan diatas dan memencet hidung korban dengan satu tangan atau dua kali ventilasi dalam. Kemudian segera raba denyut nadi karotis atau femoralis. Bila ia tetap henti nafas tetapi masih mempunyai denyut nadi diberikan ventilasi yang dalam sebesar 800 ml sampai 1200 ml setiap 5 detik4,5. Bila denyut nadi karotis tidak teraba, dua kali ventilasi dalam harus diberikan sesudah tiap 15 kompresi dada pada resusitasi yang dilakukan oleh seorang penolong dan satu ventilasi dalam sesudah tiap 5 kompresi dada pada yang dilakukan oleh 2 penolong. Tanda ventilasi buatan yang adekuat adalah dada korban yang terlihat naik turun dengan amplitudo yang cukup ada udara keluar melalui hidung dan mulut korban selama respirasi sebagai tambahan selama pemberian ventilasi pada korban, penolong dapat merasakan tahanan dan pengembangan paru korban ketika diisi5. Pada beberapa pasien ventilasi mulut ke hidung mungkin lebih efektif daripada fentilasi mulut ke mulut. Ventilasi mulut ke stoma hendaknya dilakukan pada pasien dengan trakeostomi. Bila ventilasi mulut ke mulut atau mulut ke hidung tidak berhasil baik walaupun jalan nafas telah dicoba dibuka, faring korban harus diperiksa untuk melihat apakah ada sekresi atau benda asing. Pada tindakan jari menyapu, korban hendaknya digulingkan pada salah satu sisinya. Sesudah dengan paksa membuka mulut korban dengan satu tangan memegang lidah dan rahangnya, penolong memasukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan yang lain kedalam satu sisi mulut korban dalam satu gerakan menyapu. Bila tindakan ini gagal untuk mengeluarkan benda asing, hendaknya dikerjakan hentakan abdomen atau hentakan dada, sehingga tekanan udara dalam abdomen meningkat dan akan mendorong benda untuk keluar. Hentakan dada dilakukan pada korban yang terlentang, teknik ini sama dengan kompresi dada luar. Urutan yang dianjurkan adalah5 : Berikan 6 sampai 10 kali hentakan abdomen. Buka mulut dan lakukan sapuan jari. Reposisi pasien, buka jalan nafas dan coba beri ventilasi buatan dapat dilakukan dengan sukses. Bila sesudah dilakukan gerak tripel (ekstensi kepala, buka mulut dan dorong mandibula), pembersihan mulut dan faring ternyata masih ada sumbatan jalan nafas, dapat dicoba pemasangan pipa jalan nafas. Bila dengan ini belum berhasil perlu dilakukan intubasi trakheal. Bila tidak mungkin atau tidak dapat dilakukan intubasi trakheal, sebagai alternatifnya adalah krikotomi atau fungsi membrane krikotiroid dengan jarum berlumen besar (misal dengan kanula intravena 14 G). Bila masih ada sumbatan di bronkhus maka perlu tindakan pengeluaran benda asing dari bronkhus atau terapi bronkhospasme dengan aminophilin atau adrenalin5.
III.1.3. Circulation (Sirkulasi)
Bantuan ketiga dalam BHD adalah menilai dan membantu sirkulasi. Tanda- tanda henti jantung adalah5: Kesadaran hilang dalam waktu 15 detik setelah henti jantung. Tak teraba denyut nadi arteri besar (femoralis dan karotis pada orang dewasa atau brakhialis pada bayi). Henti nafas atau megap- megap. Terlihat seperti mati. Warna kulit pucat sampai kelabu. Pupil dilatasi (45 detik setelah henti jantung) Tidak ada nadi yang teraba pada arteri besar, pemeriksaan arteri karotis sesering mungkin merupakan tanda utama henti jantung. Diagnosis henti jantung dapat ditegakkan bila pasien tidak sadar dan tidak teraba denyut arteri besar. Pemberian ventilasi buatan dan kompresi dada luar diperlukan pada keadaan sangat gawat. Korban hendaknya terlentang pada permukaan yang keras agar kompresi dada luar yang dilakukan efektif. Penolong berlutut di samping korban dan meletakkan sebelah tangannya diatas tengah pertengahan bawah sternum korban sepanjang sumbu panjangnya dengan jarak 2 jari dari persambungan episternum. Tangan penolong yang lain diletakkan diatas tangan pertama, jari- jari terkunci dengan lurus dan kedua bahu tepat diatas sternum korban, penolong memberikan tekanan ventrikel ke bawah yang cukup untuk menekan sternum 4 sampai 5 cm. Setelah kompresi harus ada relaksasi, tetapi kedua tangan tidak bo;eh diangkat dari dada korban, dianjurkan lama kompresi sama dengan lama relaksasi. Bila ada satu penolong, 15 kompresi dada luar (laju 80 sampai 100 kali/ menit) harus diikuti dengan pemberian 2 kali ventilasi dalam (2 sampai 3 detik). Dalam satu menit harus ada 4 siklus kompresi dan ventilasi (yaitu minimal 60 kompresi dada dan 8 ventilasi). Jadi 15 kali kompresi dan 2 ventilasi harus selesai maksimal dalam 15 detik. Bila ada 2 penolong, kompresi dada diberikan oleh satu penolong dengan laju 80 sampai 100 kali/ menit dan pemberian satu kali ventilasi dalam 1 sampai 1,5 detik oleh penolong kedua sesudah tiap kompresi kelima. Dalam satu menit minimal harus ada 60 kompresi dada dan 12 ventilasi. Jadi lima kompresi dan satu ventilasi maksimal dalam 5 detik5. Kompresi dada harus dilakukan secara halus dan berirama. Bila dilakkan dengan benar, kompresi dada luar dapat menghasilkan tekanan sistolik lebih dari 100 mmHg, dan tekanan rata- rata 40 mmHg pada arteri karotis. Kompresi dada tidak boleh terputus lebih dari 7 detik setiap kalinya, kecuali pada intubasi trakheal, transportasi naik turun tangga dapat sampai 15 detik. Sesudah 4 daur kompresi dan ventilasi dengan rasio 15 : 2, lakukan reevaluasi pada pasien. Periksa apakah denyut karotis sudah timbul (5 detik). Bila tidak ada denyut lanjutkan dengan langkah berikut. Periksa pernafasan 3 sampai 5 detik bila ada, pantau pernafasan dan nadi dengan ketat. Bila tidak ada lakukan ventilasi buatan 12 kali per menit dan pantau nadi dengan ketat. Bila RJP dilanjutkan beberapa menit dihentikan, periksa apakah sudah timbul nadi dan ventilasi spontan begitu seterusnya.
III.2 Fase II (Bantuan Hidup Lanjut).
Bantuan hidup lanjut berhubungan dengan teknik yang ditujukan untuk memperbaiki ventilasi dan oksigenasi korban dan pada diagnosis serta terapi gangguan irama utama selama henti jantung. Bantuan hidup dasar memerlukan peralatan khusus dan penggunaan obat. Harus segera dimulai bila diagnosis henti jantung atau henti nafas dibuat dan harus diteruskan sampai bantuan hidup lanjut diberikan. Setelah dilakukan ABC RJP dan belum timbul denyut jantung spontan, maka resusitasi diteruskan dengan langkah DEF5.
III.2.1. Drug and Fluid (Obat dan Cairan)
Tanpa menunggu hasil EKG dapat diberikan2,5 :
1.Adrenalin : 0,5 – 1,0 mg dosis untuk orang dewasa, 10 mcg/ kg pada anak- anak. Cara pemberian : iv, intratrakeal lewat pipa trakeal (1 ml adrenalin diencerkan dengan 9 ml akuades steril, bukan NaCl, berarti dalam 1 ml mengandung 100 mcg adrenalin). Jika keduanya tidak mungkin : lakukan intrakardial (hanya oleh tenaga yang sudah terlatih). Di ulang tiap 5 menit dengan dosis sama sampai timbul denyut spontan atau mati jantung.
2.Natrium Bikarbonat : dosis mula 1 mEq/ kg (bila henti jantung lebih dari 2 menit) kemudian dapat diulang tiap 10 menit dengan dosis 0,5 mEq/ kg sampai timbul denyut jantung spontan atau mati jantung, cara pemberian hanya iv. Penggunaan natrium bikarbonat tidak lagi dianjurkan kecuali pada resusitasi yang lama, yaitu pada korban yang diberi ventilasi buatan yang lama dan efisien, sebab kalau tidak asidosis intraseluler justru bertambah dan tidak berkurang. Penjelasan untuk keanehan ini bukanlah hal yang baru. CO2 yang tidak dihasilkan dari pemecahan bikarbonat segera menyeberangi membran sel jika CO2 tidak diangkut oleh respirasi.
III.2.2. EKG
Meliputi fibrilasi ventrikuler, asistol ventrikuler dan disosiasi elektro mekanis.
III.2.3. Fibrilation Treatment (Terapi Fibrilasi) Elektroda dipasang disebelah kiri puting susu kiri disebelah kanan sternum atas, defibrilasi luar arus searah5 : 200 – 300 joule pada dewasa. 100 – 200 joule pada anak. 50 – 100 joule pada bayi.
III.3. Fase III (Bantuan Hidup Jangka Lama atau Pengelolaan Pasca Resusitasi)
Jenis pengelolaan pasien yang diperlukan pasien yang telah mendapat resusitasi bergantung sepenuhnya kepada resusitasi. Pasien yang mempunyai defisit neurologis dan tekanan darah terpelihara normal tanpa aritmia hanya memerlukan pantauan intensif dan observasi terus menerus terhadap sirkulasi, pernafasan, fungsi otak, ginjal dan hati. Pasien yang mempunyai kegagalan satu atau lebih dari satu sistem memerlukan bantuan ventilasi atau sirkulasi, terapi aritmia, dialisis atau resusitasi otak5. Organ yang paling terpengaruh oleh kerusakan hipoksemik dan iskemik selama henti jantung adalah otak. Satu dari lima orang yang selamat dari henti jantung mempunyai defisit neurologis. Bila pasien tetap tidak sadar, hendaknya dilakukan upaya untuk memelihara perfusi dan oksigenasi otak. Tindakan ini meliputi penggunaan agen vasoaktif untuk memelihara tekanan darah sistemik yang normal, penggunaan steroid untuk mengurangi sembab otak dan penggunaan diuretik untuk menurunkan tekanan intracranial. Oksigen tambahan hendaknya diberikan dan hiperventilasi derajad sedang juga membantu2,5.
III.4. Keputusan Untuk Mengakhiri Upaya Resusitasi
Semua tenaga kesehatan dituntut untuk memulai RJP segera setelah diagnosis henti nafas atau henti jantung dibuat, tetapi dokter pribadi korban hendaknya lebih dulu diminta nasehatnya sebelum upaya resusitasi dihentikan. Tidak sadar ada pernafasan spontan dan refleks muntah dan dilatasi pupil yang menetap selama 15 sampai 30 menit atau lebih merupakan petunjuk kematian otak kecuali pasien hipotermik atau dibawah efek barbiturat atau dalam anesthesia umum. Akan tetapi tidak adanya tanggapan jantung terhadap tindakan resusitasi. Tidak ada aktivitas listrik jantung selama paling sedikit 30 menit walaupun dilakukan upaya RJP dan terapi obat yang optimal menandakan mati jantung2,5. Seseorang dilakukan mati bilamana1 :
1)Fungsi spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti atau irreversibel.
2)Tidak terbukti terjadi kematian batang otak dalam keadaan darurat, tidak mungkin untuk menegakkan diagnosis mati batang otak. Dalam resusitasi darurat, seseorang dinyatakan mati, jika : Terdapat tanda- tanda mati jantung. Sesudah dimulai resusitasi pasien tetap tidak sadar, tidak timbul ventilasi spontan dan refleks muntah serta pupil tetap dilatasi selama 15 sampai 30 menit atau lebih, kecuali kalau pasien hipotermik atau dibawah pengaruh barbiturat atau anestesia umum. Dalam keadaan darurat resusitasi dapat diakhiri bila ada salah satu dari berikut ini5 : Telah timbul kembali sirkulasi dan ventilasi spontan yang efektif. Upaya resusitasi telah diambil alih oleh orang lain yang lebih bertanggung jawab meneruskan resusitasi (bila tidak ada dokter). Seorang dokter mengambil alih tanggung jawab (bila tidak ada dokter sebelumnya). Penolong terlalu capek sehingga tak sanggup meneruskan resusitasi. Pasien dinyatakan mati Setelah dimulai resusitasi ternyata diketahui bahwa pasien berada dalam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau hampir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tak akan pulih (yaitu sesudah setengah atau satu jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP).
BAB III
KESIMPULAN
Dengan penemuan tindakan diagnostik dan resusitasi mutakhir maka kematian tidak dianggap sebagai saat berhenti kerja jantung. Sekarang dikenal spektrum keadaan fisiologik yang meliputi kematian klinis, serebral dan organis. Tanpa pertolongan tindakan resusitasi maka henti sirkulasi akan menyebabkan disfungsi serebral dan kemudian organis dengan kerusakan sel irreversibel. Resusitasi untuk mengembalikan fungsi nafas dan sirkulasi akibat dari henti nafas dan henti jantung, yang dilakukan setelah tiga menit presentasi keberhasilan 75 %, jika setelah empat menit presentasi keberhasilan 50 % dan setelah lima menit maka presentasi keberhasilan resusitasi menjadi 25 %. Tindakan awal yang harus dilakukan pada penderita henti jantung paru adalah melakukan ABC, yang merupakan Bantuan Hidup Dasar fase I, Bantuan Hidup Lanjut fase II meliputi DEF dan dilanjutkan dengan fase III meliputi GHI. Resusitasi jantung paru ini dilakukan pada pasien yang mungkin hidup lama dan tanpa meninggalkan kelainan pada otak. Keberhasilan resusitasi ini tergantung dari penyebab, waktu penderita mulai ditolong, ketrampilan penolong, alat penunjang dan tenaga medis yang ada.
materi
Materi Pelatihan PMR antar lain :
• Kepalangmerah (Palang Merah Indonesia dan Palang Merah Internasional)
• HPI
• Pertolongan Pertama
• Perawatan Keluarga
• Pendidikan Remaja Sebaya
• Pengabdian Masyarakat
• Kepemimpinan
• Komunikasi
• kerjasama
• PBB
Sejarah Lahirnya Gerakan
Pada tahun 1859, Henry Dunant menyaksikan terjadinya peperangan di Solferino, dimana banyak korban perang yang tidak mendapat pertolongan, sehingga timbul gagasan untuk memberikan pertolongan kepada korban perang tersebut.Pengalaman itu dituangkan di dalam buku “Kenangan Solferino” (tahun 1862). Dalam buku tersebut diuraikan tentang kondisi yang ditimbulkan oleh peperangan dan mengusulkan agar segera dibentuk satuan tenaga sukarela yang bernaung di bawah suatu lembaga yang memberikan pertolongan kepada orang-oang yang terluka di medan perang.
Buku “Kenangan Solferino” menarik perhatian 4 orang penduduk Jenewa yaitu :
- General Dufour
- Dr. Louis Appia
- Dr. Theodore Maunoir
- Gustave Moynier
4 orang tersebut bersama Henry Dunant membentuk Komite Lima yang kemudian menjadi International Committee Of The Red Cross (ICRC) = Komite Internasional Palang Merah (KIPM).Pada tanggal 22 Agustus 1864 atas pakarsa ICRC, Pemerintah Swiss menyelenggarakan suatu konperensi yang diikuti oleh 12 Kepala Negara yang menandatangani perjanjian internasional yang dikenal dengan KONVENSI JENEWA I.Karena tanda Palang Merah diasumsikan mempunyai arti khusus maka pada tahun 1876 simbol Bulan Sabit Merah disahkan untuk digunakan oleh negara-negara Islam. Kedua Simbol tersbut memiliki arti dan nilai yang sama.Dengan berakhirnya Perang Dunia I, berbagai epidemi penyakit berjangkit dan bencana kelaparan menjalar.Melihat kenyataan itu, Henry P. Davidson warga negara Amerika, merasa perlu mendirikan suatu organisasi yang menangani masalah bantan tersebut, yang saat ini dikenal sebagai Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan sabit Merah (didirikan tanggal 5 Mei 1919 dalam suatu konperensi Kesehatan Internasional di Cannes Perancis).
ORGANISASI
Sejarah Palang Merah Indonesia
Seperti Palang Merah Internasional, lahirnya PMI juga berkaitan dengan kancah peperangan, diawali pada :
MASA SEBELUM PERANG DUNIA II
• 21 Oktober 1873 Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (NERKAI) didirikan Belanda.
• Tahun 1932 dr. RCL Senduk dan dr. Bahder Djohan merencanakan mendirikan Badan PMI
• Tahun 1940 pada sidang konperensi NERKAI, rencana diatas ditolak karena menurut Pemerintah Belanda, rakyat Indonesia belum mapu mengatur Badan Palang Merah Nasional.
MASA PENDUDUKAN JEPANG
Dr. RCL Senduk berusaha lagi unuk mendirikan BADAN PMI namun gagal, ditolak Pemerintah DAI NIPPON.
MASA KEMERDEKAAN RI
• 17 Agustus 1945 RI merdeka
• 3 September 1945 Presiden Soekarno memrintahkan kepada Menteri Kesehatan dr. Buntaran Martoatmodjo untuk membentuk suatu Badan Palang Merah Nasional.Pembentukan PMI dimaksudkan juga untuk menunjukkan pada dunia internasional bahwa negara Indonesia adalah satu fakta yang nyata.
• 5 September 1945 Menkes RI dlam Kabinet I (dr. Boentaran) membentuk Panitia 5 (lima) : Ketua : dr. R. Mochtar, Penulis : dr. Bahder Djohan, Anggota : (dr. Djoehana, dr. Marzuki, dr. Sitanala)
• 17 September 1945 tersusun Pengurus Besar yang dilantik oleh Wakil Presiden RI Moch. Hatta yang sekaligus beliau sebagai Ketuanya.
MASA PERANG KEMERDEKAAN
Pada masa itu terjadi peperangan dimana-mana. Dalam usia muda PMI menghadapi kesulitan, kurang pengalaman, kurang peralatan dan dana. Namun orang-orang secara sukarela mengerahkan tenaganya, sehingga urusan kepalangmerahan dapat diselenggarakan.Berbagai pertolongan dan bantuan seperti Dapur Umum, Pos Pertolongan Pertama/PP, pengangkutan dan perawatan korban pertempuran, sampai pada penguburannya jika ada yang meninggal, dilakukan oleh laskar-laskar sukarela di bawah Panji Palang Merah yang tidak memandang golongan, agama dan paham politik memudahkan pekerjaan membantu mereka yang memerlukan bantuan di mana saja.
Pada waktu dibentuk Pasukan Penolong Pertama (Mobile Colone) oleh Cabang-Cabang. Anggotanya terdiri dari pelajar sekolah tinggi dan menengah.
Pada permulaan tahun 1946 telah terkumpul kurang lebih 60 wanita untuk dididik sebagai pembantu jururawat yang di asramakan di gedung Chr. HBS Salemba.Meeka kemudian dikirim ke daerah luar Jakarta sampai ke daerah pertempuran.Menurut catatan pada waktu itu PMI sudah memiliki 40 Cabang.
KESIAPSIAGAAN BENCANA
Mengenal Bencana
Sering dengan istilah Bencana ? Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah ”bencana” (disaster). Bencana adalah kejadian luar biasa yang disebabkan oleh faktor alam ataupun sebagai akibat ulah manusia yang menimbulkan korban jiwa, kerugian materila dan kerusakan lingkungan. Bencana timbul ketika manusia tidak dapat mengatasi ancaman.
Berdasarkan waktunya bencana dapat dikelompokan sebagai berikut :
1. Bencana terjadi secara tiba-tiba, misalnya gempa bumi, tsunami, angin topan, letusan gunung api, banjir bandang san tanah longsor.
2. Bencana yang terjadi secara perlahan, dan dengan disertai munculnya tanda-tanda sehingga kita bisa melakukan tindakan-tindakan untuk mencegah timbulnya banyak korban, misalnya banjir, kekeringan, dll.
Siklus Bencana
Bencana memiliki siklus sehingga kita dapat melakukan tindakan-tindakan untuk menghindari jatuhnya kerugian dan jatuhnya banyak korban. Kegiatan penanganan bencana dilakukan sepanjang siklus bencana, yaitu :
A. Sebelum bencana datang, yang dapat kita lakukan antara lain :
1. Pencegahan Bencana, yaitu kegiatan penyediaan sarana yang memberikan perlindungan permanen terhadap dampak bencana, seperti pembangunan saluran lahar, kanal kendali banjir, pembebasan lokasi rawan bencana dari pemukiman penduduk.
2. Mitigasi, yaitu tindakan untuk mengurangi dampak bencana. Misalnya kita melatih keterampilan kita agar mampu membaca tanda-tanda terjadinya bencana, melatih pengetahuan pertolongan pertama. Dll.
3. Keseiapsiagaan menghadapi bencana, sebelum bencan kita harus mempersiapkan diri untuik melakukan tindakan cepat dan tepat jika suatu bencana terjadi. Misalnya mengenali tanda-tanda peringatan bencana di lngkungan tempat tinggalmu, seperti kentongan, sirine, berita radio, dll.
B. Pada saat bencana datang
Pada saat bencana tindakan yang dapat dilakukaj antara lain ; pencarian dan penyelamatan , pelayanan bantuan medis, pendistribusian bantuan dan dukungan psikologi sosial bagi mereka yang tertimpa bencana.
Yang dapat kamu lakukan adalah :
1. Berdoa, tabah, dan jangan panik
2. Menyelamatkan diri dan keluarga, usahakan tidak terpisah dari keluarga.
3. Mengikuti intsruksi dari petugas atau tim penyelamat.
4. Membantu sesuai kemampuan, misalnya, menghubungi nomor-nomor telepon penting, menginformasikan kepada PMI setempat.
C. Setelah Bencana
Bantulah apa yang bisa dan mampu kamu lakukan.. Carilah informasi tentang apa yang terjadi. Cobalah mencari tahu apa yang bisa dilakukan agar kejadian itu tidsk terulang ikembali dimasa yang akan datang. Dukunglah siapa saja yang mengupayakan tindakan pencegahan.
Visi PMR
PMR sebagai generasi muda kader PMI mampu dan siap menjalankan tugas sosial kemanusiaan sesuai dengan Prinsip-Prinsip Dasar Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional.
Misi PMR
6.1.2.1.1 Membangun karakter kader muda PMI sesuai dengan Tri Bhakti PMR
6.1.2.1.2 Menanamkan jiwa sosial kemanusiaan.
6.1.2.1.3 Menanamkan rasa kesukarelaan.
• Kepalangmerah (Palang Merah Indonesia dan Palang Merah Internasional)
• HPI
• Pertolongan Pertama
• Perawatan Keluarga
• Pendidikan Remaja Sebaya
• Pengabdian Masyarakat
• Kepemimpinan
• Komunikasi
• kerjasama
• PBB
Sejarah Lahirnya Gerakan
Pada tahun 1859, Henry Dunant menyaksikan terjadinya peperangan di Solferino, dimana banyak korban perang yang tidak mendapat pertolongan, sehingga timbul gagasan untuk memberikan pertolongan kepada korban perang tersebut.Pengalaman itu dituangkan di dalam buku “Kenangan Solferino” (tahun 1862). Dalam buku tersebut diuraikan tentang kondisi yang ditimbulkan oleh peperangan dan mengusulkan agar segera dibentuk satuan tenaga sukarela yang bernaung di bawah suatu lembaga yang memberikan pertolongan kepada orang-oang yang terluka di medan perang.
Buku “Kenangan Solferino” menarik perhatian 4 orang penduduk Jenewa yaitu :
- General Dufour
- Dr. Louis Appia
- Dr. Theodore Maunoir
- Gustave Moynier
4 orang tersebut bersama Henry Dunant membentuk Komite Lima yang kemudian menjadi International Committee Of The Red Cross (ICRC) = Komite Internasional Palang Merah (KIPM).Pada tanggal 22 Agustus 1864 atas pakarsa ICRC, Pemerintah Swiss menyelenggarakan suatu konperensi yang diikuti oleh 12 Kepala Negara yang menandatangani perjanjian internasional yang dikenal dengan KONVENSI JENEWA I.Karena tanda Palang Merah diasumsikan mempunyai arti khusus maka pada tahun 1876 simbol Bulan Sabit Merah disahkan untuk digunakan oleh negara-negara Islam. Kedua Simbol tersbut memiliki arti dan nilai yang sama.Dengan berakhirnya Perang Dunia I, berbagai epidemi penyakit berjangkit dan bencana kelaparan menjalar.Melihat kenyataan itu, Henry P. Davidson warga negara Amerika, merasa perlu mendirikan suatu organisasi yang menangani masalah bantan tersebut, yang saat ini dikenal sebagai Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan sabit Merah (didirikan tanggal 5 Mei 1919 dalam suatu konperensi Kesehatan Internasional di Cannes Perancis).
ORGANISASI
Sejarah Palang Merah Indonesia
Seperti Palang Merah Internasional, lahirnya PMI juga berkaitan dengan kancah peperangan, diawali pada :
MASA SEBELUM PERANG DUNIA II
• 21 Oktober 1873 Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (NERKAI) didirikan Belanda.
• Tahun 1932 dr. RCL Senduk dan dr. Bahder Djohan merencanakan mendirikan Badan PMI
• Tahun 1940 pada sidang konperensi NERKAI, rencana diatas ditolak karena menurut Pemerintah Belanda, rakyat Indonesia belum mapu mengatur Badan Palang Merah Nasional.
MASA PENDUDUKAN JEPANG
Dr. RCL Senduk berusaha lagi unuk mendirikan BADAN PMI namun gagal, ditolak Pemerintah DAI NIPPON.
MASA KEMERDEKAAN RI
• 17 Agustus 1945 RI merdeka
• 3 September 1945 Presiden Soekarno memrintahkan kepada Menteri Kesehatan dr. Buntaran Martoatmodjo untuk membentuk suatu Badan Palang Merah Nasional.Pembentukan PMI dimaksudkan juga untuk menunjukkan pada dunia internasional bahwa negara Indonesia adalah satu fakta yang nyata.
• 5 September 1945 Menkes RI dlam Kabinet I (dr. Boentaran) membentuk Panitia 5 (lima) : Ketua : dr. R. Mochtar, Penulis : dr. Bahder Djohan, Anggota : (dr. Djoehana, dr. Marzuki, dr. Sitanala)
• 17 September 1945 tersusun Pengurus Besar yang dilantik oleh Wakil Presiden RI Moch. Hatta yang sekaligus beliau sebagai Ketuanya.
MASA PERANG KEMERDEKAAN
Pada masa itu terjadi peperangan dimana-mana. Dalam usia muda PMI menghadapi kesulitan, kurang pengalaman, kurang peralatan dan dana. Namun orang-orang secara sukarela mengerahkan tenaganya, sehingga urusan kepalangmerahan dapat diselenggarakan.Berbagai pertolongan dan bantuan seperti Dapur Umum, Pos Pertolongan Pertama/PP, pengangkutan dan perawatan korban pertempuran, sampai pada penguburannya jika ada yang meninggal, dilakukan oleh laskar-laskar sukarela di bawah Panji Palang Merah yang tidak memandang golongan, agama dan paham politik memudahkan pekerjaan membantu mereka yang memerlukan bantuan di mana saja.
Pada waktu dibentuk Pasukan Penolong Pertama (Mobile Colone) oleh Cabang-Cabang. Anggotanya terdiri dari pelajar sekolah tinggi dan menengah.
Pada permulaan tahun 1946 telah terkumpul kurang lebih 60 wanita untuk dididik sebagai pembantu jururawat yang di asramakan di gedung Chr. HBS Salemba.Meeka kemudian dikirim ke daerah luar Jakarta sampai ke daerah pertempuran.Menurut catatan pada waktu itu PMI sudah memiliki 40 Cabang.
KESIAPSIAGAAN BENCANA
Mengenal Bencana
Sering dengan istilah Bencana ? Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah ”bencana” (disaster). Bencana adalah kejadian luar biasa yang disebabkan oleh faktor alam ataupun sebagai akibat ulah manusia yang menimbulkan korban jiwa, kerugian materila dan kerusakan lingkungan. Bencana timbul ketika manusia tidak dapat mengatasi ancaman.
Berdasarkan waktunya bencana dapat dikelompokan sebagai berikut :
1. Bencana terjadi secara tiba-tiba, misalnya gempa bumi, tsunami, angin topan, letusan gunung api, banjir bandang san tanah longsor.
2. Bencana yang terjadi secara perlahan, dan dengan disertai munculnya tanda-tanda sehingga kita bisa melakukan tindakan-tindakan untuk mencegah timbulnya banyak korban, misalnya banjir, kekeringan, dll.
Siklus Bencana
Bencana memiliki siklus sehingga kita dapat melakukan tindakan-tindakan untuk menghindari jatuhnya kerugian dan jatuhnya banyak korban. Kegiatan penanganan bencana dilakukan sepanjang siklus bencana, yaitu :
A. Sebelum bencana datang, yang dapat kita lakukan antara lain :
1. Pencegahan Bencana, yaitu kegiatan penyediaan sarana yang memberikan perlindungan permanen terhadap dampak bencana, seperti pembangunan saluran lahar, kanal kendali banjir, pembebasan lokasi rawan bencana dari pemukiman penduduk.
2. Mitigasi, yaitu tindakan untuk mengurangi dampak bencana. Misalnya kita melatih keterampilan kita agar mampu membaca tanda-tanda terjadinya bencana, melatih pengetahuan pertolongan pertama. Dll.
3. Keseiapsiagaan menghadapi bencana, sebelum bencan kita harus mempersiapkan diri untuik melakukan tindakan cepat dan tepat jika suatu bencana terjadi. Misalnya mengenali tanda-tanda peringatan bencana di lngkungan tempat tinggalmu, seperti kentongan, sirine, berita radio, dll.
B. Pada saat bencana datang
Pada saat bencana tindakan yang dapat dilakukaj antara lain ; pencarian dan penyelamatan , pelayanan bantuan medis, pendistribusian bantuan dan dukungan psikologi sosial bagi mereka yang tertimpa bencana.
Yang dapat kamu lakukan adalah :
1. Berdoa, tabah, dan jangan panik
2. Menyelamatkan diri dan keluarga, usahakan tidak terpisah dari keluarga.
3. Mengikuti intsruksi dari petugas atau tim penyelamat.
4. Membantu sesuai kemampuan, misalnya, menghubungi nomor-nomor telepon penting, menginformasikan kepada PMI setempat.
C. Setelah Bencana
Bantulah apa yang bisa dan mampu kamu lakukan.. Carilah informasi tentang apa yang terjadi. Cobalah mencari tahu apa yang bisa dilakukan agar kejadian itu tidsk terulang ikembali dimasa yang akan datang. Dukunglah siapa saja yang mengupayakan tindakan pencegahan.
Visi PMR
PMR sebagai generasi muda kader PMI mampu dan siap menjalankan tugas sosial kemanusiaan sesuai dengan Prinsip-Prinsip Dasar Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional.
Misi PMR
6.1.2.1.1 Membangun karakter kader muda PMI sesuai dengan Tri Bhakti PMR
6.1.2.1.2 Menanamkan jiwa sosial kemanusiaan.
6.1.2.1.3 Menanamkan rasa kesukarelaan.
Palang Merah Indonesia
Sumber kasih umat manusia
Warisan luhur, nusa dan bangsa
Wujud nyata pengayom Pancasila
Gerak juangnya keseluruh nusa
Mendarmakan bhakti bagi ampera
Tunaikan tugas suci tujuan PMI
Di Persada Bunda Pertiwi
Untuk umat manusia
Di seluruh dunia
PMI menghantarkan jasa
PP, ato lebih umumnya Pertolongan Pertama, adalah pemberian perawatan secara segera kepada penderita sakit / kecelakaan / cedera yang memerlukan penanganan medis dasar. lebih lanjut, silakan lihat penjelasan selanjutnya...
Para Penolong
1.Orang Awam
Kelompok yang tidak terlatih / memiliki sedikit pengetahuan PP / hanya meniru apa yang pernah dilihat atau didengarnya.
2.Penolong Pertama
Kualifikasi ini yang ingin dicapai oleh PMI.
3.Tenaga Khusus
Berupa tenaga yang dilath secara khusus untuk menanggulangi kedaruratan di lapangan seperti Paramedik dan sejenisnya.
Pertolongan Pertama
Pemberian perawatan segera kepada penderita sakit / cedera / kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar.
Medis dasar
Tindakan perwatan berdasarkan ilmu kedokteran yang dapat dimiliki oleh awam / awam terlatih secara khusus
Pelaku PP
Penolong yang pertama kali tiba di tempat kejadian yang memiliki kemampuan dan terlatih dalam penanganan medis dasar.
Tujuan PP
1.Mempercepat penyembuhan
2.Mencegah cacat
3.Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan
Kewajiban pelaku PP
1.Menjaga keseelamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya.
2.Dapat menjangkau penderita
3.Dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa.
4.Meminta bantuan / rujukan
5.Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat berdasarkan keadaaan korban
6.Membantu pelaku PP lainnya
7.Ikut menjaga kerahasiaan medis penderita
8.Melakukan komunikasi dengan petugas lain yang terlibat
9.Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi
Kualifikasi pelaku PP
1.Jujur dan bertanggung jawab
2.Berlaku professional
3.Kematangan emosi
4.Kemampuan bersosialisasi
5.Kemampuannya nyaa terukur sesuai sertifikasi
6.Kondisi fisik baik
7.Mempunyai rasa bangga
PMR identik dengan yang namanya ASSESSMENT...
tapi,, ap itu???
Secara garis besar langkah-langkahnya meliputi :
a.Penilaian keadaan
b.Penilaian dini
c.Pemeriksaan fisik
d.Riwayat penderita
e.Pemeriksaan berkala / lanjut
f.Pelaporan
Sumber kasih umat manusia
Warisan luhur, nusa dan bangsa
Wujud nyata pengayom Pancasila
Gerak juangnya keseluruh nusa
Mendarmakan bhakti bagi ampera
Tunaikan tugas suci tujuan PMI
Di Persada Bunda Pertiwi
Untuk umat manusia
Di seluruh dunia
PMI menghantarkan jasa
PP, ato lebih umumnya Pertolongan Pertama, adalah pemberian perawatan secara segera kepada penderita sakit / kecelakaan / cedera yang memerlukan penanganan medis dasar. lebih lanjut, silakan lihat penjelasan selanjutnya...
Para Penolong
1.Orang Awam
Kelompok yang tidak terlatih / memiliki sedikit pengetahuan PP / hanya meniru apa yang pernah dilihat atau didengarnya.
2.Penolong Pertama
Kualifikasi ini yang ingin dicapai oleh PMI.
3.Tenaga Khusus
Berupa tenaga yang dilath secara khusus untuk menanggulangi kedaruratan di lapangan seperti Paramedik dan sejenisnya.
Pertolongan Pertama
Pemberian perawatan segera kepada penderita sakit / cedera / kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar.
Medis dasar
Tindakan perwatan berdasarkan ilmu kedokteran yang dapat dimiliki oleh awam / awam terlatih secara khusus
Pelaku PP
Penolong yang pertama kali tiba di tempat kejadian yang memiliki kemampuan dan terlatih dalam penanganan medis dasar.
Tujuan PP
1.Mempercepat penyembuhan
2.Mencegah cacat
3.Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan
Kewajiban pelaku PP
1.Menjaga keseelamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya.
2.Dapat menjangkau penderita
3.Dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa.
4.Meminta bantuan / rujukan
5.Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat berdasarkan keadaaan korban
6.Membantu pelaku PP lainnya
7.Ikut menjaga kerahasiaan medis penderita
8.Melakukan komunikasi dengan petugas lain yang terlibat
9.Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi
Kualifikasi pelaku PP
1.Jujur dan bertanggung jawab
2.Berlaku professional
3.Kematangan emosi
4.Kemampuan bersosialisasi
5.Kemampuannya nyaa terukur sesuai sertifikasi
6.Kondisi fisik baik
7.Mempunyai rasa bangga
PMR identik dengan yang namanya ASSESSMENT...
tapi,, ap itu???
Secara garis besar langkah-langkahnya meliputi :
a.Penilaian keadaan
b.Penilaian dini
c.Pemeriksaan fisik
d.Riwayat penderita
e.Pemeriksaan berkala / lanjut
f.Pelaporan
Langkah – Langkah melakukan RJP
1. Posisikan penderita terlentang di atas dasar yang keras. Misalnya di Lantai jangan di kasur.
2. Bebaskan pakaian di sekitan dada penderita.
3. Posisikan diri penolong di sebelah kanan penderita. Upayakan senyaman mungakin. Kedua lutut dibuka kira – kira selebar bahu.
4. Tentukan pertemuan lengkung iga kiri dan kanan. Raba rusuk paling bawah geser sampai bertemu dengan rusuk sisi berlawanan.
5. Tentukan titik pijatan dari pertemua ke 2 rusuk tersebut diukur 2 jari ke atas pada garis tengah tulang dada.
6. Posisikan tangan penolong pada titik pijatan.
7. Bahu penolong harus tegak.
Pertolongan Pertama
1. Penilaian Keadaan (Leader)
Tahap ini dilakukan oleh si penolong untuk mengetahui keadaan baik si korban maupun mekanisme kejadian. Dalam melakukan penilaian keadaan ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu penolong melakukan analisa yaitu :
1. Menanyakan mekanisme kejadian
2. Menanyakan Jumlah korban
3. Menanyakan keadaan Lingkungan
2. Penilaian DINI (Leader)
a. Kesan umum
Pada langkah ini pertama – tama penolong harus menentukan apakah kasus yang dihadapi adalah kasus trauma atau kasus medis.
Kasus Trauma adalah kasus yang disebabkan oleh suatu ruda paksa. Mempunyai tanda-tanda yang jelas terlihat atau teraba.
Contoh : luka bakar, luka memar, patah tulang dll.
Kasus Medis adalah kasus yang diderita seseorang tanpa ada riwayat ruda paksa. Contoh: sesak nafas, pingsan,. Pada kasus ini penolong harus lebih berupaya mencari riwayat gangguannya. Misalnya meminta penderita itu sendiri, keluarganya bila di rumah atau saksi mata bila di luar rumah untuk menjelaskan keadaan penderita dari awal gejalanya sampai menjadi parah serinci mungkin.
(Ruda paksa adalah sejenis benturan.)
b. Memeriksa Respons
Respon seorang penderita adalah suatu cara sederhana untuk mendapatkan gambaran berat ringannya gangguan yang terjadi dalam otak.
Respon dinilai berdasarkan reaksi yang diberikan seorang penderita terhadap rangsang yang diberikan penolong. Respon penderita dibagi menjadi 4 tingkat yaitu Awas, Suara, Nyeri, Tidak Respon (ASNT)
A= awas
Penderita ini sadar dan mengetahui keberadaannya. Biasanya ditandai pasien tanggap terhadap orang, waktu, tempat serta namanya. Akan tetapi mungkin juga sebagian penderita terkesan sadar penuh namun tidak menyadari keadaan lingkungan dimana mereka berada.
S = Suara
Penderita dikatakan respon terhadap (rangsang) suara yang diberikan penolong jika :
Penderita hanya menjawab/bereaksi bila dipanggil atau mendengar suara
Penderita yang tidak dapat menjawab mengenai tempat dan waktu akan tetapi dapat mengikuti perintah sederhana.
Pada tahap ini penolong memberikan respon suara dengan cara menepuk bahu penderita dan tanyakan dengan suara lantang.
N = Nyeri
Penolong memberikan rangsangan berupa nyeri dengan cara cubitan kuat, penekanan ditengah tulang dada (bila tidak ada cedera dada). Bila penderita respons terhadap suara, maka rangsang nyeri ini tidak perlu dilakukan. Reaksi yang terlihat mungkin hanya membuka mata, erangan, melipat atau menjauhkan alat gerak, dan gerakan lainnya.
Pergelangan Tangan (pembuluh nadi pergelangan tangan/A.radialis)
Lipat Paha (pembuluh Nadi lipat paha/A.femoralis)
Caranya :
a. raba nadi yang akan diperiksa dengan telunjuk dan jari tengah. Jangan menggunakan ibu jari, karena ibu jari memiliki denyut nadi sendiri yang dapat mengganggu penilaian kita.
b. Apabila denyut nadi teratur, nadi diperiksa selama 15 detik, hasilnya dikali 4. apabila tidak teratur, maka harus dilakukan selama 60 detik.
I. Pemeriksaan Pernafasan
Letakan tangan anda/tangan penderita pada dada atau perutnya lalu amati gerakan naik turunnya. Satu pernapasan adalah satu kali menghirup nafas dan satu kali mengeluarkan napas. Pernapasan dihitung selama 30 detik kemudian dikali 2 untuk mendapatkan hasil 1 menit. Jangan sampai penderit mengetahui anda akan memeriksa napas. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kekeliruan dalam pemeriksaan.
II. Pemeriksaan suhu Tubuh
III. Warna kulit
IV. Pemeriksaan tekanan darah.
Bila ada alat penunjang yaitu Sfigmanometer (alat pengukur tekanan darah) tahap ini bisa dilakukan.
6. Periksa tulang belakang
Tahap ini dilakukan saat memindahkan penderita ke atas tandu atau papan spinal. Pemeriksaan dilakukan untuk mencari PLNB.
7. Evakuasi pasien
8. Pemeriksaaan Berkala.
Tulang rusuk (PLNB)
Perut
Kuadran atas kanan
Kuadran atas kiri
Kuadran bawah kanan
Kuadran bawah kiri
Panggul
(tekan dgn ke dua tangan kemudian gerakan )
Anggota gerak atas (Lengan)
Lengan Atas (PLNB)
Persendian (PLNB)
Lengan bawah (PLNB)
Telapak Tangan (GSS (gerakan sensasi sirkulasi)
Anggota Gerak Bawah (Tungkai)
Tungkai Atas (PLNB)
Persendian (PLNB)
Tungkai bawah (PLNB)
Telapak kaki (GSS (gerakan sensasi sirkulasi)
5. Periksa Tanda Vital
Denyut Nadi
Pernapasan
Kulit
Suhu Tubuh
Tekanan darah
I. Pemeriksaan denyut nadi
Nadi dapat diperiksa di :
Leher (Pembuluh nadi Leher/A. Karotis)
Lengan atas (Pembuluh nadi lengan atas/A. Brakialis) pada bayi
T = Tidak Respon
Jika penderita tidak bereaksi terhadap rangsang apapun maka orang itu dinyatakan tidak respon. Seorang penderita yang tidak sadar pasti memerlukan penanganan jalan nafas. Dan penatalaksanaan lainnya.
c. Membuka Jalan Nafas (Leader)
Ada dua cara untuk membuka jalan nafas
ADTD (Angkat Dagu Tekan Dahi) untuk pasien Respon
Caranya :
1. Letakkan tangan kiri anda pada dahi penderita.
2. Tekan dahi sedikit mengarah kebelakang.
3. Letakan ujung jari tangan kanan dibawah bagian ujung tulang rahang bawah.
4. Angkat dagu ke depan. (lakukan gerakan ini bersamaan tekan dahi)
5. Pertahankan tangan di dahi penderita untuk menjaga posisi kepala tetap ke belakang.
6. Buka mulut penderita dengan ibu jari tangan yang menekan dagu.
Jawtrust, untuk pasien tidak Respon.
Caranya :
1. Berlutut di sisi atas kepala penderita. Letakan kedua siku penolong sejajar dengan posisi penderita. Kedua tangan memegang sisi kepala.
2. Kedua sisi rahang dipegang (jika pasien anak kecil/bayi gunakan 2 atau 3 jari pada sisi rahang bawah)
3. Gunakan kedua tangan untuk menggerakan rahang bawah ke posisi depan secara perlahan. Gerakan ini mendorong lidah ke atas sehingga jalan nafas terbuka
4. Pertahankan posisi pasien tetap terbuka.
*Jangan lupa untuk memeriksa mulut penderita terutama yang mengalami penurunan respon/tidak ada respon. Apakah ada suatu benda yang dapat menyumbat saluran nafas.(sisa makanan, gigi palsu dll).
Jika penolong datang dengan tim. Maka lakukan perintah:
Nilai Pernafasan
Cek nadi
Tanya Saksi
Hubungi Bantuan
Siapkan Pertolongan.
d. Menilai Pernafasan (pemerikasa fisik)
Nilai pernafasan si korban dengan LDR (Lihat Dengar Rasakan) nilai selama 3 – 5 detik.
Caranya : letakan tangan penolong di atas perut Korban sedangkan posisi kepala ada di atas mulut si korban dengan mengarahkan telinga diatasnya. Dilihat apakah ada tanda-tanda pernafasan di perutnya. Didengar apakah ada hembusan nafasnya. Dirasakan nafasnya ada atau tidak.
Jika si korban tidak terlihat tanda-tanda bernafas, maka
Berikan nafas awal 2 kali.
*Cek nadi karotis (pada Leher). Selama 5 – 10 detik.
Jika nadi tidak ada, maka lakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru).
Berikan nafas 2 kali
LDR (apakah nafasnya ada atau tidak)
Jika tidak ada nafas Maka (back to* sampai nafasnya ada. Jika tidak di temukan korban benafas maka penolong bisa langsung membawanya ke tim medis. Dan tidak perlu melanjutkan pertolongan. Akan tetapi jika korban masih benafas, maka penolong bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.
e. Periksa pendarahan
Raba seluruh bagian tubuh si korban, apakah ada pendarahan terjadi atau tidak. Bagiannya adalah sebagai berikut :
a. Kepala g. Panggul
b. Leher h. Lengan
c. Tulang selangka i. Tungkai
d. Dada
e. Tulang rusuk
f. Perut
f. Periksa Fisik
Raba seluruh bagian tubuh si korban, apakah ada luka patah tulang atau pendarahan lainnya. Bagian yang diperiksa adalah sbb:
Kepala
Tengkorak bawah
Tengkorak atas
Dahi
Mata (pupil, bola mata, warna mata)
Tulang hidung (lubang hidung)
Pipi
Tulang rahang
Mulut (pangkal tenggorokan, Lidah, Gigi) ada cairan yang terlihat atau tidak
Telinga (daun telinga, Lubang telinga) ada cairan yang terlihat atau tidak
Leher
Tulang belakang leher (PLNB)
Pembuluh (ada pembesaran pada pembuluh/tidak)
Tenggorokan (ada pembengkokan pada tenggorokan/tidak)
Bahu
Tulang selangka
Dada (keseimbangannya)
1. Posisikan penderita terlentang di atas dasar yang keras. Misalnya di Lantai jangan di kasur.
2. Bebaskan pakaian di sekitan dada penderita.
3. Posisikan diri penolong di sebelah kanan penderita. Upayakan senyaman mungakin. Kedua lutut dibuka kira – kira selebar bahu.
4. Tentukan pertemuan lengkung iga kiri dan kanan. Raba rusuk paling bawah geser sampai bertemu dengan rusuk sisi berlawanan.
5. Tentukan titik pijatan dari pertemua ke 2 rusuk tersebut diukur 2 jari ke atas pada garis tengah tulang dada.
6. Posisikan tangan penolong pada titik pijatan.
7. Bahu penolong harus tegak.
Pertolongan Pertama
1. Penilaian Keadaan (Leader)
Tahap ini dilakukan oleh si penolong untuk mengetahui keadaan baik si korban maupun mekanisme kejadian. Dalam melakukan penilaian keadaan ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu penolong melakukan analisa yaitu :
1. Menanyakan mekanisme kejadian
2. Menanyakan Jumlah korban
3. Menanyakan keadaan Lingkungan
2. Penilaian DINI (Leader)
a. Kesan umum
Pada langkah ini pertama – tama penolong harus menentukan apakah kasus yang dihadapi adalah kasus trauma atau kasus medis.
Kasus Trauma adalah kasus yang disebabkan oleh suatu ruda paksa. Mempunyai tanda-tanda yang jelas terlihat atau teraba.
Contoh : luka bakar, luka memar, patah tulang dll.
Kasus Medis adalah kasus yang diderita seseorang tanpa ada riwayat ruda paksa. Contoh: sesak nafas, pingsan,. Pada kasus ini penolong harus lebih berupaya mencari riwayat gangguannya. Misalnya meminta penderita itu sendiri, keluarganya bila di rumah atau saksi mata bila di luar rumah untuk menjelaskan keadaan penderita dari awal gejalanya sampai menjadi parah serinci mungkin.
(Ruda paksa adalah sejenis benturan.)
b. Memeriksa Respons
Respon seorang penderita adalah suatu cara sederhana untuk mendapatkan gambaran berat ringannya gangguan yang terjadi dalam otak.
Respon dinilai berdasarkan reaksi yang diberikan seorang penderita terhadap rangsang yang diberikan penolong. Respon penderita dibagi menjadi 4 tingkat yaitu Awas, Suara, Nyeri, Tidak Respon (ASNT)
A= awas
Penderita ini sadar dan mengetahui keberadaannya. Biasanya ditandai pasien tanggap terhadap orang, waktu, tempat serta namanya. Akan tetapi mungkin juga sebagian penderita terkesan sadar penuh namun tidak menyadari keadaan lingkungan dimana mereka berada.
S = Suara
Penderita dikatakan respon terhadap (rangsang) suara yang diberikan penolong jika :
Penderita hanya menjawab/bereaksi bila dipanggil atau mendengar suara
Penderita yang tidak dapat menjawab mengenai tempat dan waktu akan tetapi dapat mengikuti perintah sederhana.
Pada tahap ini penolong memberikan respon suara dengan cara menepuk bahu penderita dan tanyakan dengan suara lantang.
N = Nyeri
Penolong memberikan rangsangan berupa nyeri dengan cara cubitan kuat, penekanan ditengah tulang dada (bila tidak ada cedera dada). Bila penderita respons terhadap suara, maka rangsang nyeri ini tidak perlu dilakukan. Reaksi yang terlihat mungkin hanya membuka mata, erangan, melipat atau menjauhkan alat gerak, dan gerakan lainnya.
Pergelangan Tangan (pembuluh nadi pergelangan tangan/A.radialis)
Lipat Paha (pembuluh Nadi lipat paha/A.femoralis)
Caranya :
a. raba nadi yang akan diperiksa dengan telunjuk dan jari tengah. Jangan menggunakan ibu jari, karena ibu jari memiliki denyut nadi sendiri yang dapat mengganggu penilaian kita.
b. Apabila denyut nadi teratur, nadi diperiksa selama 15 detik, hasilnya dikali 4. apabila tidak teratur, maka harus dilakukan selama 60 detik.
I. Pemeriksaan Pernafasan
Letakan tangan anda/tangan penderita pada dada atau perutnya lalu amati gerakan naik turunnya. Satu pernapasan adalah satu kali menghirup nafas dan satu kali mengeluarkan napas. Pernapasan dihitung selama 30 detik kemudian dikali 2 untuk mendapatkan hasil 1 menit. Jangan sampai penderit mengetahui anda akan memeriksa napas. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kekeliruan dalam pemeriksaan.
II. Pemeriksaan suhu Tubuh
III. Warna kulit
IV. Pemeriksaan tekanan darah.
Bila ada alat penunjang yaitu Sfigmanometer (alat pengukur tekanan darah) tahap ini bisa dilakukan.
6. Periksa tulang belakang
Tahap ini dilakukan saat memindahkan penderita ke atas tandu atau papan spinal. Pemeriksaan dilakukan untuk mencari PLNB.
7. Evakuasi pasien
8. Pemeriksaaan Berkala.
Tulang rusuk (PLNB)
Perut
Kuadran atas kanan
Kuadran atas kiri
Kuadran bawah kanan
Kuadran bawah kiri
Panggul
(tekan dgn ke dua tangan kemudian gerakan )
Anggota gerak atas (Lengan)
Lengan Atas (PLNB)
Persendian (PLNB)
Lengan bawah (PLNB)
Telapak Tangan (GSS (gerakan sensasi sirkulasi)
Anggota Gerak Bawah (Tungkai)
Tungkai Atas (PLNB)
Persendian (PLNB)
Tungkai bawah (PLNB)
Telapak kaki (GSS (gerakan sensasi sirkulasi)
5. Periksa Tanda Vital
Denyut Nadi
Pernapasan
Kulit
Suhu Tubuh
Tekanan darah
I. Pemeriksaan denyut nadi
Nadi dapat diperiksa di :
Leher (Pembuluh nadi Leher/A. Karotis)
Lengan atas (Pembuluh nadi lengan atas/A. Brakialis) pada bayi
T = Tidak Respon
Jika penderita tidak bereaksi terhadap rangsang apapun maka orang itu dinyatakan tidak respon. Seorang penderita yang tidak sadar pasti memerlukan penanganan jalan nafas. Dan penatalaksanaan lainnya.
c. Membuka Jalan Nafas (Leader)
Ada dua cara untuk membuka jalan nafas
ADTD (Angkat Dagu Tekan Dahi) untuk pasien Respon
Caranya :
1. Letakkan tangan kiri anda pada dahi penderita.
2. Tekan dahi sedikit mengarah kebelakang.
3. Letakan ujung jari tangan kanan dibawah bagian ujung tulang rahang bawah.
4. Angkat dagu ke depan. (lakukan gerakan ini bersamaan tekan dahi)
5. Pertahankan tangan di dahi penderita untuk menjaga posisi kepala tetap ke belakang.
6. Buka mulut penderita dengan ibu jari tangan yang menekan dagu.
Jawtrust, untuk pasien tidak Respon.
Caranya :
1. Berlutut di sisi atas kepala penderita. Letakan kedua siku penolong sejajar dengan posisi penderita. Kedua tangan memegang sisi kepala.
2. Kedua sisi rahang dipegang (jika pasien anak kecil/bayi gunakan 2 atau 3 jari pada sisi rahang bawah)
3. Gunakan kedua tangan untuk menggerakan rahang bawah ke posisi depan secara perlahan. Gerakan ini mendorong lidah ke atas sehingga jalan nafas terbuka
4. Pertahankan posisi pasien tetap terbuka.
*Jangan lupa untuk memeriksa mulut penderita terutama yang mengalami penurunan respon/tidak ada respon. Apakah ada suatu benda yang dapat menyumbat saluran nafas.(sisa makanan, gigi palsu dll).
Jika penolong datang dengan tim. Maka lakukan perintah:
Nilai Pernafasan
Cek nadi
Tanya Saksi
Hubungi Bantuan
Siapkan Pertolongan.
d. Menilai Pernafasan (pemerikasa fisik)
Nilai pernafasan si korban dengan LDR (Lihat Dengar Rasakan) nilai selama 3 – 5 detik.
Caranya : letakan tangan penolong di atas perut Korban sedangkan posisi kepala ada di atas mulut si korban dengan mengarahkan telinga diatasnya. Dilihat apakah ada tanda-tanda pernafasan di perutnya. Didengar apakah ada hembusan nafasnya. Dirasakan nafasnya ada atau tidak.
Jika si korban tidak terlihat tanda-tanda bernafas, maka
Berikan nafas awal 2 kali.
*Cek nadi karotis (pada Leher). Selama 5 – 10 detik.
Jika nadi tidak ada, maka lakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru).
Berikan nafas 2 kali
LDR (apakah nafasnya ada atau tidak)
Jika tidak ada nafas Maka (back to* sampai nafasnya ada. Jika tidak di temukan korban benafas maka penolong bisa langsung membawanya ke tim medis. Dan tidak perlu melanjutkan pertolongan. Akan tetapi jika korban masih benafas, maka penolong bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.
e. Periksa pendarahan
Raba seluruh bagian tubuh si korban, apakah ada pendarahan terjadi atau tidak. Bagiannya adalah sebagai berikut :
a. Kepala g. Panggul
b. Leher h. Lengan
c. Tulang selangka i. Tungkai
d. Dada
e. Tulang rusuk
f. Perut
f. Periksa Fisik
Raba seluruh bagian tubuh si korban, apakah ada luka patah tulang atau pendarahan lainnya. Bagian yang diperiksa adalah sbb:
Kepala
Tengkorak bawah
Tengkorak atas
Dahi
Mata (pupil, bola mata, warna mata)
Tulang hidung (lubang hidung)
Pipi
Tulang rahang
Mulut (pangkal tenggorokan, Lidah, Gigi) ada cairan yang terlihat atau tidak
Telinga (daun telinga, Lubang telinga) ada cairan yang terlihat atau tidak
Leher
Tulang belakang leher (PLNB)
Pembuluh (ada pembesaran pada pembuluh/tidak)
Tenggorokan (ada pembengkokan pada tenggorokan/tidak)
Bahu
Tulang selangka
Dada (keseimbangannya)
Langganan:
Postingan (Atom)